Wah, jadi kepikiran sesuatu nih setelah ada posting-nya Kang Sopa. Soal posisi duduk. Karena pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan, maka posisi duduk akan sangat berpengaruh terhadap kondisi pikiran-perasaan (alias state) yang kita inginkan dalam mendengarkan khutbah. Coba saja ingat2, terakhir kali merasa ngantuuuuuuuk banget pas mendengar khutbah. Pastilah posisi duduk kita memang menunjang untuk munculnya rasa kantuk tersebut.
Jadi, bagaimana agar bisa mendapatkan manfaat mendengar khutbah yang maksimal? Ya salah satunya adalah duduk bersila dengan posisi tegak yang sempurna, sehingga state kita pun selalu dalam posisi siaga. Nah, soal state ini, kalau kita sudah menguasai state management sebenarnya dapat dilakukan dengan lebih praktis lagi. Saya biasa mengajarkan kepada rekan2 untuk mengenali dimana *letak* sebuah perasaan. Misal, perasaan siaga dan siap menerima pembelajaran baru, di manakah letak perasaan siaga tersebut. Jika sudah tahu, misalnya di punggung, maka ketika khutbah akan dimulai, kita cukup mengakses perasaan tersebut, amplifikasi, dan posisi duduk pun akan mengikuti. Untuk detil caranya, silakan mampir ke SINI<http://indonesianlpsociety.org/?p=106>. Semoga bermanfaat. Wassalam, Teddi 2008/12/16 Ikhwan Sopa <[email protected]> > --- In [email protected] <i-nlp%40yahoogroups.com>, "Ikhwan Sopa" > <ikhwan.s...@...> wrote: > > Menarik nih. > > Aku pernah diskusi tentang fenomena "siesta" di masjid saat Jumatan. > Aku juga setuju apa yang diungkapin sama Mas Teddi. Tidak ada > audience yang tidak mau mendengar, yang ada adalah khatib yang kurang > komunikatif. Mohon maaf lho. Ini bukan njelekin, tapi hanya > menerapkan cara pandang ilmu komunikasi. > > Seperti yang diungkap Teddi, hypnotic language amat berperan dan > sebenarnya ini sudah di-framing oleh ketentuan "makmum dilarang > berbicara" yang amat mendukung, plus kepala ndangak. > > Jadi sudah tersetting dengan baik: > > 1. Fokus pada mendengar ketimbang ngomong. > > 2. Yang didengerin secara fisik berposisi lebih tinggi (khatib > berdiri), sehingga "lebih berwibawa". > > Maka, sekali lagi salah satu kunci efektifitasnya ada pada skill > hypnotic language dari sang khatib sendiri. Khatib harus belajar > public speaking, NLP, dan hypnosis. He...he...he... > > Tips tambahan ini mungkin bisa dipake oleh para khatib: > > 3. Teknik hypnosis yang mengarah pada "fill in the blank". Soalnya > bicara dilarang, tapi berpikir sepertinya tidak. (mohon koreksi kalo > salah nih). > > 4. Teknik reflective thinking yang mirip dengan di atas. > > 5. Posisi duduk bersila yang sempurna, yang memungkinkan "bernafas > dengan perut" yang lebih mengaktivasi submodalitas kinestetik. > > 6. Teknik "Kharisma" yang bisa diadopsi dari para ulama kharismatik. > Strateginya: K -> A -> V ->. > > Yang sering khotbah, ayo dicoba. Temukan model yang terbaik untuk > kebaikan dan barokah maksimal dari Shalat Jumat. > > Ikhwan Sopa. > > > --- In [email protected] <i-nlp%40yahoogroups.com>, "Ikhwan Sopa" > <ikhwan.sopa@> wrote: > > > > --- In [email protected] <idnlpsociety%40yahoogroups.com>, > "Teddi Prasetya Yuliawan" > > <tpyuliawan@> wrote: > > > > Menarik sekali Pak Iqbal... > > > > Apapun yang terjadi ketika itu, yang pasti, shalat Jum'at > seringkali > > sudah > > menjadi anchor untuk mengalami "deep trance". Hehehe... > > > > Ada sebuah pelajaran menarik sewaktu saya pertama kali belajar > > hipnoterapi. > > Dikatakan sebagai hipnoterapi, ketika klien mengikuti semua > instruksi > > dari > > terapis selama trance. Maka ketika klien 'lepas' dan mengalami > trance- > > nya > > sendiri tanpa dapat dikontrol oleh terapis, di situlah sebenarnya > > sudah > > bukan lagi hipnoterapi, melainkan self hypnosis. > > > > Nah, mungkin inilah yang terjadi dengan orang2 yang "trance" saat > > mendengar > > khutbah. > > > > Bisakah di-utilisasi? > > > > Tentu bisa. Jika khatib menguasai pacing-leading, plus hypnotic > > language, > > maka ia justru akan bisa memanfaatkan anchor trance tersebut untuk > > lebih > > mudah memasukkan sugesti dalam khotbahnya. Apalagi, fikih shalat > > Jum'at > > sebenarnya sudah sangat mendukung untuk terjadinya trance, yaitu > > makmum > > dilarang berbicara sepatah kata pun. Yang dengan sendirinya akan > > membatasi > > fokus, termasuk katalepsi yang terjadi ketika kepala makmum > memandang > > khatib > > yang berdiri di atas mimbar. > > > > > > Salam, > > > > Teddi > > > > 2008/12/15 muh_iqbalbasri <muh_iqbalbasri@> > > > > > *Rekan-rekan NLP-ers...* > > > > > > Hampir setiap Jumat, saat khatib membawakan khutbah-nya, ada > > pemandangan > > > yang sering kita temui yaitu adanya beberapa jama'ah saat > > mendengarkan > > > khutbah, terlihat sangat `khusyuk', saking khusyuknya sampai- > sampai > > > mendengkur, minimal kepala sedikit tertunduk, dan anehnya saat > > khutbah > > > selesai serta merta jama'ah tersebut tersentak terbangun, ada > juga > > jama'ah > > > saat khutbah sekali-kali terbangun. Hal ini sangat menarik untuk > > > didiskusikan dari sisi hypnosis/NLP, apakah fenomena tersebut bisa > > > digolongkan "Trance" atau trance-nya terlalu dalam sehingga > > "Tertidur"? dan > > > apakah hal ini bisa digunakan *untuk mengukur tingkat > sugestibility > > > seseorang*?. > > > > > > Terkadang saya bertanya-tanya dalam hati, "Ada apa gerangan, > > bagaimana itu > > > bisa terjadi? " mungkin kita menjawab bahwa itu karena pengaruh > > godaan > > > syaithan, atau karena faktor kacapaian, tapi masalahnya setelah > > Jumatan, > > > semua jama'ah pada segar alias rasa kantuknya menghilang. > > > > > > Kalo menurut pendapat saya, ada beberapa hal yang mendukung > > sehingga itu > > > bisa terjadi, dapat dijelaskan berdasarkan prinsip dasar hypnosis, > > > diantaranya yaitu adanya *unsur authority* yang dimiliki oleh > para > > Ustadz. > > > Faktor lainnya yaitu adanya *permainan tonality, pause dan > rhytme*, > > > apalagi jika kata-kata yang dipergunakan pak Ustadz bersifat umum > (* > > > generalisasi*) sehingga memungkinkan para jama'ah mengalami > > *Transderivational > > > Search (TDS)*, mungkin disinilah syaithan punya peranan/membantu > > itu bisa > > > terjadi. Cuma sayangnya sang khatib tidak dapat mengendalikannya > > sehingga > > > jama'ah masuk ke "theta/delta state". Jika seandainya jama'ah > tetap > > bisa > > > dipertahankan dalam kondisi "alpha state", saya kira bagus sekali > > untuk > > > proses sugesti. Seperti halnya saat sang dosen memberikan kuliah, > > lalu > > > beberapa mahasiswa terlihat mengantuk, sang dosen berkata" Yang > > mengantuk > > > silahkan mengantuk,nggak apa-apa, asal jangan tertidur ya!" > > Bagaimana > > > pendapat rekan-rekan NLP-ers. > > > > > > Salam, > > > > > > Iqbal Basri > > > > > > > > > > > > > > > > > -- > > Salam Street Smart NLP! > > > > Teddi Prasetya Yuliawan > > Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org> > > > > --- End forwarded message --- > > > > --- End forwarded message --- > > > -- Salam Street Smart NLP! Teddi Prasetya Yuliawan Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>
