*Mengajar: Cara Terbaik Untuk Belajar*

*Read More*? http://indonesianlpsociety.org

*Join the Community*? [EMAIL PROTECTED]

*Upcoming Event*? *NLP 4 Teachers, 13-14 Desember 2008*



Saya sungguh bersyukur. Sudah tidak terhitung berapa kali saya bisa menjadi
sobat belajar di berbagai pelatihan sejak pertama kali mendirikan milis
Indonesia NLP Society. Bersyukur bukan hanya karena beberapa di antaranya
menghadirkan kompensasi finansial yang amat layak, namun juga ada hal lain
yang jauh lebih penting.

Saya teringat dengan sebuah pepatah yang mengatakan, "Saat sang murid siap,
sang guru akan datang." Sebuah pepatah yang pertama kali saya dengar
bertahun-tahun yang lalu, namun baru bisa saya pahami beberapa waktu
belakangan, terutama setelah saya menyelami dunia NLP.

Ya, saya sempat merumuskan sebuah tujuan untuk mempelajari NLP sedalam dan
seluas yang saya bisa. Pada awalnya, sempat timbul keraguan apakah saya akan
mampu mengumpulkan dana yang cukup untuk bisa belajar secara langsung dengan
mengikuti pelatihan. Namun segera saja keraguan itu sirna, ketika
perlahan-lahan, langkah demi langkah, potongan-potongan jalan menuju tujuan
tersebut terkumpul satu demi satu.

Bagaimana bisa?

Tentu bisa!

Caranya?

Sebanyak mungkin mengajari orang yang belum tahu.

Kok?

Ya karena "Saat sang murid siap, sang guru akan datang."

Apa hubungannya?

Begini. Saya memahami pepatah itu dari beberapa sisi. Satu sisi, saya sempat
takjub ketika awal-awal memberanikan diri untuk membuka kelas NLP publik.
Betapa tidak, untuk ukuran seseorang yang masih bau kencur baik dari sisi
usia, pengalaman, maupun ilmu NLP itu sendiri, rupanya tetap ada rekan-rekan
yang bersedia hadir untuk ikut di dalam kelas publik yang saya adakan. Belum
lagi ketika entah dari mana datangnya, beberapa perusahaan pun mengkontak
dan meminta saya untuk berbagi ilmu NLP yang dapat diterapkan di perusahaan.
Keraguan sempat muncul, apakah saya cukup layak untuk mengajari mereka?
Apalagi, hampir dari separuh peserta adalah orang-orang yang jauh lebih
senior daripada saya. Namun rupanya keraguan saya tidak beralasan.
Setidaknya sampai saat ini, saya belum pernah menemukan kelas saya diisi
oleh orang-orang yang malas belajar. Mereka yang saya asumsikan senior itu
rupanya mau dengan rendah hati membuka hati dan pikiran untuk hal-hal baru
yang belum pernah mereka pelajari sebelumnya.

Sebuah kesimpulan pun saya dapatkan, "Jika Tuhan mentakdirkan ada peserta
yang hadir dalam kelas saya, siapapun dia, berarti saya memang memiliki
sesuatu yang akan bermanfaat bagi mereka." Nah, kalau sudah begini, maka
tidak ada lagi alasan untuk tidak segera membagikan ilmu yang saya miliki,
sebab pasti ada orang-orang yang akan menarik manfaatnya.

Sisi lain, mengajar orang lain rupanya merupakan pengalaman yang amat
berharga, sebab setiap kelas selalu menghadirkan pembelajaran baru bagi
saya. Ya, saya juga sudah tidak bisa menghitung berapa banyak ide dan
pemahaman baru yang saya peroleh begitu ajaib saat mengajar atau
mendemonstrasikan NLP kepada para peserta. Tidak mengherankan, sebab dalam
posisi sebagai fasilitator atau trainer, saya tentu berada dalam kondisi
disasosasi alias meta-position, yang memungkinkan saya untuk bisa melihat,
mendengar, dan merasakan dengan lebih obyektif pemahaman dan praktik yang
saya lakukan selama ini. Sebuah pengalaman yang berbeda dengan berlatih dan
mempraktikkan NLP, yang merupakan proses asosiasi terhadap materi yang
sedang kita pelajari.

Kesimpulan berikutnya pun saya dapatkan, "Ternyata, saya belajar banyak
ketika mengajar, sebanyak ketika saya menjadi murid dan mempraktikkan
pelajaran saya." Nah, semakin tidak ada alasan deh untuk tidak sebanyak
mungkin berbagi ilmu kepada siapa saja yang mau saya bagi.

Di titik inilah, saya pun jadi memahami, mengapa Tuhan seolah membukakan
jalan bagi saya untuk begitu mudahnya mendapatkan kesempatan untuk
memperdalam NLP, melalui sumber dan jalan yang tidak saya duga-duga. Ya, ada
ilmu-ilmu yang hanya bisa saya pahami ketika saya telah memahami ilmu yang
menjadi syaratnya. Dan, ilmu-ilmu syarat tersebut, seringkali
'disembunyikan', dan hanya kita bisa temukan setelah kita membuka kuncinya.
Ada kunci yang letaknya di membaca buku, ada yang di berguru secara
langsung, ada yang melalui praktik, dan ada yang melalui mengajar orang
lain.

Nah, di sini lah, di anak tangga ketika saya sudah membuka kunci melalui
berbagi dengan orang lain, saya pun 'siap' untuk menerima pembelajaran
selanjutnya. Dan di sini pulalah, jalan untuk belajar dari guru yang saya
inginkan, terbuka.

Maka saya tidak lagi khawatir apakah saya akan bisa belajar dari guru-guru
NLP di seluruh penjuru dunia, seperti yang pernah saya rumuskan dalam tujuan
saya. Cukup saya lakukan yang terbaik untuk belajar dan mengajar orang
tentang NLP. Dan ketika saya siap, pasti jalan itu akan terbuka untuk saya.
Dengan mudah, dan menyenangkan.

Hmm...bisa jadi Anda memiliki cara dan jalan yang berbeda. Mengapa tidak
kita saling berbagi kisah perjalanan kita?


-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>

Kirim email ke