---------------------------- Original Message ----------------------------
Subject: [jakarta-batavia] FW: [IKA-STPB] Gaji Tinggi Ternyata Bukan
Segalanya From:    "Indra Wicaksana" <[EMAIL PROTECTED]>
Date:    Mon, August 28, 2006 6:18 pm
To:      "Indra Wicaksana" <[EMAIL PROTECTED]>
--------------------------------------------------------------------------

Dari milis sebelah . . .


Mengapa perputaran karyawan tinggi walaupun remunerasinya di atas
rata-rata? Uangkah pemicunya?

Atau ada faktor lain yang menentukan kesetiaan mereka?

Akhir tahun lalu, Lesmana, seorang teman lama yang ahli dalam pengembangan
bisnis telekomunikasi mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan
multinasional untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia ...

Dia tertarik dan memutuskan untuk bergabung. Dia telah banyak mendengar
tentang pimpinan perusahaan ini, yang sering diberitakan sebagai pemimpin
visionaris dan legendaris.

Gaji Lesmana besar, perlengkapan kantornya mutakhir, teknologinya canggih,
kebijakan SDM-nya pro-karyawan, kantornya megah di daerah segitiga emas,
bahkan kantinnya menyajikan makanan yang lezat dan murah.

Dua kali dia dikirim keluar negeri untuk pelatihan. "Proses pembelajaran
saya adalah yang tercepat di sini," kata Lesmana "Sungguh menakjubkan
bekerja dengan dukungan teknologi mutakhir seperti di perusahaan ini".

Siapa nyana dua minggu lalu, belum genap tujuh bulan bekerja di perusahaan
itu, dia mengundurkan diri. Lesmana belum mendapatkan tawaran pekerjaan
lain, tapi dia tidak sanggup lagi bertahan di sana.

Belakangan, sejumlah karyawan di divisi yang sama dengannya ikut resigned.
Direktur utama perusahaan itu pun merasa tertekan karena perputaran
(turnover) karyawan sangat tinggi. Cemas memikirkan biaya yang sudah
dikeluarkan perusahaan untuk alokasi dana pelatihan karyawan. Ia juga
bingung lantaran tidak tahu apa gerangan yang terjadi. Mengapa karyawan
yang bertalenta bagus ini mengundurkan diri, padahal gajinya sudah cukup
tinggi?

Lesmana resigned karena beberapa alasan. Alasan ini juga yang menyebabkan
sebagian besar karyawan lain yang bertalenta tinggi akhirnya mengundurkan
diri.


Beberapa survey membuktikan bahwa jika anda kehilangan karyawan berbakat,
periksalah atasan langsung mereka.

Si atasan adalah alasan utama karyawan tetap bekerja dan berkembang dalam
suatu perusahaan. Namun dia jugalah yang menjadi alasan utama mengapa para
karyawan berhenti dari pekerjaannya, membawa pergi pengetahuan, pengalaman
dan klien mereka. Bahkan tidak jarang selanjutnya secara terang-terangan
berkompetisi dengan perusahaan  bekas tempatnya bekerja.

"Karyawan meninggalkan manajernya bukan perusahaannya,"kata para ahli SDM.
Begitu banyak  uang yang telah dikeluarkan untuk tetap mempertahankan
karyawan berbakat, baik dengan memberikan gaji lebih tinggi, bonus ekstra
maupun pelatihan mahal. Namun pada akhirnya, perputaran karyawan
kebanyakan disebabkan oleh manajer/pimpinannya, bukan oleh hal lain.

Jika anda mengalami masalah turnover , maka pertama-tama periksalah
kembali para manajer anda. Apakah mereka biang keladi yang membuat para
karyawan tidak betah?.

Pada tahap tertentu, karyawan tidak lagi melihat jumlah uang yang ia
dapatkan, tapi lebih kepada bagaimana mereka diperlakukan dan seberapa
besar perusahaan menghargai mereka..

Kedua hal ini umumnya tergantung dari sikap para pimpinan terhadap mereka.
Dan sejauh ini, bekerja dengan atasan yang buruk sering dialami oleh para
karyawan yang bekerja dengan baik.


Survey majalah Fortune beberapa tahun lalu mengungkapkan bahwa 75%
karyawan menderita karena berada di bawah atasan yang menyebalkan.

Dari seluruh penyebab stress ditempat kerja, seorang atasan yang jahat
mungkin adalah hal yang terburuk, yang secara langsung akan mempengaruhi
kinerja dan mental para  karyawan.

Simak saja kisah yang dikutip langsung dari"medan perang" ini.

Mulya seorang insinyur, masih bergidik saat membayangkan hari-hari dimana
ia dimaki-maki bos di depan staf lainnya. Atasannya itu sering menghina
dengan kata-kata yang kasar. Waktu menghadapi hal menakutkan itu, Mulya
praktis tak punya nyali untuk menjawab. Ia kembali ke rumah dengan
perasaan tidak keruan dan mulai menjadi kasar seperti sang atasan.

Bedanya kekesalan ini dilampiaskan ke istri dan anak-anaknya, kadang juga
ke anjing peliharaannya. Lambat laun, bukan pekerjaan Mulya saja yang
kacau balau, pernikahan dan keluarganya pun hancur berantakan.

Nasib Agus juga setali tiga uang. Menceritakan "penyiksaan" yang dilakukan
oleh bosnya gara-gara ada perbedaan pendapat yang tidak terlalu penting
antara keduanya. Atasan Agus benar-benar menunjukkan rasa tidak suka
terhadapnya. Ia tidak lagi diikut-sertakan dalam pengambilan keputusan.
"Bahkan dia tidak lagi memberikan saya dokumen maupun pekerjaan baru,"
keluh Agus. "Sangat memalukan duduk di depan meja kosong tanpa tahu apapun
dan tidak seorangpun yang membantu saya".

Lantaran tidak tahan lagi, lalu Agus mengundurkan diri.


Para ahli SDM mengatakan, dari segala bentuk kekerasan, tindakan
memperlakukan karyawan ditempat umum adalah yang terburuk.

Pada awalnya, si karyawan mungkin tidak langsung mengundurkan diri, akan
tetapi pikiran itu sudah tertanam. Jika kejadian terulang lagi, pikiran
tersebut akan semakin kuat. Dan akhirnya, pada kejadian yang ketiga,
karyawan itu akan mulai mencari pekerjaan lain. Ketika seseorang tidak
bisa membalas kemarahannya, ia akan melakukan pembalasan "pasif".

Biasanya dengan cara memperlambat pekerjaan, berleha-leha, hanya melakukan
pekerjaan yang disuruh atau menyembunyikan informasi penting. "Jika anda
bekerja untuk orang yang menyebalkan, pada dasarnya anda ingin orang itu
mendapat kesulitan. Jiwa dan pikiran kita tidak menyatu lagi dengan
pekerjaan kita," papar Agus.

Para manajer bisa menekan bawahan melalui beragam cara. Misalnya dengan
mengontrol bawahan secara berlebihan, curiga, menekan, terlalu kritis,
bawel dan sebagainya. Namun para atasan tersebut tidak sadar bahwa
karyawan bukan merupakan aset tetap, mereka adalah manusia bebas. Jika ini
terus berlanjut, maka seorang karyawan akan mengundurkan diri, walau
tampaknya cuma karena masalah sepele saja.

Bukan pukulan ke-100 yang menjatuhkan seseorang, tapi 99 pukulan yang
diterima sebelumnya. Memang benar, karyawan meninggalkan pekerjaannya
karena bermacam alasan untuk kesempatan yang lebih baik atau kondisi yang
tidak memungkinkan lagi. Namun banyak yang semestinya tetap tinggal jika
tidak ada satu orang (seperti atasan Lesmana) yang terus-menerus
mengatakan," Kamu tidak penting, saya bisa dapat lusinan orang yang lebih
baik dari kamu!".

Kendati tersedia segudang pekerjaan lain (terlebih dalam keadaan
pengangguran tinggi sekarang ini), bayangkanlah sesaat, berapa biaya atas
hilangnya seorang karyawan yang bertalenta tinggi.

Ada biaya yang harus dibayar untuk mencari pengganti, ada biaya pelatihan
bagi pengganti karyawan tersebut. Belum lagi akibat yang ditimbulkan
karena tidak ada orang yang mampu melakukan pekerjaan itu saat calon
pengganti sedang dicari, kehilangan klien dan kontak yang dibawa pergi
karyawan yang hengkang, penurunan moral karyawan lainnya, hilangnya
rahasia penjualan dari karyawan tersebut yang seharusnya diinformasikan ke
karyawan lainnya, dan yang terutama turunnya reputasi perusahaan.

Lagi pula, setiap karyawan yang pergi, bagaimanapun juga akan menjadi
"duta"untuk mewartakan hal yang baik maupun yang buruk dari perusahaan
itu.

Kita semua tahu suatu perusahaan telekomunikasi besar yang orang-orang
ingin sekali bergabung, atau suatu bank yang hanya sedikit orang ingin
menjadi bagiannya. Mantan karyawan kedua perusahaan ini telah keluar untuk
menceritakan kisah pekerjaannya.

"Setiap perusahaan yang berusaha memenangkan persaingan harus memikirkan
cara untuk mengikat jiwa setiap karyawannya," kata Jack Welch mantan orang
nomor satu di General Electric. Umumnya nilai suatu perusahaan  terletak
"diantara telinga" para karyawannya.

Karyawan juga manusia, punya mata, punya hati, punya pikiran dan punya
rasa maluu serta harga diri .....


JUNIUS LEE,CEO & Managing Consultant
JCI Kimberley Executive Search International
(Recruitment Consultants)

  _____

Freddy Reynaldo Hutagaol (Fredo)
  _____


Indra



[Non-text portions of this message have been removed]




BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar

Stop or Unsubscribe: send blank email to [EMAIL PROTECTED]
Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED]

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke