terima kasi. info yang sangat berguna. Pada 15 Mei 2009 06:46, suriani sampo <[email protected]> menulis:
> > > > > ------------------------------ > > > *Mohon Email / info dibawah ini diteruskan / disebarkan kepada Saudara > Saudara yang lain ..... > siapa tahu ada yang membutuhkan ....* > * > Terima Kasih, > Selamat & Salam* > * > Semoga bermanfaat ....* > *Dear Rekan rekan * > *Semoga bermanfaat * > *JIKA ANDA MAU BERBAIK HATI TERHADAP SESAMA....* > *TOLONG SEBARKAN INFORMASI INI... * > *Penyakit Kanker * > *Sudah Tidak Berbahaya Lagi * > * * > *Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat > memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman "KELADI > TIKUS" (Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang > dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai > penyakit berat lain. > > Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya > tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. "Tanaman ini > sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata Drs.Patoppoi Pasau, orang > pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia . > > Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris > K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains > Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan > kanker yang didirikan tahun 1995 itu telah membantu ribuan pasien dari > Malaysia , Amerika, Inggris , Australia , Selandia Baru, Singapura, dan > berbagai negara di dunia. > > Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, > Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III > dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat > melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia > untuk membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker > tersebut. > "Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig > (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut, > selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan," jelas Patoppoi. > > Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha > mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi > mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. "Saat itu > juga saya langsung terbang ke Malaysiauntuk membeli teh tersebut," ujar > Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat > di Malaysia , secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai > pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris KH. > Teo terbitan 1996. > "Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu > menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung > pulang ke Indonesia ," kenang Patoppoi sambil tersenyum. Di buku itulah > Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu. > > Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen > Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah > menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya di Pekalongan > Jawa Tengah, balas menghubunginya. Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di > sana . Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, > Patoppoi menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman > yang ditemukannya itu.. * > * > Selang beberapa hari, Dr Teo menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa > tanaman tersebut memang benar Rodent Tuber. "Dr Teo mengatakan agar tidak > ragu lagi untuk menggunakannya sebagai obat," lanjut Patoppoi. Akhirnya, > dengan tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses > tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk > diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi > di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut. "Setelah > melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di pinggir sungai > depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar di > pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu. > > Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami > penurunan efek samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti > rontok, kulitnya tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan ibu > saya pun kembali normal," lanjut Boni. > > Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri Patoppoi menjalani > pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif, dan itu sungguh > mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta ," kata Patoppoi. Para dokter > itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada isterinya.. > "Malah mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi > kepada kami," lanjut Patoppoi. > > Setelah diterangkan mengenai kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun > mendukung Pengobatan tersebut dan menyarankan agar mengembangkannya. Apalagi > melihat keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang > sangat keras tersebut. Dan > pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan > sekali."Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung > secara terang-terangan penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif," > sambung Boni sambil tertawa.* > *Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan > isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teo > melalui fax untukmenginformasik an bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di > Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di > Indonesia. Kemudian Dr . Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak > tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh," sambung > Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam > bahasa Indonesiadan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar > kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu > penderita kanker di Indonesia.* > * Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai > meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos,Patoppoi > sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan > yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman > pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan > eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut. "Lalu > saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos," ujar Boni. Dan > tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa > sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang > yang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di **Jl. KH. Khamdani, > Buduran Sidoarjo. > > Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium > dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi.. > Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual > untuk biaya operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. > Setelah diberi tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien > tersebut datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena > hasil pemeriksaan mengatakan negatif. * > *Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi > berusaha untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan Direktur > Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, > Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang , Malaysia . Di kantor Pusat Cancer > Care Penang, Malaysia , Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut > > mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia . > Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live" edisi revisi > tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta > pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker. Dari > pembicaraan mereka, Dr... Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan > perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya . Maka secara resmi, Patoppoi > dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer Care > Indonesia , yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu di > Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta , telp. 021-4894745, dan di Buduran, > Sidoarjo > > Cancer Care Malaysiatelah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara > lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk > pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya > dengan dosis tertentu. "Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang > diderita," kata Boni. > > Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yang > menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan melalui fax ke > Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi disini, dan akan kami fax-kan. > Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus > obatnya, dengan harga langsung dari Malaysia , sekitar 40-60 Ringgit > Malaysia ," lanjut Boni. " Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, > kami tidak menarik keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr..Teo bisa > memberikan perpanjangan waktu pembayaran. " tambahnya. > > Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu > dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal. > Adadua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai > direktur salah satu rumah sakit terbesar di Surabayaini. Pasien pertama yang > mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan dengan keladi tikus, > karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang telah memiliki > reputasi.. Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut > mengalami kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. > Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter ini > menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu > proses penyembuhan kemoterapi.. * > * > Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami penderita > pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapi dokter ini menolak > untuk diekspos karena menurutnya, pengobatan ini belum resmi diteliti di > Indonesia . Menurutnya, jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai > pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai "ter-kun" > atau dokter-dukun. "Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan > konvensional dan modern," kata dokter tersebut. > > Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan bantuan > kepada berbagai pasien.. Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu di > Surabaya , yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru. > Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut > mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, > karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari > peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba > tersebut. "Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi > tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul > resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung > Boni sambil tertawa * > * > Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan akibat serangan > kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit sudah tidak > mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus, beberapa saat kemudian > pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan. > > Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan > adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara, > paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim, > tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis. > * > *Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit > Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan. > Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan dengan > artikel "Obat Kanker" bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial > ** > "Cancer Care Indonesia " * > *beralamat di Jl. Kayu Putih 4 no..5 Jakarta, > telp : 021-4894745, * > > > > ------------------------------ > See all the ways you can stay connected to friends and > family<http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx> > >
