Mencari Rezeki Hari ini saya sangat bahagia karena adik saya mulai bekerja di perusahaan swasta multi nasional yang bergerak pada bidang telekomunikasi. Adikku paling bungsu ini mungkin yang paling sulit untuk diterima bekerja di suatu perusahaan yang memprioritaskan melalui seleksi berdasarkan hasil test dan wawancara. Entah apa yang menyebabkan dia demikian tapi kami tak pernah berfikir bahwa ini karena 'selaput takdir' yang menyelimuti kehidupannya, dan tak pernah berfikir untuk merukyahnya seperti kebanyakan umat di jaman sekarang ini. Bicara penampilan, tak jauhlah dari gambaran 'Sahru Khan ' bintang bolywood yang populer setelah berlalunya era Amita Bachan. Pernah suatu kali diajak Omnya untuk menjadi figuran film laga, hitung-hitung daripada nganggur di rumah, sayangnya dia tak tertarik untuk ikut menjadi pemain wayang, katanya untuk apa buka-bukaan baju main di film laga, karena itu buka-bukaan aurat. Mungkin pengaruh lingkungan semasa kecil di kampung halaman di Kaki Gunung Selamet, yang membuatnya berfikiran demikian konservatif? Entahlah, di kampungnya memang madrasah dan masjid hanya hitungan langkah dari pekarangan rumahnya. Dua tahun sudah semenjak menerima satu lembar ijazah Sarjana Kesehatan Masyarakat, tak terhitung lamaran yang sudah dia kirimkan melalui kantor pos, sampai-sampai petugas pos tak asing lagi terhadapnya, andaikan lamaran itu dikumpulkan barangkali sudah satu karung banyaknya. Pendidikan yang dienyamnya bukan hanya bidang kesehatan masyarakat yang berhasil dia selesaikan dengan tuntas, sebelumnya satu dekade yang lalu, sempat juga mengenyam pendidikan teknik listrik arus lemah di salah satu Institut teknik terkenal di Jakarta Selatan, dan satu tahun kursus reperasi komputer di salah satu perguruan tinggi negeri di daerah Jakarta Timur. Bicara pendidikan semestinya cukuplah dia bisa mencari rezeki berdasarkan pendidikannya, tapi apa lacur, alih-alih mencari kerja pada bidang yang digeluti hanya dapat pekerjaan serabutan terkadang bikin lemari dapur, terkadang ikut ngecor pembangunan rumah bahkan terkadang apa bila ada panggilan ikut nimbrung kerja pada bagian reklame. Saya sebagai kakaknya tidak pernah mengerti tentangnya, tetapi nampaknya asyik saja dia menjalani hidup, yang kalau dihitung umurnya kini lebih lima tahun dari tiga dasawarsa. Banyak kegiatan yang dia lakukan, kalau di rumah asyik bermain dengan keponakan-keponakan membuatnya hidup seperti masih remaja saja, keasyikannya menonton film dragon balls dan membaca buku-buku komik kartun Jepang, juga tak membuatku mengerti. Pernah suatu saat Ibuku, mengajaknya untuk ketemu dengan salah satu mantan direktur Rumah Sakit terkemuka, yang masih ada hubungan saudara jauh, maksudnya untuk minta katebelece biar dibantu untuk bekerja pada rumah sakit yang pernah dia pimpin itu, tetapi dia lebih senang melamar sendiri. Seminggu lalu baru saja melamar untuk pegawai negeri sipil, seingatku, ini adalah lamaran ke dua kalinya untuk mengisi jabatan pada Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) kalau tidak salah. Berhitung teori probabilitas, masih ada peluang atau kesempatan baginya untuk diterima, walaupun peluangnya keciiil sekali, tapi usaha untuk merebutnya tetaplah dilakukan tanpa putus asa.
Hari-hari menunggu jawaban untuk bisa bekerja usailah sudah, telorpun akhirnya menetas sudah, masa penantian sekian lama akhirnya berlalu sudah, seiring bergulirnya waktu, bertepatan dengan tahun baru hijriah adikku bekerja di suatu perusahaan yang mungkin masih belum seperti apa yang diidealkannya. Tuhan memberikan rezeki pada pekerjaan elektronika sesuai dengan apa yang dia pernah pelajari pada perguruan tinggi teknik, yang tidak pernah terselesaikan. Rahasia Illahi Rabi tidak pernah bisa kita raba, andai dia tahu kalau dia akan bekerja pada bidang elektronika tentunya dia menyelesaikan kuliahnya pada bidang elektronika, bukan pada kesehatan masyarakat. Ucapan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, memberikan umatnya rezeki dari jalan yang tidak diduga. Kini walau mengais rezeki dengan imbalan ijazah SMA plus, tak apalah yang penting menyukuri nikmat rezeki yang diberikanNya. Betul rezeki itu tidak pernah salah alamat. Belajar Menghitung Hari dan Perubahan Teringat akan pesan yang disampaikan oleh Musa Asy'arie, guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, yang menyitir QS. 12:87 yang artinya :"Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan orang-orang kufur", kunci kalimat disini adalah tidak putus asa, tidak mengingkari nikmat Tuhan, dan selalu ada harapan. Dalam setiap pergantian tahun ataupun pergeseran hari, kita pada hakikatnya berubah, mengubah dan terjadi perubahan, dengan suatu harapan untuk menjadi yang lebih baik, dimana kini harus lebih baik dari pada kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini. Harapan tidak pernah ada kalau tidak ada perubahan. Kita hidup dalam ruang dan waktu, semuanya dalam keadaan berubah, atau bergeser, dan berganti, baik terlihat maupun tidak. Semuanya datang dan pergi, lahir dan mati, naik turun, suka duka silih berganti. Dalam kehidupan ini tidak ada yang abadi, kalaupun ada yang abadi itu namanya perubahan. Dalam kehidupan ekonomi, jatuh dan bangun selalu terjadi secara bergiliran, baik individu maupun komunitas bisnis. Tidak ada seorangpun yang selalu sukses, dan sebaliknya tidak ada seorangpun yang selalu gagal. Perubahan adalah fenomena permanen dalam setiap kehidupan tanpa perubahan sungguh amat membosankan. Kehidupan dan perubahan adalah dua sisi mata uang, dan barang siapa yang berani hidup, ia harus berani mengubah dan menjadi perubahan itu sendiri. Suka atau tidak, mau atau tidak mau, manusia selalu berubah; tubuhnya, pemikirannya, hatinya, jiwanya, dan saat kematianpun datang melepaskan jiwa dari tubuhnya untuk memasuki kehidupan baru yang sepenuhnya rohaniah sejati. Rasulullah menggambarkan ada tiga bentuk kehidupan manusia yang perlu diperhatikan, yang pertama mereka yang hari ini sama keadaannya dengan hari kemarin, maka orang ini adalah orang yang merugi, yang kedua, mereka yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, orang ini adalah orang yang celaka, dan terakhir orang yang hari ininya lebih baik dari hari kemarin dan inilah yang disebut orang yangberuntung. Dalam setiap pergantian tahun dan dalam setiap pergeseran hari, kita semestinya bisa menghitung, apakah hari ini lebih baik dari hari kemarin atau tidak, sama, atau justru lebih buruk. Kitapun harus mengakui kenyataan bahwa tidak ada satu orangpun yang selamanya lebih baik terus pada hari-hari yang dijalani, dalam berbagai aspek kehidupannya. Terakhir pesan Rosulullah agar kita menghitung hari-hari kita, sebelum kita memasuki hari perhitungan Allah. Selamat menghitung hari...... Salam, http://ferrydjajaprana.multiply.com [Non-text portions of this message have been removed] *._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._* Owner dan Moderator mengucapkan Selamat Hari Raya Imlek bagi yang merayakannya Wishing you a Happy and Properous New Year *._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._.**._* BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar Stop or Unsubscribe: send blank email to [EMAIL PROTECTED] Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/binusnet/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
