Bekasi, 7 Januari 2007, tengah siang terik.... Hari ini adalah hari resepsi pernikahan teman SMA ane, tepatnya teman kelas satu. Ane diundang untuk menghadiri acara tsb somewhere di Rawalumbu - Bekasi.
Sebenarnya... sambil naik KOASI - nama angkot di Bekasi, sejenis KWK di Jakarta.... masih berseliweran di kepala ane, perbincangan dengan beberapa orang mengenai tingginya beban ekonomi. Biaya hidup di Indonesia, misalkan di Jakarta, memang cukup tinggi. Semua butuh biaya... kasarnya uang, mulai dari hidup, sampai sudah mati. Mulai bersalin, sampai di kuburan. Coba saja menapaki bumi Ibukota tanpa kemampuan finansial, bisa dijamin akan dianggap anda akan dianggap seperti tidak pernah menginjakkan kaki di bumi Ibukota, tiada jejak tanda kehadiran anda. Karena alasan ini juga, sebelum lahir, bayi diaborsi, setelah lahir langsung dikubur atau dibuang entah kemana. Karena alasan ini pula, orang yg sudah mati diusik, digusur utk orang yg masih hidup dan punya uang lebih. Kalo hoki, paling digusur utk kuburan orang mati yg kaya... hitung-hitung masih sama-sama friend, sama-sama orang mati. Mau membuat pintar orang butuh uang, mau membuat bodoh pun butuh uang he..he...he.. Sekolah dan Kuliah yg katanya utk membuat orang pintar, butuh biaya yg luar biasa di Indonesia ini, khususnya Jakarta. Mau membodohi orang seperti kampanye para idiot executive di DPR dan Pemerintahan pun butuh dana luar biasa, sehingga mereka memfatwakan wajib korupsi dan dagang sapi demi kelangsungan "hidup" mereka di alam fana ini. Termasuk menikah, butuh biaya tinggi...bukan buat pemberkatan atawa akad nikah, dan juga bukan utk catatan sipil/buat surat nikah utk sebagian orang... tapi utk biaya resepsi nikah yg bisa seharga rumah. Sudah diketahui bahwa ada orang yg gagal menikah, bahkan bisa bersitegang dan bermusuhan dgn pihak calon pasangannya karena masalah finansial utk resepsi nikah. Susah kayaknya hidup ini, hidup atau mati... tidak terlepas dari belitan uang... Itupun bergelayut dipikiranku, sambil menikmati hidangan resepsi nikah.. otak otomatis menghitung berapa biaya untuk pesta seperti ini... berapa modal, berapa uang amplop nikah/angpau, apakah balik modal... dsb Tapi, semua pikiran ini mendadak secara perlahan tapi pasti mulai luntur terbasuh oleh salah satu episode hidup yg terjadi pada saat ane pulang dari pesta resepsi teman ane tersebut. Di perjalanan pulang, sambil berjalan kaki, mencari KOASI, ane melihat sekeluarga tukang pulung barang bekas.. ya, sekeluarga, dengan semangatnya mengeksplorasi daerah tsb demi mencari barang bekas, sampah yg bisa dijual untuk menyambung denyut hidup mereka, mendapatkan sekeping uang demi sesuap nasi. Dengan semangat mereka mengumpulkan kardus, gelas aqua plastik, botol plastik aqua, dsb. Ada yg naik sepeda bekas, dan ada yg berjalan kaki, serta rombongan utama mereka, beberapa orang... mendorong gerobak yg didalamnya berisi barang bekas dan... ada seorang anak kecil yg menangis nyaring, menyayat hati... seolah protes tdk ada kepedulian dan kebahagiaan utknya. Ah, inikan episode sinetron kehidupan biasa, cuma lebih asli dari yg ada di TV... apa yg luar biasa? Ini biasa!!! dan hati kita sudah ba'al, kebal dgn adegan ini...tiada rasa di hati ini. Tapi... bukan ini yg menggugah ane... adegan berikutlah yg menggedor kesadaran ane... Tiba-tiba... disela tangisan nyaring si otong (bocah cilik tsb), kakaknya yg sedang naik sepeda bekas bersuara keras, dia berkata: "Ah payah, adik nangis terus... MEMANGNYA MENANGIS BISA MENGHASILKAN UANG???" Bayangkan, dengan kehidupan yg begitu kejam, tdk sedikitpun mengikis keoptimisan keluarga pemulung tsb utk bertahan hidup, bahkan mereka jalani dengan semangat, dan mereka cela segala rasa hina diri, kecil hati, kekhawatiran, dan kesedihan. Karena mereka yakin, hanya dengan optimis, semangat hidup membaja, hidup terasa indah. Jika mereka mau, mereka bisa menjadi pengemis, yg dengan meratap, menangis, bisa mendapatkan uang. Tapi mereka tidak mau, harga diri mereka tdk ternilai dgn uang, karena dibuat dari semangat membaja bahwa hidup ini adalah optimis berjuang!!! Jadi.... ane malu, kamu malu juga tidak, masih berkeluh-kesah terhadap kehidupan ini, seolah susah dan tidak adil, tetapi mereka keluarga pemulung malah optimis dan semangat serta riang bertahan hidup dalam kondisi yg menghimpit. Slogan mereka adalah: "MEMANGNYA MENANGIS BISA MENGHASILKAN UANG???" Regards, Nugon
