Koin dan Pengemis

Sudah lebih dari satu dasa warsa sebagian dari waktuku dipergunakan untuk 
beraktivitas di Jakarta Utara, dengan demikian sudah hapal aktivitas 
sepanjang jalan yang dilalui, karena letak rumahku di sebelah selatan kota 
Jakarta. Andaikan tidakmelewati tol kalau dihitung bisa melewati 14 lampu 
merah. Dari sekian lampu merah yang selalu ada pengemisnya adalah di lampu 
merah By pass Jalan Pemuda dan perempatan Cocacola. Andaikan saya mengenal 
nama satu persatu pengemis, niscaya saya mudah mengingatnya, karena di 
perempatan itulah tempat para pengemis dan gelandangan (gepeng) mencari 
nafkahnya. Tiap kali aku melewati perempatan tersebut para gepeng tak luput 
dari sapaan mataku, apa lagi penjual asongan rokok maupun koran. Karena 
seringnya ketemu pada jam yang sama tiap harinya, mungkin tukan koran juga 
hapal apa yang biasa saya beli, karena begitu mereka melihatku aku disodori 
koran langganan yang dibeli secara"ketengan".

Kenal muka dengan mereka tak ada ruginya, terkadang pada saat jalan yang 
akan dilalui kebanjiran ataupun ada kemacetan akibat kecelakaan kendaraan, 
mereka tak segan-segan memberikan informasi jalan alternatif yang sekiranya 
tidak macet.

Karena banyaknya gepeng yang kami temui tiap harinya, maka tiap bulan aku 
menukarkan uang kertas yang nilai tukarnya relatif besar menjadi uang koin, 
untuk diberikan kepada mereka tiap ada yang meminta.

Saya bukanlah orang kaya yang tiap bulannya hidup berkelebihan, tapi 
menyukupkan pendapatan pada bulan itu asal sedapat mungkin tidak sampai 
merepotkan orang lain seperti berhutang umpamanya dan menyempatkan untuk 
selalu berbagi walaupun nilainya tidaklah besar.

Melalui koin tersebut saya berinteraksi dengan sesama untuk menikmati 
rahmat Tuhan melalui perjuangan mereka. Perjuangan insan manusia tidaklah 
sama, kecuali rasa bahagia rasanya akan sama  walau berbeda warna lehernya. 
Senyuman juga akan sama, tidak pandang bulu (red: ngapain pula bulu-bulu 
dipandang?) sekaligus menular, karena apabila anda tersenyum maka lawan 
yang kita temui juga akan tersenyum juga, kecuali kalau mereka sedang sakit 
gigi.

Kehidupan manusia yang berbeda itu bukanlah ketidakadilan Tuhan, karena 
kehidupan itu terus berputar, terkadang di atas terkadang di bawah, tak 
jarang bagi yang berkecukupan merasa kurang, dan bagi yang kekurangan 
merasa berkecukupan. Itulah rahasia hidup yang dikuasakan oleh Dzat Yang 
Maha Adil.

Kenikmatan memberi ini menjauhkan rasa stress yang sering datang dalam 
jiwa, karena andai harta yang kita bawa adalah beban maka dengan berbagi 
maka bebannya akan berkurang. Dengan berbagi kebahagiaan maka rasa bahagia 
akan berlipat ganda.

Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com


[Non-text portions of this message have been removed]






BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar


Stop or Unsubscribe: send blank email to [EMAIL PROTECTED]
Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke