Berlibur di Panti Narkoba Al Inabah

"Mensana In Corpore Sano" . Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang 
sehat. Kenyataan ini menipu pandanganku, karena dihadapanku banyak pecandu 
narkoba yang tampaknya badannya sehat-sehat saja tapi kenyataan jiwanya 
rapuh.Mereka adalah generasi penerus yang sedang dalam perawatan KH Anwar 
Mahmud di Wisma Inabah VII, di desa Raja Polah, Tasikmalaya.

Liburanku kali ini memang sedikit beda dari liburan biasanya untuk sekedar 
melepas rutinitas ibukota. Sekarang aku berada di Desa Raja Polah, suatu 
desa dengan panorama alam indah, dengan penduduknya bermata pencaharian 
sebagai petani dan pengrajin bambu serta pernak-pernik.

Untuk mencapai desa ini, sekitar lima jam perjalanan dari Jakarta, jarak 
perjalanan yang cukup jauh tetapi  tidak melelahkan.

Dalam perbincangan santai, Kiai Anwar Mahmud menjelaskan bahwa Narkotik itu 
bukan obat tetapi penyakit. Sehingga apabila seseorang sudah mencoba 
berkenalan dan mencoba narkoba akan sulit lepas darinya dan narkoba itu 
sudah ada semenjak sebelum Nabi Isa AS lahir.

Apa yang dijelaskan Kiai, ada sisi yang berbeda dalam menanggapi masalah 
sakit ketergantungan obat ataupun narkoba tersebut. Umumnya kita orang awam 
menganggap bahwa penyakit ketergantungan obat adalah penyakit psychis yang 
berhubungan dengan syaraf. Tetapi menurut sang Kiai bahwa penyakit 
ketergantungan ini adalah sakit mental yang bersifat ruhiah, sehingga 
pengobatannya harus dilepas dari ketergantungan. Caranya, pertama  dengan 
menggugah jiwa untuk mendengarkan panggilan agama. Ke dua, memberikan 
wawasan pandangan hidup dan terakhir memberikan pelajaran agar pesakitan 
bisa diterima normal dalam kehidupan bermasyarakat.

Proses penyembuhan yang diajarkan kepada pelatihan adalah detoksifikasi 
yaitu melatih diri untuk melepas dari berbagai bentuk yang merugikan sampai 
berhasil baik ditinjau dari aspek kognitif dan psiko motoris.

Pengobatan ala sufistik yang dilakukan di Inabah bukanlah hanya teori, 
tetapi nyata-nyata diterapkan dengan sumber utama dari menggali ayat-ayat 
Al Quran dan Al Hadis. Dari ayat-ayat itu dirumuskan tatacara menerapi 
penyakit jiwa bagi pasien. Dijelaskan kepada para pasien tersebut menuju 
kesempurnaan jiwa, dengan membangkitkan ruh keimanan dalam jiwa yang lemah, 
mengajak mereka memperkuat tekad, membersihkan niat, dan menyerahkan segala 
urusan kepada Allah, dan takwa kepadanya. Hal tersebut dilakukan dalam 
suatu tahapan spiritual yang merupakan terapi dan jaminan bagi kestabilan 
serta ketegaran jiwa.

Ditanya perihal masalah yang dihadapi, Kiai menjelaskan bahwa seperti sudah 
diterka, bahwa biaya adalah menjadi dilema karena keberlangsungan Inabah 
tergantung kepada donatur maupun wali dari pasien, sehingga banyak 
prasarananya yang masih dirasa kurang. Apalagi perhatian pemerintah sangat 
kurang setelah dihapuskannya Departemen Sosial, sudah tidak ada lagi 
sumbangan yang datang, padahal pada jaman pemerintahan Orba, masih ada 
sumbangan pemerintah walaupun tidak besar jika dibandingkan dengan kerajaan 
Malaysia yang menyumbangkan gedung dan tenaga di Inabah cabang Malaysia, 
demikian dijelaskan Kiai.

"Kenapa tidak mencoba minta kepada Pemerintah?" tanyaku memancing. Menurut 
Kiai, tak perlu meminta, sambil menyitir ucapan Abah Anom yang 
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, artinya "Susah orang hidup itu 
seperti menyeberang di jembatan rusak, sama saja menyeberang di jembatan 
yang bagus, sehingga menyeberang nyaman", maksudnya walaupun sulit tidaklah 
perlu meminta-minta, bakal sama sampainya walaupun pelan-pelan.

Sungguh menarik di perkampungan yang hijau ini, sayangnya aku masih ada 
rencana lain bermalam di Pesantren Suryalaya, yang jauhnya masih sekitar 10 
km menuju arah ke Bandung dari Tasikmalaya.

Salam,

Http://ferrydjajaprana.multiply.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke