Kesempurnaan Rasa Jeruk

Kawanku itu senang sekali dengan rasa asam, sehingga pada saat aku bawakan 
lemon (jeruk
untuk teh) dari kebun, minta agar aku bisa mengirimnya lagi seandainya aku 
pergi ke kebun.
Tadinya aku hanya memberinya iseng-iseng saja sekedar membawa oleh-oleh 
tangan, dari  liburan sabtu mingguku.

Semula aku membayangkan kalau jeruk itu yang sempurna adalah yang rasanya 
manis, tetapi  kawanku menganggap jeruk yang sempurna  adalah yang rasanya 
asam. Memang selera sulit sekali didiskusikan.

Kesempurnaan jeruk asam, logikanya pasti kalah jauh dengan kesempurnaannya 
buah asam, dan  kesempurnaannya jeruk manis pasti kalah jauh dengan 
kesempurnaannya gula. Jadi, dari  teori rasa jeruk diatas bisa diambil 
kesimpulan bahwa kesempurnaan itu memiliki definisi  masing-masing.

Rahasia kesempurnaan jeruk diatas terletak pada suatu kenyataan bahwa suatu 
wujud mempunyai batasan esensial tertentu yang hanya ia miliki sendiri, dan 
wujud itu akan mengalami perubahan menjadi wujud atau jenis lain jika ia 
‘melampaui’ dari batasan tersebut. Suatu esensi akan memiliki kesesuaian 
dan keserasian berdasarkan tabiat dan karakter dengan sejumlah sifat 
tertentu. Kesempurnaan hakikat suatu eksistensi apapun sesungguhnya lebih 
merupakan sifat, atau sifat-sifat yang menjadi tuntutan atas suatu 
aktualisasi akhir dari suatu eksistensi. Sedangkan perkara lain (yang 
dianggap sempurna), sesuai dengan keadaan pengaruh yang dimilikinya dalam 
membantu peraihan kesempurnaan, sesungguhnya merupakan pembuka bagi 
kesempurnaan yang sesungguhnya atas eksistensi yang bersangkutan.

Mencari Kesempurnaan

Jika kita amati berbagai motif yang ada dalam jiwa dan 
kecenderungan-kecenderungannya kita akan menemukan bahwa kebanyakan motif 
utama tersebut adalah keinginan meraih kesempurnaan. Kita tidak akan 
menemukan seorangpun yang menyukai kekurangan pada dirinya. Manusia 
senantiasa berusaha sekeras mungkin untuk menghilangkan berbagai cela dan 
cacat dirinya sampai ia mendapat kesempurnaan yang diinginkan. Sebelum 
menghilangkan segala kekurangannya itu ia berusaha sedapat mungkin untuk 
menutupinya dari pandangan orang lain. Apabila motif ini berjalan sesuai 
dengan nalurinya yang sehat, ia akan meningkatkan kesempurnaannya, baik 
yang bersifat materi maupun spiritual. Namun, bila motif ini menyimpang 
dari jalannya yang normal – lantaran faktor-faktor dan kondisi tertentu- 
justru akan melahirkan sifat-sifat yang buruk seperti congkak, sombong, 
riya dan lain-lain.

Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa ingin sempurna merupakan faktor 
yang kuat di dalam jiwa setiap manusia. Akan tetapi, biasanya faktor ini 
terefleksikan dalam sikap nyata yang dapat menarik perhatian. Kalau saja 
direnungkan sejenak, kita akan dapat mengetahui bahwa sesungguhnya dasar 
dan sumber berbagai sikap lahiriah itu adalah cinta kepada kesempurnaan.


Akal sebagai kesempurnaan Manusia

Sesungguhnya proses kesempurnaan pada tumbuhan itu bersifat niscaya dan 
terpaksa karena  tunduk dan terpenuhinya faktor dan kondisi luar diri 
mereka. Sebuah pohon tidak tumbuh  dengan kehendaknya sendiri, ia tidak 
menghasilkan buah-buahan sesuai kehendaknya, karena  tumbuhan tidak 
memiliki perasaan dan kehendak. Berbeda dengan binatang; ia 
memiliki  kehendak dan ikhtiar itu timbul dari nalurinya semata, dimana 
proses dan aktivitasnya terbatas  hanya pada terpenuhi kebutuhan-kebutuhan 
alamiah dan atas dasar perasaan yang sempit dan  terbatas pada kadar indra 
hewaninya saja.

Adapun manusia, disamping memiliki  segala kelebihan yang dimiliki tumbuhan 
dan hewan,  ia pun memiliki dua keistimewaan lainnya yang bersifat ruhani. 
Dari satu sisi, keinginan  fitrahnya tidak dibatasi oleh 
kebutuhan-kebutuhan alami dan material, dan dari sisi lain ia  memiliki 
akal yang dapat memperluas pengetahuannya sampai pada dimensi-dimensi yang 
tak  terbatas.

Sebagaimana  kesempurnaan yang dimiliki oleh tumbuhan itu bisa berkembang 
dengan        perantara potensinya yang khas, juga kesempurnaan yang 
dimiliki oleh binatang itu dapat         dicapai dengan kehendaknya yang 
muncul dari naluri dan pengetahuannya yang bersifat  inderawi, demikian 
pula dengan manusia. Kesempurnaan khas manusia pada hakikatnya 
terletak         pada ruh yang dapat dicapai melalui kehendaknya dan arahan 
akalnya yang sehat yaitu akal  yang telah mengenal berbagai tujuan dan 
pandangan yang benar. Ketika ia dihadapkan pada berbagai pilihan, akalnya 
akan memilih sesuatu yang lebih utama dan lebih penting.

Dari sini dapat kita ketahui bahwa perbuatan manusia itu sebenarnya 
dibentuk oleh kehendak  yang muncul dari kecenderungan-kecenderungan dan 
keinginan-keinginan yang hanya dimiliki  oleh manusia dan atas dasar 
pengarahan akal. Adapun perbuatan yang dilakukan karena motif  hewani 
semata-mata adalah perbuatan yang tentunya, bersifat hewani pula, 
sebagaimana gerak     yang timbul dari kekuatan mekanik dalam tubuh manusia 
semata-mata  merupakan gerak fisis  saja.

Secara  fitrah manusia memiliki kecenderungan untuk berusaha menemukan 
kesempurnaan  insaninya dengan melakukan perbuatan-perbuatan. Akan tetapi 
untuk memilih perbuatan-perbuatan yang dapat menyampaikannya kepada 
tujuan-tujuan yang diinginkan, terlebih dahulu  ia harus mengetahui puncak 
kesempurnaannya.

Puncak kesempurnaanya ini hanya akan dapat diketahui manakala ia telah 
mengenal hakikat  dirinya, awal dan akhir perjalanan hidupnya. Kemudian ia 
harus mengetahui hubungan yang  baik maupun tidak baik - diantara berbagai 
perbuatan dengan aneka ragam jenjang  kesempurnaan, sehingga ia dapat 
menemukan jalannya yang tepat. Selama ia belum       mengetahui dasar-dasar 
teoritis pandangan dunia ini, ia tidak akan dapat menemukan 
sistem       nilai dan ideologi yang benar

Untuk itu temukan diri anda sendiri. Menemukan diri anda yang hakiki, anda 
akan mengerti  dimana Tuhan itu berada seperti yang disebut dalam suatu 
riwayat “Dengan mengenali diri  maka akan mengenal Tuhannya”.

Salam,
Http://ferrydjajaprana.multiply.com


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke