Ringing Tone Seruling Bambu Aku dapat kiriman nada sambung dengan bunyi seruling bambu yang memperdengarkan tembang sunda, judul aslinya saya tidak tahu tapi saya menyukainya sehingga ringing tone handphone ku pun mengaplikasikannya. Pokoknya siapa saja yang menelepon HPku maka suara seruling bambu akan melengking menyayat hati.
Rumi pernah menulis tentang suara seruling yang menyayat hati ini dengan menyebutnya sebagai isak tangisan sang seruling karena merindukan rumpun bambu yang melahirkannya. Padanan yang diberikan Rumi sangat aku setujui. Kesempurnaan seruling bambu adalah menjadi bambu seperti yang diidealkan oleh tumbuhan tersebut. Sesungguhnya proses kesempurnaan dan kesempurnaan pada tumbuhan itu bersifat niscaya dan terpaksa karena tunduk dan terpenuhinya factor dan kondisi luar diri mereka. Sebuah pohon tidak tumbuh dengan kehendaknya sendiri, ia tidak menghasilkan rumpun bambu sesuai kehendaknya, karena tumbuhan tidak memiliki perasaan dan kehendak. Berbeda dengan binatang; ia memiliki kehendak dan ikhtiar itu timbul dari nalurinya semata, dimana proses dan aktivitasnya terbatas hanya pada terpenuhi kebutuhan-kebutuhan alamiah dan atas dasar perasaan yang sempit dan terbatas pada kadar indra hewaninya saja. Adapun manusia, disamping memiliki segala kelebihan yang dimiliki tumbuhan dan hewan, iapun memiliki dua keistimewaan lainnya yang bersifat ruhani. Dari satu sisi, keinginan fitrahnya tidak dibatasi oleh kebutuhan-kebutuhan alami dan material, dan dari sisi lain ia memiliki akal yang dapat memperluas pengetahuannya sampai pada dimensi-dimensi yang tak terbatas. Sebagaimana kesempurnaan yang dimiliki oleh tumbuhan bambu itu bisa berkembang dengan perantara potensinya yang khas, juga kesempurnaan yang dimiliki oleh binatang itu dapat dicapai dengan kehendaknya yang muncul dari naluri dan pengetahuannya yang bersifat inderawi, demikian pula dengan manusia. Kesempurnaan khas manusia pada hakikatnya terletak pada ruh yang dapat dicapai melalui kehendaknya dan arahan-arahan akalnya yang sehat yaitu akal yang telah mengenal berbagai tujuan dan pandangan yang benar. Ketika ia dihadapkan pada berbagai pilihan, akalnya akan memilih sesuatu yang lebih utama dan lebih penting. Dari sini dapat kita ketahui bahwa perbuatan manusia itu sebenarnya dibentuk oleh kehendak yang muncul dari kecenderungan-kecenderungan dan keinginan-keinginan yang hanya dimiliki oleh manusia dan atas dasar pengarahan akal. Adapun perbuatan yang dilakukan karena motif hewani semata-mata adalah perbuatan yang tentunya, bersifat hewani pula, sebagaimana gerakan yang timbul dari kekuatan mekanik dalam tubuh manusia semata-mata merupakan gerakan fisik saja. Secara fitrah manusia memiliki kecenderungan untuk berusaha menemukan kesempurnaan insaninya dengan melakukan perbuatan-perbuatan. Akan tetapi untuk memilih perbuatan-perbuatan yang dapat menyampaikannya kepada tujuan-tujuan yang diinginkan, terlebih dahulu ia harus mengetahui puncak kesempurnaanya. Puncak kesempurnaanya ini hanya akan dapat diketahui manakala ia telah mengenal hakikat dirinya, awal dan akhir perjalanan hidupnya. Kemudian ia harus mengetahui hubungan yang baik maupun negative- diantara berbagai perbuatan dengan aneka ragam jenjang kesempurnaan, sehingga ia dapat menemukan jalannya yang tepat. Selama ia belum mengetahuiu dasar-dasar teoritis pandangan dunia ini, ia tidak akan dapat menemukan sistem nilai dan ideologi yang benar. Tiba-tiba nada ringing tone seruling bambu terdengar di HPku, tapi aku tidak mengangkatnya, karena dia masih memberikan pelajaran bagaimana harus bersikap kepada Yang Menciptakannya. Aku merindukan Sang Pemilik Kehidupan, yang memberikan kehidupan dan sekaligus mengakhirinya. Salam, Http://ferrydjajaprana.multiply.com [Non-text portions of this message have been removed]
