Jumat, 2008 Desember 05

*Belajar Corporate Culture dari Kaltim Industrial Estate*
by Made Teddy Artiana, S. Kom
 *IT Analist, photographer & writer*

tulisan ini dapat juga Anda baca di :
http://weddingmustoryku.blogspot.com/2008/12/pengalaman-seru-di-bontang-sana.html


Motret untuk sebuah company profile, tentunya pengalaman yang berbeda dengan
motret wedding. Motret company profile, kita mau tidak mau akan berurusan
dengan berbagai prosedur dan birokrasi, apalagi instansi pemerintah. Mahluk
bernama 'birokrasi' aneh kalau nggak ada. Belum lagi mahluk lain bernama
arogansi kekuasaan, yang kadang bisa terasa dingin sedingin kulkas lima
pintu. Namanya juga perusahaan, harap maklum, begitu kata orang menghibur
diri. Tetapi pengalaman ku kali ini bertutur sama sekali lain. Sama-sama
company profile, sama-sama birokrasi dan sama-sama berurusan dengan
kekuasaan dan para petinggi, namun amat sangat berbeda. Bak ikan walaupun
hidup di laut, belum tentu rasanya sama.

KIE (Kaltim Industrial Estate) sebuah perusahaan pengelola lingkungan
industri yang juga merupakan anak perusahaan Pupuk Kaltim di daerah Bontang
Kalimantan Timur, mengundang kami untuk pengambilan foto company profile
perusahaan mereka. Semula –kalau boleh jujur- aku membayangkan akan bertemu
kekakuan birokrasi, dinginnya kekuasaan dan mahluk-mahluk sejenis. Tetapi
disini binatang-binatang itu seolah tidak hidup subur. Pengambilan foto di
sana tak ubahnya bagaikan pergi berlibur dan bertemu dengan teman lama.
Bukan hanya karena Astrie, salah seorang staff KIE, mentraktir kami,
kepiting-kepiting lezat, sebesar kepala yang lezat bukan kepalang. Bukan
juga semata-mata karena Mara, maskot KIE.(sorry ya Mar..becanda), mengajak
kami ke Bontang Kuala dengan kayu-kayunya yang unik, bukan pula karena
ternyata yang namanya orang Jawa adalah mayoritas disana dan pendeknya bukan
karena segala yang berurusan dengan perut dan mata – yang tidak disangkal
memang penting juga- tetapi justru karena bertemu dengan manusia-manusia
hangat, bersahabat namun profesional, yang membuat jiwa ini mendapat makanan
sepuasnya. Semangat friendship sekaligus profesional seolah mengalir deras
didenyut perusahaan itu. Direktur makan semeja dengan staff biasa, bahkan
menyantap menu yang sama, tanpa membuat bawahan kehilangan rasa hormat pada
atasannya. Gurauan-gurauan segar mengalir alamiah, tanpa merusak semangat
kerja dan target pencapaian yang ditetapkan perusahaan. Petinggi-petinggi
yang cerdas terlihat sukses memanage, tanpa harus memasang 'taring
menyeramkan' berlabel kekuasaan, hanya untuk sebuah pengaruh. Bahkan dalam
sebuah sessi foto kami sempat berkunjung kesalah seorang komisaris KIE di
ruangan kantor beliau. Disinipun kami menjumpai penerimaan yang cukup ramah
yang agaknya susah didapat dari seorang komisaris sebuah perusahaan besar
pada umumnya.

Demikian juga untuk issue pengamanan dan standard safety, sepertinya tidak
ada yang perlu dipermasalahkan. Satu hal yang membuat kami terheran-heran
adalah ketika menyaksikan situasi jalanan, pabrik, environment bahkan
keadaan mobil kantor (Mas Ali..sang driver yang luar biasa) yang teratur
rapi dan amat sangat bersih. Sepertinya mata kita akan susah untuk menemukan
sampah teronggok liar ditepi jalanan. Nggak usah jauh-jauh. Cobalah
berkunjung ke kantin mereka yang bersih, kita akan merasakan masakan rumah
yang enak dan nyaman. Bahkan pada saat masuk ruangan kantor mereka, aku
pribadi sempat terheran-heran menyaksikan kebersihan dan keteraturan yang
kami temui. Tidak ada selentingan bau rokok atau debu yang menyelinap masuk
kelubang hidung. Mejapun berantakan sewajarnya, sebagaimana layaknya meja
kerja kita-kita. Pengaturan ruangan meeting yang mengesankan. Nyaris ideal.
Memang bukan hal yang mudah tentunya, tetapi bukan mustahil. Siapapun yang
mempunyai sepasang mata dan segumpal otak kepala yang bekerja normal, akan
sepakat, bahwa semuanya itu tidak jatuh dari langit, laksana Mr. Bean,
tetapi merupakan usaha terus menerus yang tentunya membutuhkan leadership
yang kuat, dan juga teamwork yang hebat. *Dan sepertinya –tanpa kesan
melebih-lebihkan- KIE memilikinya. Dan sepertinya –tanpa bermaksud
menakut-nakuti- KIE punya tugas berat mempertahankannya*.

Diluar itu semua, ada sebuah pengalaman menggelikan yang terjadi pada waktu
pemotretan berlangsung. Sebelum pemotretan kami dipanggil oleh salah seorang
manajer disana. Beliau menerangkan berbagai hal yang amat sangat perlu kami
perhatikan, jika kami berada disebuah lingkungan industri. Singkatnya ada 2
hal yang perlu kami perhatikan, yang pertama : bencana industri, kedua..ini
yang tidak kalah menyeramkan dari yang pertama…adalah "buaya". Begitu nama
hewan reptil itu disebut, sang manajer tersenyum penuh arti. "Yang saya
maksud adalah buaya…sebenar-benarnya", kata beliau menegaskan. Glek. Darah
ku seakan berhenti mengalir sesaat. Buaya beneran !!! Kini ganti aku dan
team yang tersenyum. Tersenyum kecut. Sementara beliau tertawa
terbahak-bahak. Induction selesai dan kamipun mulai bertugas. Jujur pada
saat itu yang berada dikepalaku hanya lima huruf : b-u-a-y-a. Terlebih pada
saat menijau sebuah proyek yang sedang dikerjakan oleh KIE. Mesin-mesin
besar tampak menggaruk-garuk tanah. Sementara beberapa truk-truk silih
berganti mengangkut tanah itu bergantian. Ban-ban mereka yang besar dan
bergigi meninggalkan guratan-guratan ditanah yang bergelombang kecoklatan.
Ketika sedang asyik memotret tiba-tiba mataku terarah ke motif
guratan-guratan tanah itu, dan khayalanku tentang buayapun datang menguat.
Bagaimana jika seandainya diantara tanah-tanah itu 'nyempil' sosok kasar
berbuntut itu. Nggak usah banyak..satu aja.Grrrrr mengerikan. Jujur, kalau
saja saat itu aku tidak ditemani Pak Lulut, personnel KIE yang sabar dan tak
kenal lelah mengantarku keberbagai lokasi, sudah dapat dipastikan aku akan
secepat mungkin memotret lokasi ini dan langsung melesat ketempat lain. Yang
lucu ketika aku melintas disebuah jembatan, di lokasi pengapalan. Seorang
crew ku yang berada di ujung jembatan itu tiba-tiba berteriak histeris dari
kejauhan, sambil menunjuk-nunjuk kearah bawah. Suaranya yang tidak jelas
karena jarak kami berdua cukup jauh, disamping masker yang menutupi mulut
kami, membuat aku –yang kebetulan berada persis ditengah jembatan panik
setengah mati. Ya Tuhan..buaya !! Memang, kontan yang terlintas dikepalaku
waktu itu hanya satu. Tanpa menunggu hitungan kedua, apalagi ketiga, aku
ngibrit menghampiri dia, mencopot masker diwajahku sambil terengah-engah,
bertanya apa yang ia lihat. Dengan heboh crew ku – yang kebetulan orang
tuanya adalah pedagang ikan di Muara Karang- menunjuk kearah bawah jembatan,
sambil berteriak dengan mata berbinar-binar…"Mas…itu Mas coba
lihat…dibawah….ada ikan kembung…banyak sekali..gemuk-gemuk !!!!!". Aku hanya
bisa melongo menyaksikan tingkahnya "Geblek! Kirain buaya…nggak tahunya
cuman ikan kembung." Gerutuku jengkel.

(Terima kasih banyak untuk
Pak Dono "yang baik hati.....................",
Pak Wawan "Ketawanya..he..he..",
Pak Richard "Jasnya…marahin Astri Pak..",
Pak Harsono & Pak Hardito "senyumnya model banget",
Pak Benny "hati-hati buaya",
Haris Bank Mandiri "kapan kita masuk hutan ngelengkapin koleksi kantung
semar ?",
Astrie "Entah Apa Jadinya Kalau Tidak Ada Dirimu...Eh jangan nyetir sendiri
ya Jeng",
Pak Lulut "Sepatunya bikin leceet kaki boss",
Mara "Jomblo",
Ali "terasi pilihan elu mantap",
Mbah Darmo,
Pak Sueb "Sang Penerobos",
Masni "semoga jangan ketemu waktu delay lagiiii",..
dan semua..semua..semua….)

*...............sebuah kritik untuk Mandala Airlines yang membiarkan kami
dan para penumpang lain *
*di Balikpapan 23 oktober 2008, terlantar menunggu dari jam 12.00 hingga jam
17.30.....................*
*Benar-benar bukan sebuah prestasi untuk nama besar Mandala Airlines*
*Semoga Mandala Airlines memperbaiki diri... *

***

Kirim email ke