Mas, aku mo ngucapin terimakasih banyak tulisannya menggambarkan keadaanku, aku 
sering dapet komentar dr org2 terdekatku yg di sebut keluarga ku...kadang 
komentarnya mematah-matahkan semangatku.....tapi membaca tulisan ini aku jadi 
semangat ...
makasih ya Mas....

--- On Thu, 4/30/09, __MadeTeddyArtiana__ <[email protected]> wrote:

From: __MadeTeddyArtiana__ <[email protected]>
Subject: Anda Achiever Atau Sekedar Komentator ?
To: "[email protected]" <[email protected]>, 
"[email protected]" <[email protected]>, "KemahMarComm" 
<[email protected]>, [email protected]
Date: Thursday, April 30, 2009, 7:56 AM











    
            
            


      
      Anda Achiever Atau Sekedar Komentator ? 


By Made Teddy Artiana, S. Kom
photographer, graphic designer, profile developer

"Get up, stand up, Stand up for your rights. Get up, stand up, Don't give up 
the fight." 

Bob Marley 

Untuk persoalan yang satu ini Indonesia juaranya. Itu bukan opini saya pribadi, 
tetapi sudah menjadi semacam rahasia umum bahwa kita, sangat jago dalam hal 
itu. Anda bisa menemukannya tidak hanya dalam pertandingan olah raga, dalam 
dunia politik juga banyak, bahkan di dunia hiburan. Yang saya maksud adalah 
komentator alias tukang komentar. Kita memang sangat jago dalam hal 
berkomentar. Contoh sederhana, coba perhatikan pertandingan sepak bola luar 
negeri, Anda akan saksikan betapa hebatnya para komentator Indonesia 
mengomentari pemain-pemain dunia sekelas Ronaldinho atau Ronaldo. Seharusnya 
mereka begitu, begitu, mengapa mereka tidak begini begitu…dst. Herannya mereka 
dibayar untuk itu. Jika seorang motivator dibayar untuk memotivasi, trainer 
dibayar untuk mentraining, dokter dibayar untuk mengobati, photographer dibayar 
untuk memotret, komentator dibayar hanya untuk berkomentar. Seakan tanpa 
komentator acara sehebat piala dunia sekalipun, terasa
 hambar..ha.. ha..ha..


It’s ok dengan para komentator bola, politik, bulutangkis, pertandingan sulap 
atau nyanyi, karena jika kita tidak suka, kita tinggal switch channel TV 
ketempat lain. Persoalan selesai. Tetapi komentator yang berbahaya justru yang 
berada dikeseharian kita, kantor, sekolah bisnis ataupun dunia bisnis. Setiap 
saat Anda dan saya dipaksa untuk berhadapan dengan mereka. No where to hide. 
Jika di dunia hiburan, politik atau olah raga, para komentator dibayar, di 
dunia real mereka tidak dibayar. Greeetong ! Satu lagi, didunia real para 
komentator akan nyeletuk, meskipun Anda dan saya tidak meminta pendapat mereka 
sama sekali. Seakan-akan mereka mencari tempat untuk menyalurkan hobby mereka 
itu.


Para komentator, sesuai sebutannya sering kali hanya doyan mengamati dan 
mengomentari –biasanya yang buruk- tentang apa yang Anda dan saya coba kerjakan 
dengan gagah berani. Betapapun besar perjuangan, seberapa berat mengatasi 
perasaan takut, seberapa gugup Anda bertahan, seberapa letih perjuangan, tidak 
akan mereka pedulikan. Hanya hasil yang akan mereka komentari. Wajar. Mereka di 
tribun penonton, sementara kita di arena pertandingan. Mereka menonton sambil 
menggenggam ice cream, Anda dan saya berpeluh menahan haus. Pendeknya kita di 
dunia nyata, mereka di awang-awang. Kita babak belur dihajar resiko, mereka 
mandi bunga dengan teori-teori.


Anthony Robbin dalam bukunya Unlimited Power menulis demikian, “ Another 
attribute great leader and achievers have in common is that they operate from 
belief that they create their world. The phrase you’ll hear time and again 
is,”I am responsible, I’ll take care of it”. (page 75). Itulah bedanya 
achievers dengan para komentator. Komentator bebas lepas, tetapi achievers 
selalu siap bertanggung jawab tanpa mencari kambing hitam.


Sering kali para komentator dunia ini membuat para pejuang yang memiliki 
cita-cita menjadi ciut nyalinya. Mengapa ? karena komentator sangat ahli 
menyatakan apa yang salah dari perjuangan kita. Itu spesialisasi mereka. 
Menemukan apa yang salah. Dan kita sebagaimana wajarnya seorang manusia, sangat 
takut untuk dituding “bersalah” atau “gagal”. Siapa sih yang tidak takut 
terhadap kesalahan ? Dicap demikian serta merta menggiring kita tontonan dan 
olokan sekitar. Sementara secara psikologis itu sangat berpengaruh melucuti 
kepercayaan diri kita. Kemungkinan besar menghentikan seluruh potensi kreasi 
kita, dan langsung membuat kita beku, laksana mayat hidup. Kapok.


Ada sebuah tips, yang sekarang ini terus menerus saya disiplinkan sebagai 
sebuah “kebiasaan” dalam diri saya. Tips itu adalah, jangan pernah memandang 
sebuah kesalahan sebagai kesalahan, tetapi sebagai pelajaran. Kita melakukan A, 
mengharapkan hasil A, tetapi ternyata menghasilkan B. Sebuah kesalahan ? No way 
! Toh kita menghasilkan B, hanya saja kebetulan yang kita harapkan adalah A, 
jadi mari kita ubah usaha kita itu. Dengan begitu tidak ada istilah “sia-sia” 
atau “failure”, yang ada hanya menghasilkan hasil yang lain.


Ndilalah..Anthony Robbin dalam buku yang sama, mengatakan hal yang mirip juga. 
“Winner, leaders, masters –people with personal power-all understand that if 
you try something and do not get the outcome you want,it’s simply feedback. You 
use that information to make finner distinctions about what you need to do to 
produce the result you desire”. Tidak ada usaha yang sia-sia alias kegagalan, 
yang ada hanyalah hasil yang mungkin bukan yang kita harapkan. Dan ini bukan 
kesia-siaan karena setiap usaha pasti menghasilkan sesuatu, yaitu pengalaman. 
Experience !! Disinilah bedanya pelaku dengan komentator. Para pelaku entah 
apapun hasil dari usaha mereka, selalu akan mendapat upah yang mahal berupa 
experience.


Ada lagi bagian dalam buku Anthony Robbin yang ingin saya share ke Anda, 
rentetan kalimat yang saya anggap powerfull. “People who believe in failure are 
almost quaranteed a mediocre existence. Failure is something that is just not 
perceived by people who achieve greatness. They don’t dwell on it. They don’t 
attach negative emotions to something that doesn’t work” (page 73). 


Itu khan bahasa Sansekerta, nah terjemahan bebasnya kira-kira begini. 
“Orang-orang yang percaya pada kegagalan dapat dijamin biasa-biasa saja 
keberadaannya. Kegagalan adalah sesuatu yang tidak dipersepsikan oleh mereka 
yang mencapai hal-hal besar. Mereka tidak terpuruk pada kegagalan. Mereka tidak 
mengaitkan emosi-emosi negatif pada sesuatu yang tidak berhasil.”


Nah jika sekarang Anda sedang berada dalam keadaan bimbang tentang sesuatu yang 
Anda perjuangkan atau mungkin berada dalam suatu ketakutan yang sangat terhadap 
binatang bernama kegagalan. Anda tidak sendirian. Jutaan pejuang seperti Anda, 
yang dengan gagah berani berjuang demi cita-cita mereka sedang bertarung juga 
persis seperti Anda, termasuk Saya. Mari kita nikmati proses pembelajaran ini, 
no matter what will come as a result. Menutup tulisan panjang ini sebuah humor 
yang saya dapatkan dari seorang tukang taxi, tentang perbedaan reporter bola 
indonesia dan reporter luar negri.


Kalau reporter luar negri, karena sadar bahwa pemirsa juga sedang menyaksikan 
apa yang dia saksikan, sedikit ngomongnya. “Ronaldo………Sebastio………Kaka…”. 
Pokoknya yang komentarnya yang penting-penting saja, karena toh sama-sama 
sedang nonton. Tetapi reporter bola Indonesia beda banget. Sang reporter merasa 
cuman dia yang lagi nonton yang lain gak punya TV !! “Bambang menahan bola 
dengan kaki kanannya, kemudian digiring sejenak, mencari teman dia. Kemudian 
bola dioper ke Morales. Hampir meleset. Kini bola di Morales, mencari kawan 
terdekat. Ambil inisiatif penyerangan. Disana ada Aliyuddin. Agak ragu Morales, 
coba memainkan bola sendiri. Lawan datang menghampiri, bergumul mereka. 
Akhirnya bola dioper ke Aliyuddin. Hati-hati Ali. Dengan cepat Aliyuddin 
menggiring bola maju kedepan berhadapan dengan kiper lepas tembakan 
Gooooolllllll… .”



 
***

with friendship, respect & blessing
Made Teddy Artiana, S. Kom
http://semarbagongp etrukgareng. blogspot. com 

"Follow effective action with quiet reflection. 
>From the quiet reflection will come even more effective action." 
(Peter Drucker)

T J A M P U H A N
company profile developer

[ My Photography PORTFOLIO ] 

# Commercial Photography # 
http://companyprofi le.multiply. com 
http://withbobsadin o.multiply. com 

# Wedding Special Photography # 

Pernikahan Agung Puteri Sri Sultan Hamengku Buwono X 
GRAJ Nurkamnari Dewi & Jun Prasetyo MBA 
http://nurkamnaride wi.multiply. com 

# Wedding Photography # 

http://candidweddin g.multiply. com 
http://weddingcandi d.multiply. com 
http://prewedding. multiply. com 

http://prewedding1. multiply. com 
http://prewedding2. multiply. com 
http://prewedding3. multiply. com 

http://outdoorprewe dding.multiply. com 
http://weddingcerem ony.multiply. com 

# Jurnalism Photography # 
http://fotojalanan. multiply. com 


[ CONTACT US ] 
Esia. 96202505 
Flexy. 70820318 
m. 0815 740 900 80 - 0813 178 227 20 
email. teddyartiana_ photography@ yahoo.com 



 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke