Banjir Lima Tahunan

Lepas lima tahun dari tahun 2002 banjir melanda komplek rumahku di daerah 
Kelapa Gading, Jakarta Utara, rasanya masih di bulan yang sama dan tanggal 
yang sama (2 Feb.), ini adalah siklus lima tahunan, Jakarta disapu bah.

Dan dua kali pula rumahku mengalami kebanjiran. Seakan sudah mafhum, aku 
hanya menyiapkan kedatangannya, dengan menyimpan barang-barang ke lokasi 
yang lebih tinggi.

Di warung kopi aku nangkring diatas meja, dan bangkunya menjadi alas kaki. 
Sementara itu air satu dengkul mengalir deras dibawah kakiku, dalam upaya 
menghindari sakit masuk angin kami memesan kopi dan mie rebus untuk 
mengganjal perut yang mulai kosong, bergabung dengan warga satu RW yang 
hendak melihat-lihat dari mana sumber air bah itu mengalir.

Untuk menghidupkan suasana, kami ngobrol 'ngalor-ngidul' mulai dari tak 
adanya upaya persiapan pemda DKI sampai menganggap bahwa banjir ini adalah 
rutinitas lima tahunan dan menganggap wajar, ada juga yang membawa masalah 
ini kepada forum ketuhanan dan beranggapan bahwa bencana ini akibat ulah 
manusia  dan dosanya.

Membahas masalah bencana, kita bisa membawa masalah ini  sebagai akibat 
langsung  dari alam, karena curah hujan yang besar dan sumber utamanya dari 
pemanasan global. Tak dilupakan akibat dari tanah yang ditinggali adalah 
daerah rendah. Bukankah hukum air selalu menempati daerah rendah?

Lebih pelik lagi membawa masalah ini kedalam ranah spiritual, adakah hal 
ini ada campur tangan Tuhan atau murni akibat kesalahan manusia karena 
tidak arif  terhadap lingkungannya?

Sebenarnya banjir adalah suatu hal yang lazim dari perbuatan materi. Hanya 
saja akibat buruknya itu  lebih besar dibandingkan dengan manfaatnya 
sehingga disebut dengan bencana. Tetapi justru apabila kita jeli melihat 
sesuatu hal, dari setiap sisi suatu bencana biasanya akan ada dampak 
positipnya, kita menyebutnya hikmah Ilahiah.

Hikmah apa yang berhasil aku cermati di komplekku? Pertama, para pemulung 
mendapatkan rezeki hanya dengan berdiri di sudut jalan saja, botol-botol 
plastik dan  beberapa material yang biasa di daur ulang mendatanginya 
akibat dibawa arus air yang merubah jalan menjadi sungai, mereka tinggal 
mengumpulkannya dalam satu karung. Ada juga yang gerobaknya untuk 
mengangkut orang yang mau menyeberang dan sepeda motor yang mogok. Bantuan 
mereka diganti dengan pengguna jasa dengan nilai uang yang lebih dari 
cukup. Sungguh suatu system simbiosis mutualisma yang mulai bergerak, 
dibanding rutinitas kehidupan sehari-hari.

Manusia adalah mahluk sempurna, yang tentunya tidak akan tinggal diam, 
disini biasanya akan ada upaya untuk berusaha mencari jalan keluar dan 
menggali potensi kemanusiaan yang tersembunyi yang selanjutnya akan 
menempanya menjadi manusia yang maju dan diharapkan akan meningkatkan taraf 
kehidupannya. Seperti kami  ini yang sedang menghirup kopi , akhirnya bisa 
bersosialisasi dengan masyarakat setempat, seperti kita ketahui gaya 
kehidupan ibukota biasanya mengarahkan diri ini menjadi manusia yang egois 
'Elo-Elo-Gue-Gue'.

Tujuan diciptakannya manusia oleh Tuhannya adalah mendapatkan kebahagiaan 
yang hakiki. Kebahagiaan hakiki yang sebenarnya adalah di di sisi Nya di 
alam akherat. Tetapi tentunya untuk mengejar kebahagiaan yang hakiki ini 
kita mencoba mendekatkan diri kita kepada-Nya Sang Pencipta. Selain itu 
tujuan manusia diciptakan juga untuk menguji manusia, untuk melihatnya 
usahanya, baik usaha yang positip maupun negatip, baik ataupun buruk, 
selanjutnya memberi pahala dan siksa , demikianlah sehingga tujuan 
penciptaan terpenuhi.

Dalam musibah banjir seperti ini diperlukan  ketabahan. Apabila ketabahan 
yang kita lakukan ini dilandasi oleh alasan-alasan yang benar dan sesuai 
dengan syariat, hal ini akan mendatangkan pahala yang abadi di akhirat 
kelak. Ketabahan itu tidak akan sia-sia, bahkan akan diberi balasan yang 
lebih mulia dan berlipat ganda.

Dengan demikian, dalil atas keadilan Ilahi dengan arti yang sesungguhnya 
dengan  semua tingkat adalah adil dan bijaksana, dan tidak ada kesia-siaan.

Sekian lama menunggu banjir reda, tetapi malah justru semakin besar saja, 
artinya aku harus kembali ke rumah untuk kembali memindahkan barang ke 
tempat yang lebih tinggi lagi, atau membiarkan saja hitung-hitung sebagai 
resiko banjir. Akhirnya aku permisi kepada rekan-rekan di warung kopi untuk 
pulang kembali berusaha menyelamatkan barang-barang.

Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke