Wah Binusian yg tinggal di Jakarta boleh bangga neh,
karena Jakarta berdasarkan penelitian mendapatkan
penghargaan sebagai kota terkorup di Indo.    Mungkin
sesama negara ASEAN juga juara ke 1.     

Coba kalau Indo tingkat korupsinya ngak nomor 1 di
dunia, tapi terendah di ASEAN mungkin hasilnya :

1.  Ngak ada lagi yg jualan makanan ikan/daging
formalin,  beras ber-klorin,  tepung terigu palsu yg
kemaren ketemu, dll.. 
http://www.kompas.co.id/ver1/Kesehatan/0703/02/084629.htm

2.  Penumpang busway di koridor yg baru ngak bakalan
menunggu bus lewat tiap 40 menit sekali..  Soalnya 1
bus bekas Mayasari, PPD yg direnovasi itu biayanya 1
Milyar / bus..  Kalau pake normal contoh bisa renov
100 bis dengan biaya segitu buat user, tapi dengan
harga 1 M / busway akhirnya cuma dapat 10 bus.  Jadi
penumpang nungguinnya kelamaan. :D 

3. Jalan layang roxy yg melintasi rel kereta, mulai
roxy mas dan turun di roxy square mungkin dalam 5- 8
bulan sudah jadi,  ngak seperti sekarang sudah
bertahun tahun tinggal tiang nya doank. Tambah macet
dan banyak preman malah iya.. 

4.  Monorel yg dulu katanya 2007 udah bisa dinikmati
warga supaya dapat ransportasi murah.. tapi sekarang
kan jadi proyek macet.. tinggal tiangnya doank.. 
Apalagi MRT yach ??  Padahal waktu mo bikin kan para
pejabat udah "study banding" ke korea (teknologi
samsung),  jerman (mrt teknologi siemens), dan ke
hongkong.. :D

5. Banjir kanal pasti sudah jadi sejak 5 tahun lalu..
jadi Binusian ngak bakalan kena banjir tiap tahun.. 
:D




berikut kutipannya.. 
http://www.suarapembaruan.com/News/2007/03/01/index.html

Survei Transparency International Indonesia

Jakarta Kota Paling Korup
[JAKARTA] Jakarta kembali digelari kota terkorup oleh
Transparency International Indonesia (TII), lembaga
yang banyak meneliti masalah transparansi penggunaan
keuangan negara. Gelar buruk ini merupakan yang kedua
kalinya setelah gelar yang sama di tahun 2002 lalu,
juga oleh TII. 

Menurut Ketua Dewan Pengarah TII, Todung Mulya Lubis,
di Jakarta, Rabu (28/2), Kota Jakarta memiliki IPK
(Indeks Persepsi Korupsi) 4.00. Terkorup lainnya
adalah Maumere, Mataram, dan Gorontalo.

Sementara kota yang dipersepsikan terbersih dari
korupsi, diterima sejumlah kota di wilayah pedalaman.
Secara berturut-turut adalah Palangkaraya, Wonosobo,
Tanah, Datar dan Pare-pare. "IPK-nya di atas 6. Total
ada 12 kota yang masuk IPK-nya di atas enam," ujar
Todung. 

Survei IPK 2006 dilakukan TII di 32 kota di seluruh
Indonesia. Salah satu variabel yang dipakai untuk
menentukan nilai IPK (0-10) adalah kasus suap atau
penggelembungan (mark up) yang terjadi sebelum dan
sesudah tender proyek pengadaan di lingkungan
pemerintah daerah.

Beragam tanggapan pun muncul dari berbagai kalangan
atas temuan tersebut. Wali kota Jakarta Pusat, Muhayat
misalnya, yang meragukan objektivitas penilaian
tersebut. Menurut Muhayat, 70 persen peredaran uang
nasional berada di Jakarta, sehingga sangat mungkin
terjadi bias pada temuan tersebut. 

Sebagai Ibukota Negara, Jakarta sangat dipengaruhi
oleh praktik penyelenggaraan pemerintah pusat,
termasuk dalam penggunaan dana APBN. 

Muhayat juga mempertanyakan basis penilaian IPK, jika
itu ditujukan khusus terhadap Pempeov DKI. Jika
disebutkan karena banyaknya penggelembungan dalam
tender pengadaan di Pemprov DKI, berapa yang di mark
up dan berapa yang tidak. "Apakah betul yang di mark
up lebih besar dari yang tidak di-mark-up" ujarnya.

Sementara itu, Wali Kota Jakarta Timur, Koesnan A
Halim memilih untuk tidak berkomentar mengenai temuan
tersebut. Menurut Koesnan, isu ini sangat sensitif
sehingga ia tidak berani berkomentar.


Sentra Perputaran Uang

Sementara itu, Guru Besar Universitas Indonesia, Prof
Imam Prasojo menilai, DKI Jakarta sangat berpeluang
menjadi kota terkorup karena sebagai Ibukota Negara
merupakan sentra perputaran uang dan pusat aktivitas
ekonomi nasional. "Kondisi tersebut, menjadi lebih
kuat peluangnya mengingat masih lemahnya upaya
reformasi birokrasi di linkungan Pemda DKI Jakarta,"
ujarnya.

Tingginya persepsi korupsi akibat masih maraknya
praktik-praktik terindikasi korupsi di titik-titik
layanan publik, mulai dari pengurusan dokumen di
tingkat kelurahan hingga di tingkat dinas,
praktik-praktik tersebut masih kerap dikeluhkan warga.


"Jadi, selama belum dilakukan reformasi layanan publik
atau reformasi birokrasi, maka predikat Jakarta
sebagai kota terkorup sulit dilepaskan," ujarnya. 

Eko menyontohkan kasus pungutan liar pada pengurusan
akte kelahiran yang disorot media beberapa waktu lalu
di suku dinas kependudukan di salah satu wilayah
Jakarta. Padahal jelas-jelas, diatur dalam peraturan
daerah bahwa pengurusan akte kelahiran gratis atau
tidak dipungut biaya. [L-11]




 
____________________________________________________________________________________
Get your own web address.  
Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/domains/?p=BESTDEAL

Kirim email ke