*Mau Jadi Thomas Edison, Hans Bablinger atau Djoko Jocker ?*

by Made Teddy Artiana, S. Kom

*http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com*
*photographer, penulis & company profile developer*





Siapa yang tidak kenal Thomas Alfa Edison, penemu luar biasa yang pernah
hidup itu, pemegang rekor terbanyak jumlah hak paten. Kegigihan Edison
sering dikaitkan pada ribuan kali kegagalan sementara nya dalam menemukan
lampu pijar. Ada sebuah kalimat yang mewakili itu semua yang tentunya pernah
kita dengar, “kesuksesan itu 1% karena kejeniusan dan 99% karena kerja
keras.” Tetapi jika Anda menyempatkan diri membaca kisah hidupnya, Anda akan
menemukan sebuah episode  yang menarik, yang jarang diangkat ke permukaan.
Episode itu terjadi pada saat pabrik dan laboraturium beliau hangus “ludes”
terbakar. Pada saat itu anak dan istrinya begitu panik mencari Edison.
Jelas, bukan harta benda yang mereka pikirkan. Satu-satunya yang paling
mengkawatirkan mereka adalah keadaan mental Edison saat itu. Betapa tidak,
yang habis terbakar adalah milik Edison yang paling berharga. Hasil kerja
kerasnya selama bertahun-tahun. Akhirnya mereka menemukan Edison tengah
berdiri tegak diantara puing-puing berasap itu, mereka mendengar Edison
dengan tegar berkata, “Kini saatnya memperbaiki kesalahan-kesalahan yang
telah terjadi dan memulai segalanya dari awal kembali” bukan hanya itu, ada
sebuah komentar Edison yang begitu *nyeleneh* “sayang  istriku tidak melihat
betapa besarnya api itu..”



Hans Bablinger. Anda pasti tidak pernah mendengar nama ini. Wajar. Sayapun
menemukan namanya karena iseng. Tetapi Anda akan terkejut jika mengetahui
bahwa Bablingerlah yang mula-mula punya impian untuk terbang. Ialah yang
pertama kalinya menciptakan sayap-sayap untuk mengatasi “kecacatan” manusia
untuk terbang. Tetapi malang, pada saat demontrasi terbang dilakukan
dihadapan raja, ia gagal. Ia dan pesawat pertama temuannya itu
*nyungsep*langsung masuk ke sungai. Akhirnya Bablinger percaya bahwa
hanya burung yang
ditakdirkan terbang. Ia pun menyimpan impiannya itu sampai ke liang kubur.



            Berbeda dengan Thomas Alfa Edison dan Hans Bablinger….Djoko
Jocker. *Siapa tuh ? *Memang dia jauh lebih nggak terkenal dibandingkan dua
nama diatas. Djoko “Jocker” adalah salah seorang crew TJAMPUHAN yang kerap
kali menemaniku dalam pembuatan *company profile *client kami. Banyak
hal-hal gila yang menggelikan yang dilakukan olehnya. Salah satu yang paling
berkesan adalah ketika kami dipercaya oleh PT. Kaltim Industrial Estate
(Pupuk Kaltim) di Bontang sana, untuk *mendevelop* *company
profile*perusahaan mereka dan membuat semacam
*exclussive organizer*/agenda.



Malam pertamanya, kami ditraktir makan oleh staff mereka disuatu pusat
makanan yang begitu meriah, mirip pasar malam. Disanalah Djoko menyumbangkan
suaranya diatas sebuah panggung life music. Pernah *ngeliat * pasar malem,
kemasukan copet pada saat lampu padam ? Persis. Keadaan waktu itu tidak jauh
berbeda. Entah *microphone* yang rusak, atau pendengaran kami yang sedang
kacau, atau cuasa yang kurang bersahabat, suara Djoko terdengar
“menakutkan”. Puluhan orang tampak terperanjat, bahkan beberapa ibu-ibu
sempat menutup telinganya, tak menyangka perubahan suara yang demikian
drastis. Satu pasar malam pun pecah oleh tawa, sorakan dan
*huuuuuuuuuuu…*.tetapi
yang aneh Djoko tetap *stay cool.* Wajahnya terlihat kian serius,
meskipun *pitch
control* kian amburadul. *Disaster*, kata Simon di American Idol. Hingga
akhirnya lagu Once Dewa 19 berakhir dan Djoko mendapatkan gemuruh tepuk
tangan yang dahsyat. Yang jelas, ini bukan *life music* lagi, tapi lawakan.
Yang lebih aneh lagi adalah reaksi Djoko setelahnya. Ia terlihat begitu
bangga. Keesokan harinya, ketika aku dan team melakukan pemotretan di salah
satu hotel disana, salah seorang supervisor sempat bertanya padanya,sambil
tersenyum geli “Mas..yang kemaren nyanyi yah ?”. Dan Djoko tersenyum bangga.
“Mas…gue ngetop Mas…” serunya padaku bersemangat. Djoko..Djoko…





*“Any fact facing us is not as important as our attitude toward it,*

*for that determines our success or failure. *

*The way you think about a fact may defeat you before you ever do anything
about it.*

*You are overcome by the fact because you think you are.”**
Dr. Norman Vincent
Peale<http://www.brainyquote.com/quotes/quotes/n/normanvinc120979.html>

*

Bagi yang belum tahu, Dr. Norman Vincent Peale, adalah penulis buku “The
Power of Positve Thinking” yang terkenal itu. Dan kalimat diatas begitu
sering dikutip dalam buku-buku bertema peningkatan kualitas pribadi manusia
lainnya. Intinya menurut Dr. Peale, fakta yang terjadi pada kehidupan kita
tidak terlalu penting dibandingkan sikap kita terhadapnya. Dalam kata lain,
suatu kejadian yang sama dapat berarti positif atau negatif pada dua orang
yang berbeda. Anthony Robbins mengatakan dalam istilah yang sedikit berbeda
“kita hendaknya dapat menemukan pemaknaan yang memberdayakan diri kita,
dalam setiap kejadian yang terjadi”.



Kehilangan handphone dapat berarti “kebencian” bagi seseorang, tetapi
berarti “buang sial” bagi orang lain. PHK dapat berarti sebagai “bencana”
bagi seseorang tetapi bisa berarti “kesempatan untuk jadi direktur
diperusahaan pribadi” bagi orang lain. Ditinggal kawin, dapat diterjemahkan
“bunuh diri” bagi seseorang, tetapi juga bisa berarti “kesempatan
mendapatkan pasangan yang lebih baik”, bagi yang lain. Singkatnya apa saja
bisa terjadi dalam hidup kita. Apakah fakta itu menyedihkan ataupun
menggembirakan sementara terasa. Yang jelas urusan “pelabelan” alias
“pemaknaan” adalah urusan kita. Pilihan kita untuk mencap kejadian itu
sebagai “trauma” ataukah “pengalaman berharga”. “Kapok” atau “mencoba dengan
cara lain”. “Fatal” ataukah “dapat diperbaiki”.



Dan setiap label yang kita kenakan itu akan terekam dibawah sadar kita dan
berdampak langsung perkembangan pribadi kita yang ujung-ujungnya berdampak
jelas pada kehidupan kita.



Konsekuensinya jelas, jika setiap kegagalan atau kesalahan kita anggap
“kiamat”, maka dapat dipastikan kita berubah menjadi mayat hidup yang
terlalu  takut untuk mencoba hal baru. Jangankan orang dewasa, anak-anak
yang dibesarkan dalam budaya kritik, kemungkinan besar akan terhambat
kemampuan pribadinya, dibandingkan mereka yang dibesarkan dalam penghargaan.
Karena trauma biasanya akan diikuti trauma yang lebih besar, sedangkan
kesuksesan, biasanya akan diikuti kesuksesan yang lebih besar. Keduanya akan
maembuat rantai yang semakin kuat seiring perulangan yang terjadi.



Sekarang terserah kita…ingin memilih jadi Edison…Bablinger atau Djoko…?
Saran saya, sebaiknya Edison…contreng Edison…nomer 9.999 !!



*What a wonderfull world…an exciting journey !!!*

* *

*****

*with friendship, respect & blessing
**Made Teddy Artiana
*
"Follow effective action with quiet reflection.
>From the quiet reflection will come even more effective action."
(Peter Drucker)

*T J A M P U H A N
*company profile developer

[ My Photography PORTFOLIO ]
# Commercial Photography #
http://companyprofile.multiply.com
http://withbobsadino.multiply.com

# Wedding Special Photography #
Pernikahan Agung Puteri Sri Sultan Hamengku Buwono X
GRAJ Nurkamnari Dewi & Jun Prasetyo MBA
http://nurkamnaridewi.multiply.com

# Wedding Photography #
http://candidwedding.multiply.com
http://weddingcandid.multiply.com
http://prewedding.multiply.com
http://prewedding1.multiply.com
http://prewedding2.multiply.com
http://prewedding3.multiply.com
http://outdoorprewedding.multiply.com
http://weddingceremony.multiply.com

# Jurnalism Photography #
http://fotojalanan.multiply.com

# Blogger #
http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com

[ CONTACT US ]
Esia. 96202505
Flexy. 70820318
m. 0815 740 900 80 - 0813 178 227 20
email. [email protected]

Kirim email ke