Nambah-2 Info, penting dan bagus  

Tanpa disadari, makanan berbahan baku hasil pertanian transgenik mengepung 
konsumen di Tanah Air. Meski belum ditemukan adanya bukti kuat bakal mengganggu 
kesehatan, YLKI mendesak agar produk transgenik diberi label.

Liputan6.com, Jakarta: Tahu dan tempe. Siapa yang tak tergoda dengan makanan 
khas Indonesia ini. Rasanya yang gurih lagi bergizi membuat tahu dan tempe 
digemari seluruh kelompok masyarakat mulai dari warga di kampung hingga 
presiden di istana. Tapi, tahukah Anda, tahu dan tempe yang terhidang di meja 
makan ternyata memakai bahan baku kedelai asal Amerika Serikat yang tak lain 
adalah kedelai hasil rekayasa genetika alias kedelai transgenik? Secara tak 
sadar, kita telah menjadi konsumen kedelai transgenik. Tanpa pernah kita tahu 
sama sekali.

Data resmi menyebut Indonesia setiap tahun mengonsumsi kedelai transgenik asal 
AS sebanyak 1,2 juta ton atau mencapai lebih dari 75 persen total konsumsi 
kedelai nasional. Bahkan, ada saat seluruh konsumsi kedelai impor Indonesia 
didatangkan dari AS. Padahal, nyaris 90 persen kedelai AS adalah kedelai hasil 
rekayasa genetika. Ironisnya, Departemen Pertanian AS menyatakan tak 
bertanggung jawab terhadap produk transgenik yang beredar ke pasar.

Apa pun faktanya, makanan transgenik telah merambah dapur sehari-hari warga 
Indonesia. Mulai dari tahu, tempe, kecap, kentang, buah-buahan, hingga susu 
bayi. Sejumlah makanan ringan impor juga ditengarai memakai bahan baku tanaman 
transgenik. Hal inilah yang beberapa waktu lalu disuarakan Yayasan Lembaga 
Konsumen Indonesia. Hal inilah yang juga mengusik tim Sigi SCTV untuk menelisik 
keberadaan makanan transgenik di Indonesia, belum lama ini.

Menurut Ketua YLKI Huzna Zahir, pihaknya sejak 2002 hingga 2005 memantau dan 
menguji di laboratorium genetik terhadap sejumlah makanan berbahan kedelai, 
jagung, kentang, dan gandum. Baik yang beredar di pinggir jalan seperti tempe 
dan tahu, makanan ringan, hingga susu formula bayi di supermarket. Hasilnya, 
sejumlah produk makanan positif mengandung bahan transgenik. Huzna menambahkan 
bahwa bahan transgenik berbahaya bagi kesehatan mulai dari menyebabkan alergi 
hingga kematian [baca: YLKI Meminta Pemerintah Tegas Soal Produk Transgenik].

Namun, sejumlah produsen makanan yang disebut YLKI mengandung transgenik 
membantah hasil pengujian tersebut. Produsen susu bayi Nutrilon Soya mengklaim 
susu bayi buatannya tak memakai bahan baku kedelai transgenik. Sayang, dalam 
selembar surat yang diberikan kepada tim Sigi itu, pihak PT Nutricia Indonesia 
Sejahtera tak bersedia diwawancarai.

Apa sebenarnya bahan makanan transgenik? Secara singkat, tanaman transgenik 
adalah tanaman yang telah direkayasa bentuk maupun kualitasnya melalui 
penyisipan gen atau DNA binatang, bakteri, mikroba, atau virus untuk tujuan 
tertentu. Misal, tomat yang disisipi gen ikan agar tahan beku atau kedelai yang 
disuntik gen bakteri dalam tanah. Transgenik menjadi alternatif agar hasil 
panen tahan dingin, melimpah, dan tak mempan hama. Bahkan, tanaman direkayasa 
agar mampu membunuh hama yang menyerang tumbuhan tersebut.

Makanan rekayasa transgenik memang sudah menjadi kontroversi sejak 30 tahunan 
silam. Yang jadi soal adanya rekayasa gen alias kode pembawa keturunan dari 
suatu makhluk ke makhluk lain bahkan yang berbeda spesies sekali pun. Para 
aktivis pembela konsumen dan lingkungan mengecam rekayasa seperti itu karena 
dinilai kebablasan dan melawan kodrat alam. Selain tentu saja tak aman bagi 
lingkungan dan kesehatan manusia. Tak heran jika di sejumlah negara termasuk 
Indonesia, produk transgenik kerap menuai protes.

Di AS sendiri, teknologi transgenik meluas sejak tahun 90-an. Data menunjukkan, 
63 persen produksi jagung AS adalah transgenik demikian juga dengan 83 persen 
produksi kapas. Porsi terbesar adalah kacang kedelai yang mencapai 89 persen 
produksi. Tapi, tak semua pengembangan transgenik di AS berujung sukses. 
Sebagian kalangan memandang produk transgenik tak aman karena proses 
pembentukannya tak alami dan bisa menyebabkan mutasi yang luas. Citra 
transgenik yang negatif ini berujung kegagalan bagi sebagian petani. Produk 
pepaya hijau asal Hawaii yang tahan virus ringspot ditolak negara-negara 
pengimpornya macam Kanada dan Jepang.

Lalu, bagaimana dengan produk pangan transgenik lain seperti jagung, kedelai, 
dan buah-buahan? Jangan harap makanan tersebut ada di bagian buah dan 
sayur-sayuran segar di supermarket AS. Hampir seluruh produk transgenik di AS 
tak dijual dalam bentuk segar. Hasil pertanian tersebut diproses menjadi 
makanan atau minuman ringan. Sirup jagung misalnya, digunakan sebagai pemanis 
banyak minuman dan makanan. Tak seperti di Eropa, AS tak mensyaratkan pemberian 
label bagi produk yang mengandung unsur transgenik. Jadi tanpa disadari, warga 
AS juga mengonsumsi produk transgenik.

Walaupun hingga kini belum ada bukti bahwa produk transgenik berbahaya bagi 
kesehatan. Produk transgenik terus menuai kontroversi. Pengawasan pemerintah AS 
pun tetap kendor. Deptan AS memang mengontrol penanaman tumbuhan transgenik 
namun tak bertanggung jawab atas produk yang dilepas ke pasar. Absennya peran 
FDA (sejenis BPOM di Indonesia) terhadap produk pangan transgenik menyebabkan 
kebanyakan jagung dan kacang kedelai segar transgenik kerap menjadi makanan 
hewan dan ternak.

Pertanian transgenik saat ini telah merambah 21 negara dengan total luas lahan 
mencapai 90 juta hektare. Dalam 10 tahun terakhir, tingkat pertumbuhan mencapai 
47 kali lipat. Nilai bisnis produk transgenik kini menembus Rp 50 triliun. 
Monsanto menjadi perusahaan AS yang merajai pasar pertanian transgenik dunia.

Namun di Indonesia, Monsanto kurang menuai sukses. Perusahaan ini bahkan 
mendapat izin mengkomersilkan puluhan ribu hektare kapas transgenik jenis 
bolgard di Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada tahun 2000-an. Proyek ini gagal 
bahkan menuai protes petani. Pasalnya, hasil panen tak seperti yang dijanjikan 
Monsanto.

Jejak transgenik Monsanto juga ditemukan di Kediri, Jawa Timur. Sekitar empat 
tahun silam, perusahaan yang berkantor pusat di St. Louis, Missouri, AS ini 
menguji coba jagung round up yang tahan hama dan herbisida. Upaya ini pun 
berhenti di tengah jalan. Praktis, tak ada satu pun tanaman transgenik yang 
tumbuh di Tanah Air. Namun, ini tak berarti pasar Indonesia tak kebanjiran 
bahan pangan mau pun produk olahan berbahan dasar transgenik.

Buktinya, tim Sigi yang mencoba menelusuri konsumsi kedelai impor mendapati 
kenyataan yang mencengangkan. Kedelai AS menjadi primadona warga di Kediri yang 
selama ini terkenal sebagai kota penghasil tahu dan tempe terbesar di Jatim 
lantaran. Ini lantaran kedelai AS berkualitas baik dan bersih. Ironisnya, para 
perajin sama sekali tak tahu jika kedelai yang mereka beli adalah kedelai 
transgenik.

Tapi benarkah kedelai yang mereka pakai untuk membuat tahu adalah kedelai 
transgenik? Tim Sigi mencoba menguji tahu asal Kediri di laboratorium genetika 
yang terakreditasi secara internasional. Diujikan pula sejumlah produk pangan 
lain yang pernah diuji YLKI. Berdasarkan uji PCR (polymerase chain reaction, 
tahu-tahu dan produk makanan tersebut positif mengandung unsur transgenik.

Bisa dikatakan, produk transgenik tanpa disadari sudah menjadi makanan 
keseharian terutama makanan berbahan kedelai dan jagung impor. Kenyataan inilah 
yang disayangkan YLKI. Pemerintah dianggap tak berbuat banyak. Padahal di 
negara-negara Eropa, produk transgenik diberi label agar konsumen tahu dan bisa 
menentukan pilihan. Di Indonesia sendiri, telah terbit Peraturan Pemerintah No. 
69/1999 dan PP No.28/2004 tentang Pencantuman Label Produk Transgenik. Namun 
hal ini seolah hanya menjadi macan kertas.

Badan Pengawas Obat dan Makanan sebagai lembaga yang bertugas mengawasi setiap 
peredaran obat dan makanan di negeri ini mempunyai sejumlah dalih. Kepala BPOM 
Husniah Thamrin menyebut bahan transgenik aman dan diperbolehkan beredar 
melalui Undang-undang Nomor 7 tentang Pangan yang diterbitkan tahun 1996. 
Husniah juga menunggu terbentuknya komite keamanan pangan dan produk transgenik.

Begitu juga Departemen Pertanian. Menteri Pertanian Anton Apriantono 
menjelaskan bahwa tak ada bukti ilmiah yang kuat bahwa unsur transgenik 
mengganggu kesehatan. "Yang diperlukan adalah pelabelan," tambah Anton 
Apriantono [baca: Label Transgenik dalam Kemasan Makanan Dianggap Perlu].

Jika sudah begini, semua terpulang kepada konsumen. Konsumen menjadi raja yang 
menentukan mau mengkonsumsi makanan hasil rekayasa genetika atau tidak. 
Konsumen memiliki banyak hak antara lain hak keamanan serta mendapat informasi 
yang benar dan tepat atas semua barang. Dan ironisnya, hak itu yang belum 
sepenuhnya didapat untuk kasus makanan berbahan transgenik di Tanah Air.(TOZ) 

[Non-text portions of this message have been removed]




BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar

Stop or Unsubscribe: send blank email to [EMAIL PROTECTED]
Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED]

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke