Sharing Practical Spiritual NLP Mempertahankan State Ibadah saat Mendengarkan Khutbah Jumat
"Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli (kesibukan pekerjaan)" Ada fenomena menarik saat melaksanakan ibadah Sholat Jumat, terutama adalah saat mendengarkan 2 Khutbah menjelang pelaksanaan 2 rakaat Sholat. Yaitu fenomena terkantuk-kantuk bahkan sampai tertidur lelap (baca: mendengkur). Sampai-sampai ada ungkapan bahwa terapi Insomnia terbaik adalah saat mendengarkan Khutbah Jumat. Fenomena yang kedua adalah meskipun berada di dalam Masjid dan mendengarkan khutbah, namun pikiran kita teraktivasi untuk memikirkan hal-hal di luar materi khutbah. Karena mendengarkan Khutbah Jumat adalah bagian dari Ibadah Sholat Jumat, idealnya saat itu kita sudah berada pada state ibadah, yaitu pada gelombang otak alpha menuju theta. Sehingga kita fokus mendengar dan menyimak esensi khutbah sambil menyiapkan diri masuk ke state Sholat (theta menuju delta). Gangguan yang biasa terjadi sehingga kita sulit mempertahankan state ini, yang pertama adalah hanyut dan gelombang otak terus menurun keterusan sampai ke delta. Jika ini terjadi maka kita tertidur, bermimpi, dan indera auditory kita tidak mampu lagi menyerap pesan yang disampaikan Khotib. Gangguan yang kedua adalah kebalikannya, karena kita khawatir ketiduran, maka kita mengaktifkan pikiran kita memikirkan hal-hal lain, bisa kesibukan pekerjaan, urusan keluarga, rencana ke depan, berita di koran, prediksi kelanjutan sinetron atau hal-hal lain selain materi khutbah yang disampaikan khotib. Jika ini yang terjadi maka kita bangkit kembali ke gelombang Beta, sehingga seolah-olah kita berada di luar state Ibadah. Sekali lagi, mendengarkan khutbah adalah bagian dari Ibadah Jumat itu sendiri, bukan sekadar menunggu waktu Sholat Jumat, sehingga saat mendengarkan khutbah Jumat seharusnya kita mempertahankan state ibadah, yaitu fokus dan khusyu'. Untuk mengatasi gangguan yang pertama, cara yang paling praktis adalah mengubah fisiologis kita. Jika kita merasa mulai hanyut dan mengantuk, mari mengubah posisi kepala, badan, maupun tangan dan kaki kita. Semisal saat mulai mengantuk kepala kita sedang tertunduk, mari segera dongakkan kepala kita. Jika saat itu pandangan kita tertuju ke pangkuan, mari segera arahkan pandangan ke arah Khotib meskipun belum tentu terlihat. Jika saat itu tulang belakang kita melengkung, mari segera kita tegakkan posisi badan kita. Mari pertahankan posisi fisiologis yang baru agar bisa mempertahkan state kita tetap khusyu' mendengarkan khutbah dan menghindari rasa kantuk. Jika upaya ini masih belum cukup menangkal rasa kantuk, mari kita lakukan aktivitas gerakan kecil yang tidak mengganggu jamaah lain. Misalnya dengan menyatukan jari-jari tangan sambil mempertemukan kedua ibu jari. Gerak-gerakkan kedua ibu jari secara halus sehingga saling bergesekan, menimbulkan sensasi yang menghalangi rasa kantuk. Cara lain adalah menempelkan ujung lidah ke langit-langit rongga mulut, kemudian gerak-gerakkan dengan halus sehingga menimbulkan sensasi yang bisa menghambat menurunnya gelombang otak. Kedua contoh gerakan ini Insya Allah cukup efektif tanpa terlihat jamaah lain sehingga tidak mengganggu kekhusyu'an jamaah di kanan kiri kita. Hentikan gerakan-gerakan itu saat kita sudah bisa menghilangkan kantuk, lakukan lagi saat rasa kantuk datang lagi. Kita selalu diingatkan untuk mendengarkan, memperhatikan dan mengikuti Khotib agar mendapat rahmat. Bukankah mendapat rahmat Allah SWT adalah tujuan kita beribadah? Kita selalu diingatkan untuk menghindari berbicara atau bercakap-cakap saat mendengarkan khutbah. Bahkan mengingatkan orang lain yang sedang berbicara pun termasuk hal yang harus dihindari. Pesan ini termasuk upaya untuk mempertahankan state kita agar kita tidak kembali pada gelombang Beta yang berarti pula kita meninggalkan state Ibadah. Saat kita berbicara, bercakap-cakap, menanggapi percakapan, bahkan sekadar mengingatkan orang lain dengan perkataan "Diam", maka dapat dipastikan saat itu kita kehilangan kekhusyu'an mendengarkan dan memperhatikan khutbah. Karena itu, untuk menghindari gangguan yang kedua, yaitu kemungkinan bangkitnya gelombang otak ke Beta, mari kita pertahankan pandangan, pendengaran dan perhatian kita hanya pada khutbah. Afirmasikan pada diri, "Saat ini saya fokus mendengarkan, memperhatikan dan mengambil manfaat khutbah ini. Suara-suara yang lain hanya membuat saya semakin fokus pada khutbah. Setiap kata-kata khotib yang saya dengarkan, semakin membuat saya semakin fokus mengikuti khutbah dan memperoleh manfaat untuk diri saya". Cukup dua tiga kali kita mengucapkan afirmasi dalam hati, selanjutnya kita tinggal menikmati efeknya, yaitu semakin fokus dan khusyu' serta mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari khutbah yang kita dengarkan. Insya Allah, dengan beberapa cara praktis di atas, kita bisa mempertahankan state Ibadah yang sudah kita bangun secara gradual sejak mendengarkan dan menjawab Adzan, mengambil air wudlu, dan melangkah masuk ke dalam Masjid. Kita mempertahankan state gelombang alpha menuju theta selama mendengarkan khutbah Jumat, dan mempersiapkan untuk masuk ke state gelombang thetha menuju delta, saat melaksanakan Sholat. Subhanaka laa 'ilmalanaa, illa maa 'alamtana, innaka antal 'aliimul hakiim. Sidoarjo, 8 Mei 2009 Abdul Aziez www.nlp-cons.com -------------------------------------------------------------------------- INFORMASI TERKINI LAINNYA <http://www.usahaweb.com/idevaffiliate.php?id=6442> http://www.usahaweb.com/idevaffiliate.php?id=6442
