"Rasanya jayus dech.. akyu belajar bahasa gak bokis ya?" terjemahan
bebasnya adalah rasanya norak sekali, aku belajar bahasa nggak bisa-bisa
ya? Kalimat di atas diadaptasi dari bahasa gaul dan bahasa prokem anak-anak
muda dari era 80an sampai era 2000an. Demikianlah menurut para ahli bahasa,
konon bahasa itu selalu berkembang.
Perubahan bahasa akan terasa sekali oleh individu yang melepaskan diri dari
lingkungannya dan baru kembali setelah sekian masa di tempat lain,
umpamanya merantau ke luar negeri.
Ada satu pertanyaan pada diri ini, apakah bahasa yang dipergunakan oleh
binatang itu juga mengalami perubahan seperti pada manusia?
Berdasarkan pada definisi bahwa manusia adalah binatang yang berbahasa,
maka saya asumsikan bahwa binatang itu tidak memiliki bahasa, lalu
bagaimana dia bisa mengerti?
Nah, ini dia yang coba-coba akan kita amati.
Di rumahku banyak semut yang kalau kita perhatiakan berjalan secara serial
sehingga membentuk garis, aku perhatikan dengan cara yang seksama dan dalam
tempo yang lama, mereka saling bersalam-salaman, saling bertegur sapa, bisa
jadi antar mereka saling berbisik tentang info terkini, info tentang
perjalanan mereka, seperti sesama sopir saling bertegur sapa, siapa tahu
lho..ya.., dan mereka pulang ke rumahnya masing-masing membawa makanan
untuk dimakan bersama.
Lain semut lain pula dengan rayap, mereka adalah binatang yang ahli dalam
membuat "istana" untuk ratunya, bahkan kalau kita perhatikan rumahnya bisa
menjulang setinggi dinding rumah kita. Di dalam rumah rayap, suhunya sangat
teratur kelembabannya, karena rayap membuat corong menara udara
mencuat dari rumahnya di bawah tanah ke luar permukaan bumi, menara udara
itu dijaga oleh pengawalnya, kalau di Jawa Tengah nama penjaganya adalah
rayap gonteng, dengan kepala besar dan giginya terlihat warna coklat
kemerah-merahan. Dia yang mengawasi prajurit rayap bekerja membuat rumah
dan mencari makan untuk sang ratu? Ada satu fenomena yang menarik di dunia
rayap, bayi rayap bisa langsung mencari makan sendiri tanpa disuapi dan
menginjak usia remajanya langsung mengabdi kepada ratunya. Bahasa apa yang
mereka pergunakan, sehingga bisa mengkoordinasikan pembuatan istana dengan
baik? Itulah bahasa NGEH, artinya bahasa paham tak perlu diurai dengan
huruf, kata-kata maupun kalimat.
Bahasa yang fitrah itu dipergunakan mereka untuk tolong menolong, mereka
memahami bahasa yang dikarunia Sang Pencipta Alam dengan baik, anehnya
manusia yang katanya khalifah dunia ini, malah sebagian sudah mulai
bersifat individualistis bahkan mulai melupakan azas tolong menolong, yang
lebih parah lagi sebagian diantara sudah tidak mengakui keberadaanNya.
Melalui kepintaran rayap, mereka mengatur suhu rumahnya, aku mengikuti
caranya dengan membuat rumahku diberi menara angin, untuk mengambil angin
dari empat penjuru arah mata angin, caranya mudah, buat menaranya, kemudian
masing-masing arah dipisahkan dinding penyekat seperti bentuk buah
belimbing, menara angin itu mencuat ke permukaan genteng, dan dibawahnya
ada lobang yang berhubungan ke ruang tengah, akhirnya di ruang keluarga
tercipta suasanya yang nyaman tanpa air conditioner, aku menyebutnya AC
kepanjangan dari Angin Cuma-Cuma.
(Untuk lihat menara angin pls click:
<http://ferrydjajaprana.multiply.com/journal/item/102>Http://ferrydjajaprana.multiply.com/journal/item/102
)
Belajar pada semut dan rayap, aku menduga mereka mengetahui watak dan
rahasia alam semesta berdasarkan energi, gerak dan getaran. Belajar pada
mereka bagi penempuh jalan ruhani memahami dasar energi atau getaran yang
diolah menjadi pemahaman, yang kemudian melalui huruf, dikumpulkan menjadi
kata, dan melalui kata-kata digabung menjadi kalimat. Kemudian dari kalimat
tadi diatur menjadi definisi. Sementara bagi kalangan awam atau
ilmiawan pemahamannya dibalik lagi, berangkat dari definisi baru
diperhatikan menjadi kalimat, kata dan huruf, baru setelahnya memahaminya.
Dari bahasa semut dan rayap yang tak terdengar di telinga kita, saya
mempertanyakan kenapa manusia lebih menyukai bahasa lisan saja? Tak mau
lagi merenung untuk berfikir (tafakur) dan merenungi tentang alam
ciptaanNya (tadzabur), mereka "ogah" berlama-lama lagi dengan Sang
Pencipta? Tak mau menyisihkan waktu untukNya? Semoga tidak demikian.
Teriring ucapan terima kasih kepada semut dan rayap yang telah memberikan
pelajaran kepadaku, bagaimana bersifat tolong menolong, bagaimana membangun
rumah dan salam kompak selalu.
<http://ferrydjajaprana.multiply.com/>http://ferrydjajaprana.multiply.com
[Non-text portions of this message have been removed]
BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar
Stop or Unsubscribe: send blank email to [EMAIL PROTECTED]
Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--==-=--==-=-=--=-=-=-=-=-=
Bina Nusantara mempersembahkan
25 Tahun Bersama Binus untuk Indonesia
1981 - 2006
Venue: Plenary Hall, Jakarta Convention Center
Date : 25 February 2006
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--==-=--==-=-=--=-=-=-=-=-=
SPONSORED LINKS
| Bali indonesia hotel | Bali indonesia | Indonesia hotel |
| Bali indonesia vacation | Bali indonesia travel |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "binusnet" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
