Baca berita di bawah ini gue jadi teringat waktu dulu pas ngelamar kerja ke Bank. Pas baru lulus dulu dari Binus. Liat iklan di koran terus melamar pake pos. Setelah sebulan lebih dapat panggilan buat test yang akan diadakan 2 minggu lagi.
Eh pas seminggu sebelum test ada temen Binusian yg nawarin kerja di Bank itu karena lagi ada lowongan, kasih CV aja cepetan, pasti dipanggil. Yg penting IPK lumayan dan ada pengalaman. Karena merasa udah mo test juga di sana, akhirnya temen yg lain yg ambil. Dan sehari sebelum test temen itu bilang lowongan udah ditutup karena udah diisi ama yg jalur cepet. Ternyata sampe 2006 pemilihan deputi gubernur Bank juga begitu.. calon yg ngak ada dukungan dari Senayan ngak dapat 1 suara pun di waktu voting. :D pantesan pepatah bilang, yg berprestasi biasanya kerja di luar negeri.. http://www.suarapembaruan.com/News/2006/12/04/Ekonomi/eko07.htm Kisah di Balik Penyaringan Uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) yang diselenggarakan oleh DPR guna menentukan para pejabat publik bisa jadi ajang yang sangat menegangkan bagi para kandidat yang diuji. Selama uji kepantasan berlangsung, para wakil rakyat tidak sekadar mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut kualifikasi dalam kaitannya dengan tugas yang diemban kelak, tetapi kadangkala ditanyakan beberapa kasus yang dianggap sang kandidat memiliki andil didalamnya. Selain pertanyaan-pertanyaan yang berbobot, mereka juga melontarkan pertanyaan yang mendasar seperti tentang sang calon dengan kompetitor lainnya. Hal-hal seperti ini yang membuat para kandidat calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) terlihat tegang saat memasuki ruangan Komisi XI. Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI, Muliaman D Hadad yang tampil pertama kali, pekan lalu agak grogi di awal tes. Hal itu jelas tergambar pada raut mukanya yang tegang dan nada bicara yang kurang tegas. Padahal, figur sekelas Muliaman sangat familiar dan sering tampil di depan publik. Namun, pada awal uji kepatutan, ia terlihat begitu kaku. Memang anggota Komisi XI DPR yang hadir maupun para pengunjung dan wartawan di ruang peninjau cukup terbiasa menyaksikan suasana demikian. Mungkin sang kandidat tengah dalam pergulatan batin yang hebat dan menduga-duga pertanyaan-pertanyaan apa yang akan diajukan serta bagaimana menyajikan jawaban yang sistematis. Suasana itu biasanya dialami oleh para kandidat yang berada di urutan pertama. Pada urutan selanjutnya, pertanyaan relatif sama sehingga kandidat berikutnya sudah mendapat gambaran. Umumnya masing-masing kandidat mengutus tim sukses guna mengamati suasana. Di pinggir lapangan, tepatnya di ruang peninjau, ada kandidat yang menyewa perusahaan-perusahaan public relation atau mengutus stafnya untuk mengamati ujian kandidat sebelumnya, sehingga mereka mendapat masukan sebelum tampil. Tak heran yang di urutan berikutnya relatif lebih siap. Dari pengamatan Pembaruan pada setiap perhelatan yang menegangkan itu, biasanya kandidat kedua dan berikutnya mendapat keuntungan. Ada kecenderungan anggota DPR dari partai tertentu yang sudah punya jago di antara para kandidat, mengajukan pertanyaan yang sama agar jago yang dielusnya memberikan jawaban yang tepat dan detail. Dengan demikian, kandidat yang didukungnya tampil sempurna di depan publik dan rekan-rekannya di DPR. Memang tidak semua skenario seperti itu, tetapi strategi itulah yang digunakan jika mereka mendukung kandidat dengan nomor urutan kedua atau ketiga. Kepentingan Partai Uji kepatutan dan kelayakan Deputi Gubernur BI pada hari kedua pekan lalu, diikuti oleh Kepala BI untuk wilayah Eropa dan Afrika, M Ardhayadi. Ia merupakan kandidat yang terakhir dites. Seusai tes, seorang anggota DPR berkata,"Pak Ardhayadi bagus dan pintar. Ia bahkan melontarkan jawaban dengan kalimat yang tepat dan terarah." Ironisnya, ketika paket Budi Rochadi dan M Ardhayadi ditentukan melalui voting, gara-gara satu partai yang bersikap kekanak-kanakan, dan tidak sepakat memilih Budi Rochadi secara aklamasi, Ardhayadi tak memperoleh satu suara pun. Komentar salah seorang anggota DPR tadi ternyata hanya klise belaka, sebab dari 48 anggota yang hadir, 43 memberikan suara ke Budi Rochadi, tiga suara abstain dan dua suara dinyatakan tidak sah. Semua anggota bahkan tidak memberikan jawaban ketika pintu ruang sidang dibuka dan wartawan menyerbu papan pengumuman untuk melihat skor. Sampai ada yang menyeletuk, "Kasihan Pak Ardhayadi jauh-jauh datang dari London, tetapi tidak dihargai. Kenapa tidak dikasih lima suara saja yang abstain dan tidak sah sebagai penghargaan?" Pengalaman itu pernah menimpa, kandidat Cyrillus Harinowo ketika bersaing dengan Burhanuddin Abdullah dan Miranda S Goeltom sebagai calon Gubernur BI. Sebelum mengikuti uji kepatutan, Harinowo kaget tatkala ditanya Pembaruan partai mana yang sudah dipegangnya. Dia hanya geleng kepala. Pada saat pengumuman Harinowo tidak memperoleh suara satu pun. Pascapengumuman dia pun mengatakan tidak akan pernah mengikuti hal-hal semacam itu sekalipun diminta dan diusulkan. Ada kesan para juri dalam uji kepatutan ini kurang peka terhadap kualitas dan penghargaan, tetapi lebih senang memberikan penilaian atas dasar kepentingan politik golongan dan partai mereka. Pada dasarnya uji kepatutan dan kelayakan ini masih menonjolkan kepentingan partai yang dicerminkan dari para wakil rakyat yang berperan dalam sandiwara politik. Tentunya masih banyak kisah di balik uji kepatutan dan kelayakan ini! [B-15] -------------------------------------------------------------------------------- Last modified: 4/12/06 ____________________________________________________________________________________ Yahoo! Music Unlimited Access over 1 million songs. http://music.yahoo.com/unlimited
