Disadur dari Rubrik Kajian Utama (Dirosat) pada Majalah Tarbawi
Edisi 146 Th. 8, DzulHijjah 1427H, 4 Januari 2007M
Walaupun dari majalah rohani agama Islam, namun isinya universal
(tidak terkait issue SARA), sehingga ane putuskan ane sharing dengan
rekan-rekan sekalian.
Wassalam,
Nugon
-=-=-=-=-=-=-
-=# Kesadaran untuk Selalu Memberi #=-
Ibu itu tengah berdialog dengan anaknya. Dalam 'Aiko and Her Cousin
Kenichi', kumpulan kisah-kisah inspiratif, keduanya tengah saling
belajar tentang kemiskinan. Tapi sejatinya mereka tengah berdialog
tentang kesadaran bahwa sebenarnya setiap kita bisa memberi. Kita
sebenarnya tidak miskin.
"Apakah Kemiskinan itu Bu? Anak-anak di taman bilang kita
miskin. Benarkah itu, Bu?" tanya sang anak.
"Tidak, kita tidak miskin, Aiko," jawab ibunya.
"Apakah kemisikinan itu?" Aiko, sang anak, bertanya lagi.
"Miskin berarti tidak mempunyai sesuatu apapun untuk
diberikan kepada orang lain."
Aiko agak terkejut.
"Oh? Tapi kita memerlukan semua barang yang kita punyai,
apakah yang dapat kita berikan?" katanya menyelidik.
"Kau ingatkah perempuan pedagang keliling yang ke sini
minggu lalu? Kita memberinya sebagian dari makanan kita
kepadanya. Karena ia tidak mendapat tempat menginap di kota,
ia kembali ke sini dan kita memberinya tempat tidur."
"Kita menjadi bersempit-sempitan," jawab Aiko.
Tapi sang ibu tak kalah sigap. "Dan kita sering memberikan
sebagian dari sayuran kita kepada keluarga Watari, bukan?" katanya.
"Ibulah yang memberinya. Hanya saya sendiri yang miskin.
Saya tak punya apa-apa untuk saya berikan kepada orang lain."
Sang ibu tersenyum dan mengalihkan pandangan teduh pada
anaknya, "Oh, kau punya. Setiap orang mempunyai sesuatu untuk
diberikan kepada orang lain. Pikirkanlah hal itu dan kau akan
menemukan sesuatu."
Tak lama setelah itu, sang anak pun mendapatkan
jawabannya. "Bu! Saya mempunyai sesuatu untuk saya berikan. Saya
dapat memberikan cerita-cerita saya kepada teman-teman saya. Saya
dapat memberikan kepada mereka cerita-cerita dongeng yang saya
dengan dan baca di sekolah."
"Tentu! Kau pintar bercerita. Bapakmu juga. Setiap orang
senang mendengar cerita."
"Saya akan memberikan cerita kepada mereka, sekarang ini
juga!"
Ibu dan anak itu, telah meneguhkan sebuah kesadaran besar, bahwa
setiap kita bisa memberi. Ini lebih dari sekedar sebuah kesadaran
sosial. Tapi kesadaran untuk menjadi berarti lantaran membagi
kebahagiaan untuk orang lain.
Dahulu, di kota Madinah yang mulia, kesadaran sosial mewujud pada
banyak sosok. Mungkin kita pernah mendengar kisah Ali Zainal Abidin
rahimahullah. Tokoh tabi'in uang terkenal karena sikap pedulinya
terhadap anak yatim, fakir dan miskin dan hamba sahaya.
Diriwayatkan, ia membiayai kehidupan seratus keluarga miskin.
Sebagian penduduk Madinah selalu menerima bahan makanan pada malam
hari yang digunakan untuk menjalani hidup mereka. Tapi setelah
sekian lama, mereka tidak tahu dari mana makanan itu dan siapa yang
membawanya.
Tiba-tiba saja, terdengar kabar wafatnya seorang shalih Ali Zainal
Abidin yang kerap disebut sebagai As Sajjad karena banyak melakukan
sujud. Dan hari-hari penduduk miskin di Madinah pun berubah,
lantaran tak ada lagi makanan yang sampai ke depan pintu mereka di
malam hari. Sebagian penduduk mulai bertanya-tanya, kenapa mereka
tidak mendapatkan makanan lagi? Mereka pun menyimpulkan kondisi itu
dengan berkata: "Kami telah kehilangan sedekah secara diam-diam,
karena Ali Zainal Abidin telah meninggal dunia".
Ketika itu, mereka mengetahui siapa sebenarnya orang yang memberi
bahan makanan kepada mereka setiap malam dahulu. Dialah Ali Zainal
Abidin yang setiap malam memikul bergoni-goni makanan dan roti lalu
ia membagikannya ke rumah-rumah fakir miskin, seraya berbisik kepada
dirinya, "Bersedekah secara diam-diam akan memadamkan api murka
Allah."
Kesimpulan tentang kesadaran Ali Zainal Abidin terhadap kesulitan
yang ia saksikan pun dipertegas lagi dengan kondisi jenazahnya.
Ketika ia dimandikan, bahunya terlihat mengapal sehingga menjadi
perhatian banyak orang. Dan jawabannya, adalah bekas hitam di
bahunya adalah karena ia sepanjang tahun, seringnya memikul bahan
makanan untuk dibagikan kepada fakir miskin.
Itu sejarah kesadaran sosial yang terjadi ratusan tahun lampau.
Seorang Ali Zainal Abidin telah menempatkan dirinya sebagai pemberi
yang mungkin tidak terobsesi menerima. Dia bukan terjemahan dari
konsep 'take and give' yang banyak menjadi acuan orang zaman ini, di
mana memberi harus memberi efek menerima. Kalaupun ada konsep
memberi dan menerima dalam hati orang shalih seperti Ali Zainal
Abidin, maka ia menerima hanya balasan yang Allah berikan kepadanya.
Ya, seperti yang terlantun dari lisannya, "Agar Allah swt
menghindarinya dari api kemurkaan."
Akhlak tentang kesadaran terhadap kehidupan orang lain, dimiliki
oleh qudwah yang tak ada bandingnya, yakni Rasulullah saw. Utusan
Allah itu bahkan disebut sebagai "orang yang tak takut miskin karena
memberi". Dialah yang menanamkan prinsip menolong orang lain untuk
menolong diri sendiri. Perhatikanlah bagaimana sabdanya, "Allah swt
selalu menolong seorang hamba, selama hamba itu menolong
saudaranya." Atau, sabdanya yang lain, "Barangsiapa yang memberi
kemudahan kepada saudaranya, maka Allah akan memberi kemudahan
baginya di dunia dan akhirat." Itu adalah prinsip-prinsip memberi
dan menerima yang ditanamkan Rasulullah saw. Memberi kepada sesama,
dan hanya terobsesi untuk menerima dari Allah swt. Sehingga pada
praktiknya, prinsip itu berubah menjadi memberi dan memberi, 'give
and give'. Sebab penerimaan itu tidak datang dari manusia tapi dari
Allah swt.
Di zaman ini ada pula orang yang begitu banyak peran dan bantuannya
kepada orang miskin. Seorang penderma yang begitu banyak
memperhatikan fakir miskin. Ia Muslim asal dari Bangladesh, Muhammad
Yunus namanya. Ia mendapat anugerah Nobel Perdamaian dan disebut
sebagai tokoh bank orang miskin. Ia penggagas Bank Grameen yang
telah menyediakan lebih dari 5.7 juta dolar Amerika berbentuk
pinjaman kecil atau pembiayaan kredit mikro kepada orang-orang
miskin di Bangladesh. Dengan hasil terobosan itu, ia dengan izin
Allah telah menyelamatkan jutaan orang miskin keluar dari perangkap
kemiskinan. Dan kini konsep pemikirannya menjadi model perbankan
yang dicontoh oleh 100 negara dari berbagai negara dunia.
Muhammad Yunus mempunyai falsafah, memberi kaum fakir seekor ikan
berarti memberikan mereka makan untuk hari itu. Tetapi dengan
mengajar mereka memancing, akan memberi mereka makan sepanjang
hidupnya. Karena itulah, kiprah Muhammad Yunus untuk membantu orang
miskin tidak pada pemberian sedekah kepada orang-orang yang meminta-
minta sedekah. Kata Muhammad Yunus, "Saya juga merasa terketuk.
Kadang saya sangat tertekan bila menolak permintaan orang itu,
tetapi saya menahan diri dari memberi mereka." Ia melanjutkan, "saya
lebih suka membantu menyelesaikan masalah mereka daripada hanya
memberikan uang dan menjaga mereka untuk hari tertentu saja."
Muhammad Yunus adalah profesor ekonomi kelahiran Chittagong tahun
1940, yang merupakan pusat bisnis di Bengal Timur. Tahun 1976 ia
meminjam sebanyak 27 juta US dollar kepada 42 orang wanita di sebuah
kampung yang berdekatan dengan rumahnya di selatan pelabuhan
Chittagong, agar orang-orang miskin terlindung dari rentenir.
Grameen yang dalam bahasa Benggali berarti kampung hari ini,
mengeluarkan uang berjuta-juta dolar setiap bulan kepada 6.6 juta
peminjam yang 96 persennya adalah wanita. Yayasan Grameen yang
didirikan tahun 1977, kini memiliki jaringan di seluruh dunia dengan
52 perusahaan di 22 negara yang membantu sekitar 11 juta orang di
Asia, Afrika, Timur Tengah dan Amerika.
Mengajak untuk peduli sosial, memberi bantuan kepada orang lain,
menolong atau memberikan jasa, mengeluarkan infak dan sedekah,
sering memunculkan pertanyaan, "Bagaimana saya bisa membantu orang
lain? Saya sendiri dalam kondisi kurang dan membutuhkan." Sementara
Rasulullah saw menanamkan nilai bersedekah ini, justru pada saat
seseorang sulit mengeluarkannya.
Suatu hari datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw dan
bertanya, "Ya Rasulullah, sedekah apa yang paling besar pahalanya?"
Rasul saw mengatakan, "Engkau bersedekah sedangkan engkau sedang
dalam kondisi sehat, sangat membutuhkan, takut miskin, dan punya
obsesi menjadi kaya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjelaskan bahwa dalam situasi seseorang bertanya "Apa
yang bisa saya bantu, karena saya juga dalam kondisi membutuhkan"
tadi itulah, bobot pahala sedekah. Semakin seseorang berada pada
posisi dilematis antara keinginan dirinya terhadap apa yang akan
disedekahkan, semakin tinggi nilai sedekahnya jika benar-benar
dilakukan. Tentu saja kesadaran memberi kepada orang lain, tidak
selalu berupa benda, materi, yang, atau bantuan yang memiliki nilai
nominal. Tapi bisa berupa pikiran, waktu, ide-ide fisik, atau apapun
yang bisa kita beri dan bermanfaat.
Sekarang, kita layak bertanya pada diri sendiri, apa yang akan kita
berikan untuk orang lain? Ingat, setiap kita punya sesuatu yang bisa
kita berikan kepada orang lain. Pikirkanlah baik-baik apa sesuatu
itu. Niscaya kita akan menemukannya.