Bunda Tati,

Terima kasih atas tulisannya. Namun perkenankan saya sharing tulisan yang 
baru saja saya baca di milis sebelah:

Written by topex 

Friday, 06 February 2009 13:22 

Andai Kartini Khatam Mengaji...

Sejarah, penggal waktu yang telah ditinggalkan. Sejarah, hanyalah saksi
bisu 
yang bergantung pada kacamata manusia untuk membacanya. 
Sejarah bisa berarti beda jika kacamata baca manusia juga berbeda. 
Adalah sebuah keharusan untuk membaca sejarah secara obyektif
berdasarkan fakta. 
Demikian halnya dengan perjuangan Kartini. Benarkah Kartini menginginkan
kaum wanita
mengejar kesetaraan kedudukan dengan kaum laki-laki di semua bidang ?

Obyektifitas adalah syarat utama untuk mengkaji sebuah sejarah. Tanpa
ada semangat obyektifitas, sebuah peristiwa sejarah dapat dimaknai dan
disalahgunakan sesuai dengan kepentingan pihak yang bersangkutan. Untuk
mendukung sebuah pendapat atau mewujudkan sebuah tujuan, kisah sejarah
bisa dipenggal, dihilangkan atau justru ditambahi penekanan pada
bagian-bagian tertentu. Penyusunan sejarah seperti ini hanya akan
mengantarkan masyarakat kepada sebuah kesimpulan yang salah, bukan
kepada pelajaran sebenarnya yang ada dibalik kisah kehidupan sang tokoh.

Demikian halnya dengan sejarah perjuangan R.A Kartini. Selama ini yang
dipahami dan dicatat dari perjuangan Kartini adalah semangat emansipasi
untuk menjadikan kaum wanita mempunyai hak yang sama dan sejajar dengan
kaum laki-laki. Sehingga yang terlihat kemudian adalah wanita Indonesia
yang tergopoh-gopoh untuk menempatkan diri pada posisi-posisi yang
didominasi oleh kaum pria. Kata "emansipasi" telah bergeser kearah
liberal, gender, feminisme dan ide-ide penentangan terhadap fitrah kaum
wanita yang memang berbeda dengan lawan jenisnya.

Kartini, Antara Dominasi Adat dan Pengaruh Barat

Menelisik kehidupan seorang tokoh tak terlepas dari lingkungan internal
dan eksternal yang membentuk kepribadiannya. Kartini tumbuh dalam dua
suasana dan pemikiran yang saling bertentangan satu dengan yang lain.
Sebagai keturunan ningrat, Kartini tumbuh di lingkungan yang kuat dengan
adat istiadat.

Di satu sisi, keningratan yang ada padanya, memungkinkan Kartini untuk
memiliki teman-teman dari Belanda yang mengagungkan kebebasan. Dari
surat-surat Kartini yang terhimpun, nampak bahwa jalinan persahabatan
ini telah menyumbangkan sebuah pemikiran tersendiri bagi perkembangan
dirinya.

Kartini tumbuh di lingkungan Jawa yang teguh memegang adat-istiadat. Di
tengah kuatnya dominasi adat, Kartini berani berdiri untuk menantang
semua adat itu. "Peduli apa aku dengan segala tata cara itu... segala
peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau
tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan
Jawa itu... tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini,
Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri
yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh
dijalankan" (Surat Kartini kepad Stella, 18 Agustus 1899).

Kartini memahami bahwa setiap manusia sederajat dan mereka berhak untuk
mendapat perlakuan yang sama. Kartini menolak adat Jawa yang membedakan
manusia berdasarkan asal keturunannya.

Kebencian Kartini terhadap segala bentuk etiket yang diskriminatif,
mendorongnya untuk mengintip nilai-nilai yang berlaku di kalangan
teman-teman Belandanya. Kartini menganggap bahwa peradaban mereka lebih
tinggi dibandingkan masyarakat Jawa. Hal ini terungkap dari petikan
suratnya "Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik; orang
baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi lagi, dan mereka
itu meniru yang tertinggi pula ialah orang Eropa" (Surat Kartini kepada
Stella, 25 Mei 1899).

Tak salah jika Kartini memiliki kesimpulan seperti itu. Penjajah Belanda
telah berhasil menanamkan rasa rendah diri kepada masyarakat pribumi.
Diskriminasi yang dilakukan Belanda telah mengajarkan bahwa pribumi atau
bangsa Timur adalah rendah dan bangsa Barat adalah mulia.

Kartini menyimpulkan bahwa pangkal kemunduran dan rasa rendah diri yang
dialami oleh masyarakat adalah mundur dan minimnya pendidikan yang
mereka rasakan. Kaum pribumi adalah kaum terbelakang dan bodoh.
Pendidikan menjadi hak paten bagi kalangan ningrat dan para penjajah.

Titik tolak perjuangan Kartini diawali dengan membenahi pendidikan di
kalangan pribumi, tak terkecuali kaum wanita. Kartini membuat nota yang
berjudul "Berilah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa" kepada pemerintah
kolonial. Dalam nota tersebut, Kartini mengajukan kritik dan saran
kepada hampir semua Departemen Pemerintah Hindia Belanda, kecuali
Departemen angkatan Laut (Marine). Kartinipun merasa perlu untuk belajar
ke Barat. "Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland
akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih"
(Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900).

Barat telah menjadi panutan dan kiblat Kartini untuk melepaskan diri
dari kungkungan adat. "Pergi ke Eropa. Itulah cita-citaku sampai nafasku
yang terakhir" (Surat Kartini kepada Stella, 12 Januari 1900). Namun
cita-cita ini harus kandas di tangan para sahabat-sahabatnya yang tak
menginginkan Kartini memiliki pemahaman lebih maju lagi.

Pergolakan Pemikiran Setelah Mengenal Islam

Sulit bagi Kartini untuk bertahan di lingkungan yang bertentangan dengan
pemikirannya. Di tengah kuatnya kungkungan adat dan derasnya serangan
pemikiran Barat, Kartini mencoba mencari jawaban.

Tahun-tahun terakhir sebelum wafat, Kartini menemukan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba
mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Ajaran Islam pada awalnya
tak mendapat tempat di benak Kartini. Hal ini dikarenakan pengalaman
yang tak mengenakkan dengan Sang ustadzah. Sang ustadzah menolak
menjelaskan makna ayat yang sedang diajarkan.

"Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa ? Agama
Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi
pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat
mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya ?
Al Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun.
Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab.

Di sini orang diajar membaca Al Quran tetapi tidak mengerti apa yang
dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi
tidak diajar makna yang dibacaya itu. Sama saja halnya seperti engkau
mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata,
tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya.
Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik
hati, bukankah begitu Stella ?" (Surat Kartini kepada Stella, 6 November
1899).

Namun, pertemuannya dengan kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang
ulama besar dari Darat, Semarang, telah merubah segalanya. Kartini
tertarik pada terjemahan Surat Al Fatihah yang disampaikan sang kyai.
Kartinipun mendesak salah satu paman untuk menemaninya bertemu sang
kyai. Berikut adalah petikan dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh
Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat.

"Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila
seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?". Tertegun Kyai
Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara
diplomatis itu. "Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?" Kyai Sholeh
Darat balik bertanya. "Kyai, selama hidupku baru kali ini aku sempat
mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya
begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan main rasa syukur hatiku
kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini
para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al_Quran
dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup
bahagia dan sejahtera bagi manusia?"

Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk
menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan
Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan terjemahan Al-Quran (Faizhur
Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz,
mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah
Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang
tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga belum
selesai diterjemahkan seluruh Al Quran ke dalam bahasa Jawa.

Andai saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al
Quran) maka tidak mustahil jika ia akan menerapkan semaksimal mungkin
semua kandungan ajarannya. Kartini sangat berani untuk berbeda dengan
tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal
ketaatan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Pada mulanya beliau adalah
sosok paling keras menentang poligami. Tetapi setelah mengenal ajaran
Islam, beliau mau menerimanya.

Upaya Meneladani Kartini

Upaya untuk menerjemahkan perjuangan Kartini oleh kaum wanita sekarang
ini nampaknya telah melampaui batas. Petikan surat Kartini berikut ini
menegaskan kesalahan penterjemahan kaum wanita Indonesia.

"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak
perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak
perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi
karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita,
agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang
diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik
manusia yang pertama-tama" (Surat Kartini kepada Prof. Anton Dan Nyonya,
4 Oktober 1902).

Tak ada sepatah katapun dalam surat tersebut yang mengajarkan wanita
untuk mengejar persamaan hak, kewajiban, kedudukan dan peran agar
sejajar dengan kaum pria. Kartini memahami bahwa kebangkitan seseorang
ditandai oleh kebangkitan cara berfikirnya. Kartini mengupayakan
pengajaran dan pendidikan bagi wanita semata-mata demi kebangkitan
berfikir kaumnya agar lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai
seorang wanita.

Atas nama perjuangan Kartini, para wanita justru terjebak pada
nilai-nilai liberalisasi dan ide-ide Barat yang justru ditentang oleh
sang pahlawan. Perjuangan yang kini dilakukan oleh para feminis, pembela
hak-hak wanita sangat jauh dari ruh perjuangan Kartini. Kartini tidak
menuntut persamaan hak dalam segala bidang. Kartini hanya menuntut agar
kaum wanita diberi hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Tak
lebih dari itu. 

Kartini bertekad untuk menjadi seorang muslimah yang baik dengan
memenuhi seruan Surat Al Baqarah ayat 193. Minazh-Zhulumaati ilan Nuur
yang berarti dari gelap kepada cahaya telah mendoronganya untuk merubah
diri dari pemikiran yang salah kepada ajaran Allah. Tak berlebihan jika
kita menyimpulkan bahwa tujuan Kartini adalah mengajak setiap wanita
untuk menjadi muslimah yang memegang teguh ajaran agamanya.

"..., tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar
satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi
apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ? dapatkah
ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu
terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai
peradaban?" (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902). [red]

* Please Note : This message was received from the Internet *
__________________________________________________________

Kirim email ke