Ketegaran Sang Penangkal Petir

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Saya sedang mencari rumput untuk domba-domba saya ketika petir 
menyambar-nyambar dilahan pertanian itu. Rumpun padi yang tengah 
menguning memantulkan cahaya yang berkilat-kilat dari langit. Gelegar 
sang halilintar membuat hati bergetar. Sosoknya laksana taring bara 
api yang hendak melumat siapa saja yang bisa dia sambar. Saya, dalam 
segenap debaran jantung, hanya bisa tiarap, sambil bersembunyi disela-
sela rumpun padi. Berharap agar sang kilat tidak berhasil menemukan 
tempat persembunyian itu. 

Dikampung saya, petir sering menyambar pucuk-pucuk pohon kelapa yang 
menjulang tinggi. Oleh karenanya, tidak heran jika disana-sini banyak 
pohon kelapa yang ujungnya terpancung dengan warna kehitaman berbau 
hangus. Seketika itu sang pohon kelapa menjadi mati. Dikota tempat 
kita tinggal, sudah tidak banyak lagi pohon-pohon yang tinggi, 
sehingga kita tidak memiliki perisai alami untuk menghindari sambaran 
petir. Karena itu, kita membuat alat buatan untuk menangkalnya. Kita 
menyebutnya penangkal petir. Ketika petir menyambar, kekuatan 
dahsyatnya tersalurkan melalui kabel, lalu dinetralisir oleh bumi. 
Dengan begitu, sang halilintar seakan kehilangan keganasannya. Tak 
peduli betapa kuatnya dia menggelegar, bumi menetralisir 
keperkasaannya.

Petir itu seperti pahit dan getir dalam hidup. Bagaikan cuaca yang 
tidak selamanya indah, kadang kehidupan kita juga diselimuti mendung 
sembari diselingi bunyi petir. Kadang-kadang, kita dihadapkan pada 
situasi yang tidak kita inginkan. Namun, begitulah adanya hidup. 
Kadang cerah, kadang mendung. Kadang indah, kadang membuat kita 
gelisah. 

Jika kita menggunakan penangkal petir untuk melindungi diri dari 
sambaran kilat sang halilintar, apakah gerangan yang bisa kita 
gunakan untuk melindungi diri dari rasa perih tantangan hidup? 
Diladang pertanian, kami memiki cara unik untuk melakukannya. Dan 
kami menyebutnya sebagai 'hariring', yaitu lagu yang dinyanyikan 
tanpa iringan musik.  Karena kata `kuring' dalam bahasa kami 
berarti `saya', maka 'hariring kuring' mengandung makna, 'nyanyian 
untuk diri sendiri'. 

Kami menyanyikan hariring kuring ketika sedang merawat tanaman atau 
membajak sawah dengan menggunakan kerbau penarik bajak untuk 
menggemburkan tanah. Kami menyebutnya nyingkal atau ngagaru. Artinya, 
membolak-balik dan meratakan tanah sehingga tanaman menjadi mudah 
untuk tumbuh dengan subur.  

Pak Tani tidak pernah menyanyikan lagu tentang kesedihan atau 
keluhan. Lagu yang di-hariring-kannya adalah lagu tentang rasa syukur 
dan semangat kerja yang  membara. Atau tentang do'a dan pengharapan. 
Tentang mimpi yang indah. Tentang panen yang melimpah. Tetang tanaman 
yang tumbuh subur. Tentang buah-buahan yang ranum. Tentang sesuatu 
yang menyenangkan selama mengolah tanah di ladang. Pendek kata, 
tentang kebahagiaan hidup yang dicita-citakan. 

Cobalah Anda  simak salah satu bait syair Hariring kuring berikut 
ini: Ari hirup geuning/Endahna ning  tanpa tanding/Omat ulah dimurah 
mareh/Mun seug datang wanci magrib/Waktuna urang areureun/Mangsana 
srangenge hudang/Waktuna urang  nguniang

Melalui bait itu, Pak Tani sedang berujar:Kehidupan ini 
sesungguhnya/Teramat indah untuk dicarikan padanannya/Ingatlah, 
jangan sampai disia-siakan/Bila senja telah tiba/Saatnya kita untuk 
menikmati malam/Dan ketika matahari pagi mulai bersinar lagi/Itulah 
saatnya bagi kita untuk bangkit kembali

Hariring kuring itu seperti PENANGKAL PETIR. Dia mampu menghidarkan 
sebuah bangunan tinggi dari sambaran petir di tengah hujan badai. 
Hariring kuring juga bagaikan antibodi, yang siap melawan berbagai 
penyakit yang berusaha menerobos ke dalam sistem pertahanan tubuh 
kita. Hariring kuring, adalah pranata yang berguna untuk melindungi 
jiwa dan batin kita dalam menghadapi situasi sulit.

Anda juga bisa membuat hariring semacam itu. Caranya, jika Anda 
merasakan kebahagiaan yang sangat menyenangkan, buatkanlah sebuah 
hariring kuring untuk diri Anda sendiri. Dan bila suatu ketika Anda 
sedang bersedih hati, netralkanlah kesedihan itu dengan hariring itu. 
Maka Anda akan kembali kepada suasana  yang indah itu.  Pilihlah 
sebuah lagu yang memiliki kenangan manis bagi Anda. Misalnya, lagu 
yang mengingatkan bunyi deru ombak di pantai ketika sedang berlibur 
dimasa-masa yang indah disana. Sekali waktu, biarlah lagu itu 
mengumandang di ruang kerja Anda. Bukankah serta merta Anda bisa 
mengingat kembali saat-saat indah di pantai itu? Dinding beton kantor 
tidak bisa menghalangi Anda melanglang buana ke alam kenangan itu, 
bukan ?

Lagu itu sudah menjadi hariring bagi Anda. Dan Anda bisa 
menggunakannya kapan saja Anda butuh. Dia akan selalu mengingatkan 
Anda kepada saat-saat yang paling indah dalam hidup Anda. Sehingga 
kegundahan hati dapat segera dinetralisir, seperti kilat yang 
dinetralkan penangkal petir. Penangkal petir mengajari kita cara 
mengelola perasaan dan gejolak hati. Sehingga kita mempunyai daya 
tahan yang sangat tinggi ketika menghadapi hujan dan badai. Karenanya 
kita menjadi lebih kuat. Dan kita selalu mendapatkan jalan keluar 
setiap kali cobaan menghimpit.

Di telinga saya, Hariring kuring masih saja terngiang-ngiang. Seperti 
halnya Anda  yang merasakan deru ombak ketika mendengarkan lagu itu, 
saya tidak bisa melepaskan nostalgia yang melekat pada hariring-
hariring yang pernah saya kenal. Ini membantu saya untuk dapat 
menetralisir tantangan yang dihadapi sehari-hari. Sehingga, saya 
masih bisa mencium aroma rumput hijau di ladang pertanian kami. 
Pernahkah Anda mencium aroma rumput yang baru dipotong? Seperti 
itulah wanginya. Saya juga masih bisa  merasakan belaian angin lembut 
yang memanjakan kulit wajah.  Saya yakin, Anda  juga memiliki lagu 
kenangan yang serupa, bukan? 

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki: 
Hidup merupakan perpaduan antara warna dan warni. Selama kita bisa 
menikmatinya, komposisi apapun yang terbentuk akan tetap menjadi 
lukisan yang indah. 


Kirim email ke