Cicak Di Dinding Kecoa itu puyeng tujuh keliling, pergerakannya tak terkendali sehingga akhirnya ditangkap oleh cicak. Cicak itu menggigit kepalanya, berusaha melahapnya, entah kenapa kemudian dimuntahkan kembali.
Aku pungut kecoa itu dan kuberikan kepada ikan lele di belakang rumah, mereka memakannya dengan lahap. Itu drama sebabak, hari minggu kemarin di rumahku setelah disemprot dan diasapi (fogging) untuk menghindari demam berdarah, yang diselenggarakan di RT tempatku tinggal. Memperhatikan cicak di rumahku, aku tahu pasti dimana tempat tinggal mereka, ada yang tinggal di belakang lukisan di ruang tamu, dan ada juga yang tinggal di lemari dekat anak tangga di ruang makan. Aku, lebih sering memperhatikan cicak di ruang tamu, karena aku biasa duduk di situ sambil membaca buku, atau membaca koran sore. Cicak di rumahku tidak banyak tapi aku tidak pernah mengusirnya, karena keberadaannya membantu menghabisi nyamuk-nyamuk nakal. Pernah suatu waktu, rumahku kedatangan laron dengan jumlah banyak. Anehnya laron-laron itu seolah-olah tidak tahu ada cicak yang akan memangsanya, diantara mereka ada yang datang menghampiri cicak di dinding dan secara reflek cicak itu melahapnya. Pun pula ada cicak yang ngumpet dibawah sopa, terkadang hanya menampakkan kepalanya saja, apabila ada laron yang mendarat diatas lantai, tak ada ampun lagi dihabisi olehnya. Itu sepenggal cerita cicak di rumahku, di rumah tanteku lain lagi. Putrinya bahkan menginginkan cicaknya bisa dikirim ke negara Paman Sam, tempat dia berdomisili, konon di sana tidak ada cicak, sehingga dicobanya beberapa kali membawa telor cicak tapi tidak pernah sukses sampai menetas disana. Belum pernah dicoba untuk membawa cicak itu hidup-hidup, bisa jadi karena tak ada pasport untuk cicak : ) Ternyata dari kehidupan sehari-hari cicak, kita bisa belajar bagaimana cara mereka menangkap rezeki. Logikanya sewajarnya cicak itu bersayap, karena sebagian besar makanannya itu binatang serangga yang terbang, seperti nyamuk sampai laron, tapi Tuhan tidak menciptakan sayap pada dirinya. Cicak bisa hidup karena Tuhan mengirimkan rezekinya dengan mendatangkan serangga-serangga kecil. Karena tidak ada sayap, cicak cukup bermodalkan kesabaran dan ketrampilan melahap. Dan sedikit ketrampilan memuji, dengan bunyi-bunyian "Ck-ck-ck....", bisa jadi karena bunyinya yang cek-cek itu, oleh suku Jawa nama cicak disebut "cecek". Kesempurnaan cicak, adalah bergerak melangkahkan kaki untuk mencari makanan di dinding dan tempat lain yang menurutnya aman dari musuh-musuh alamiahnya yang nampak secara inderawi, kita menyebutnya hidup berdasarkan instink atau naluri. Sementara kesempurnaan manusia, hidup berdasarkan akal dan pemahaman tentang ruh yang dapat dicapai melalui kehendaknya dan arahan akalnya yang sehat yaitu akal yang telah mengenal berbagai tujuan dan pandangan yang benar. Ketika ia dihadapkan pada berbagai pilihan, akalnya akan memilih sesuatu yang lebih utama dan lebih penting. Dan puncaknya akan dapat diketahui manakala ia telah mengenal hakikat dirinya, awal dan akhir perjalanan hidupnya. Kemudian ia harus mengetahui hubungan yang baik maupun tidak baik - diantara berbagai perbuatan dengan aneka ragam jenjang kesempurnaan, sehingga ia dapat menemukan jalannya yang tepat. Selama ia belum mengetahui dasar-dasar teoritis pandangan dunia ini, ia tidak akan dapat menemukan sistem nilai dan ideologi yang benar. Kita bisa belajar dari kehidupan cicak, terutama pada kesabarannya menunggu mangsa dan kepandaiannya menangkap peluang. Cicak tak pernah berfikir untuk punya sayap, mungkin kalaupun mau dia hanya bisa melantunkan lagu "Seandainya aku punya sayap.. terbang..terbang ke awan...", dia hanya meyakini bahwa dia hidup rezekinya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Tidak perlu stres oleh karenanya, atau takut meninggal karena terjepit oleh daun pintu. Bisakah kita belajar seperti cicak itu? Kalau aku baru mau mencobanya... Salam, http://ferrydjajaprana.multiply.com [Non-text portions of this message have been removed]
