http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/16/humaniora/3378116.htm

 Jumat, 16 Maret 2007  
 
 
 

PENELITI SAINs dan TEKNOLOGI
Dicari, Generasi Muda Peminat Penelitian 


Ester Lince Napitupulu

Animo kaum muda saat ini terhadap bidang pekerjaan sebagai peneliti 
yang dinilai rendah menjadi salah satu perhatian serius para ilmuwan 
di negara maju maupun berkembang. Keresahan tidak terisinya peluang 
pekerjaan di bidang penelitian yang terbuka lebar membuat ilmuwan, 
pemerintah, dan pihak yang peduli masalah ini menyusun strategi untuk 
menarik minat kaum muda pada bidang penelitian, terutama sains dan 
teknologi.

Dari pertemuan kalangan ilmuwan pada program "L'oreal-UNESCO For 
Women in Science 2007" akhir Februari lalu di Paris, Perancis, 
kecemasan tidak populernya pekerjaan sebagai peneliti dalam bidang 
sains, material atau life science, bukan saja dikhawatirkan terjadi 
di kalangan anak perempuan. 

Secara umum, generasi muda, baik anak laki-laki maupun perempuan, di 
hampir semua negara kehilangan minat dalam bidang penelitian. 

Dari laporan yang ada, laboratorium di Eropa akan membutuhkan 70.000 
peneliti hingga tahun 2010. Namun, untuk memenuhi permintaan ini 
dirasakan agak sulit karena makin sedikit pelajar yang tertarik untuk 
merespons kesempatan ini. Anak laki-laki kehilangan minat dalam 
bidang ilmiah dan anak perempuan tidak memenuhi kesenjangan itu. 

Menurunnya minat kaum muda dalam penelitian ini dinyatakan juga oleh 
Direktur Jenderal UNESCO Koichiro Matsuura di Paris. 

Untuk itu, contoh-contoh dan kisah peneliti yang sukses di bidangnya 
masing-masing perlu diangkat ke permukaan untuk menjadi model yang 
diharapkan bisa menarik hasrat hati untuk berkecimpung dalam 
penelitian sains. 

Dibutuhkan 

Penelitian merupakan kunci untuk inovasi dan pertumbuhan. Peningkatan 
kualitas hidup manusia akan semakin terbuka lebar dengan banyaknya 
ragam penelitian di berbagai bidang. 

Dunia saat ini membutuhkan hal itu, di mana ilmu pengetahuan dan 
teknologi menjadi hal yang sangat penting untuk menemukan solusi dari 
masalah hidup umat manusia di bumi ini. 

Perancis kehilangan 10.000 mahasiswa sains dalam lima tahun terakhir. 
Penurunan itu lebih terasa untuk sains di bidang fisika, kimia, dan 
elektro, sedangkan life science masih diminati. 

Dari angka statistik OECD, penurunan itu semakin jelas terlihat pada 
kalangan anak perempuan. Ketika di akhir tahun terhitung 45 persen 
pelajar perempuan di level strata satu, tidak lebih dari 25 persen 
yang mendaftar di jurusan teknik dan 27 persen saja yang memilih 
karier di bidang penelitian. 

Dalam analisisnya, OECD mengatakan, penurunan minat yang cukup tinggi 
di kalangan anak perempuan itu lebih karena beban budaya, seperti 
adanya persepsi jika peluang sukses dalam bidang sains itu umumnya 
milik pria. 

Dari survei terhadap pelajar putri di sekolah SMP di Perancis, 
sebanyak 82 persen anak laki-laki percaya mereka mampu mencapai 
sukses di bidang sains, sedangkan yang perempuan cuma 53 persen. 

Pierre-Gilles de Gennes, peraih Nobel bidang Fisika dan Presiden Juri 
L'oreal-UNESCO For Women in Science 2007, mengatakan, kalangan 
ilmuwan dan pemerintah perlu menarik minat kaum muda dengan 
menyajikan studi sains yang lebih praktis. 

Di negara Barat, hal ini diterapkan. Upaya ini secara lebih luas juga 
dilakukan di belahan dunia yang lain, di mana sains dan infrastruktur 
masih rendah, seperti di Afrika, Eropa timur, dan Amerika Tengah. 

"Kami mempertimbangkan untuk mengadakan sekolah musim panas di bidang 
sains, di mana pelajar dari universitas berbeda bisa hadir. Mereka 
ini lebih suka belajar yang praktis daripada teori dari bidang sains 
tertentu yang tampaknya sulit. Misalnya perkenalan sains yang lebih 
praktis itu mengenai contoh aplikasi polimer atau penggunaan 
hidrodinamik di industri kimia," papar Pierre. 

Beberapa negara juga memperkenalkan sains dengan cara yang menarik 
kepada anak-anak, mulai tingkat sekolah dasar atau yang lebih rendah 
lagi. Pengenalan terhadap pentingnya sains untuk membantu peningkatan 
kualitas hidup manusia dibuat dengan cara-cara yang menyenangkan yang 
bisa dinikmati anak-anak kecil tanpa berkerut kening. 

Perusahaan seperti L'oreal, yang mengandalkan penelitian untuk 
menghadirkan produk- produk kecantikan yang dijual di 130 negara, 
juga mendukung upaya untuk mengenalkan bidang penelitian kepada kaum 
muda, khususnya anak perempuan. 

Pemilihan peneliti perempuan terbaik dari lima benua dan pemberian 
beasiswa penelitian untuk peneliti perempuan muda yang memiliki masa 
depan cerah dalam kariernya ke depan bukan sekadar pengakuan, tetapi 
juga untuk memotivasi munculnya peneliti-peneliti muda yang nantinya 
bisa menjadi peneliti berkaliber internasional. 

Richele Maramis Sung, Manajer Komunikasi Perusahaan dan Hubungan 
Masyarakat L'oreal Indonesia, mengatakan, salah satu upaya yang 
dilakukan untuk menarik minat kaum muda dalam sains, misalnya, dengan 
menggelar kemping. 

L'oreal memiliki program L'oreal Girl Science Camp, khususnya untuk 
pelajar perempuan tingkat SMP hingga SMA. Pengenalan terhadap sains 
dibuat dalam bentuk permainan sehingga menyenangkan dan mudah 
dipahami. 

Kreativitas untuk mengenalkan sains dalam bentuk yang praktis diakui 
memang lebih mudah diterima kaum muda. Misalnya, untuk bisa menarik 
minat kaum muda guna mengembangkan teknologi roket bisa diadakan 
dengan cara yang praktis sambil memperkenalkan prinsip-prinsip 
dasarnya. Roket dibuat dari bekas botol air mineral, diberi air, 
kemudian diberi tekanan sehingga bisa meluncur ke udara. 

Herudi Kartowisastro, Direktur PP Iptek TMII pada beberapa waktu yang 
lalu dalam perlombaan roket air untuk pelajar SMP di Asia Pasifik 
mengatakan bahwa kejuaraan roket air ini bertujuan menumbuhkembangkan 
semangat dan kreasi para pelajar sedunia untuk melakukan riset 
rancang bangun dan pengembangan roket serta keantariksaan sejak dini. 

"Sekarang dimulai dengan pengembangan roket air. Kelak akan muncul 
kader-kader yang bisa mengembangkan teknologi roket dunia yang 
tangguh," ujarnya. 

Di Indonesia 

Tidak antusiasnya anak muda dalam bidang penelitian juga terlihat di 
Indonesia. Arief Rachman, Pelaksana Harian Komisi Nasional UNESCO 
untuk Indonesia, mengatakan, anak muda di Tanah Air telah terasuki 
budaya instan dalam menggapai sukses. Mereka pun lebih suka memilih 
karier yang menjanjikan lebih banyak kesuksesan dalam hal pendapatan 
atau popularitas dalam waktu yang singkat. 

"Saya pernah bertanya kepada siswa apa ada yang tertarik mau jadi 
peneliti. Yang mengacungkan tangan cuma sedikit, bisa satu sampai dua 
orang saja. Saya jadi cemas juga melihat animo anak muda kita yang 
tidak berminat jadi peneliti terutama di bidang sains," ujar Arief 
yang juga dikenal sebagai pemerhati pendidikan ini. 

Menurut Arief, belum diminatinya bidang penelitian ini bisa jadi 
karena penelitian itu membutuhkan ketekunan yang luar biasa, 
sementara kebanyakan orang ingin lebih cepat melihat hasil kerjanya. 
Selain itu, pendapatan peneliti pun dinilai hampir sama dengan dosen 
alias tidak besar. Hasil penelitian juga kurang dimanfaatkan 
pengelola bangsa dalam berbagai kebijakan di tingkat daerah ataupun 
nasional. 

"Banyak pihak tahu manfaat dan pentingnya penelitian, tetapi dukungan 
untuk menjadikan penelitian sebagai salah satu bidang yang penting 
sangat minim. Penelitian pun jadi bidang yang kurang populer, padahal 
penting untuk membantu peningkatan kualitas hidup manusia dan 
bangsa," kata Arief. 

Herawati Sudoyo, Manajer Eksekutif Lembaga Penelitian Eijkman, 
mengatakan, kaum muda menilai peneliti itu terlalu serius dan kurang 
energik. Persepsi seperti ini yang coba diubah supaya kaum muda 
melirik kesempatan kerja di bidang penelitian. 

Herawati mencotohkan gedung peninggalan Belanda untuk penelitian yang 
digunakan oleh lembaganya dibuat senyaman mungkin untuk menghindarkan 
kesan kaku. Mereka juga membuka kerja sama dengan pihak yang tertarik 
untuk memperkenalkan sains dan penelitian kepada pelajar. 

"Pelajar yang datang ke sini kami biarkan untuk melakukan penelitian 
sendiri. Pengalaman seperti itu bisa membuka wawasan pelajar kita 
untuk mulai mencintai sains dan memilih karier sebagai peneliti," 
tutur Herawati. 

Menurut Herawati, prestasi peneliti Indonesia sebenarnya membanggakan 
karena mampu bersaing dengan negara lain. Dia mencontohkan Fenny 
Dwivany, dosen Institut Teknologi Bandung yang terpilih sebagai satu 
dari 15 peneliti di lima benua yang mendapat beasiswa penelitian dari 
program "L'oreal-UNESCO For Women in Science 2007". Fenny merupakan 
peneliti perempuan kedua dari Indonesia yang mendapat kesempatan 
berharga itu. 

"Peneliti kita sebenarnya cukup banyak yang bagus. Mereka ini 
bermanfaat untuk membantu memecahkan persoalan hidup dari berbagai 
disiplin ilmu. Jika di negara sendiri tidak dihargai, ya bisa diincar 
oleh negara lain," ujar Herawati. 

Fenny mengatakan, awalnya dirinya juga ragu untuk menjadi peneliti. 
Ketika kembali ke Tanah Air setelah menyelesaikan pendidikan doktor 
di Australia, Fenny khawatir tidak mendapat dukungan dalam melakukan 
penelitian. Pasalnya, penelitian memang masih belum menjadi hal 
penting di negara ini. 

Masalah lain juga mengenai perlengkapan laboratorium untuk mendukung 
penelitian yang tidak secanggih tempatnya belajar dulu serta masalah 
dukungan dana. 

Fenny bisa dikatakan peneliti yang beruntung karena melakukan 
penelitian yang dipandang akan memberikan manfaat sehingga dukungan 
dana dari pemerintah, tempatnya mengajar, dan perusahaan mengalir. 

Fenny meneliti metode alternatif pengontrolan pematangan buah pisang 
dengan pembungkaman gen ACO. "Saya melakukan penelitian ini awalnya 
karena terenyuh melihat penjual pisang langganan keluarga. Buah yang 
dijualnya terlihat layu dan busuk karena pematangan buah pisang tidak 
bisa ditahan. Dari penelitian ini saya berharap nanti pematangan buah 
bisa dikontrol sesuai kebutuhan. Ini bisa membantu petani dan bisa 
mencegah proses pematangan cepat selama proses distribusi. 

"Buah seperti tomat, alpukat, pepaya, dan apel juga bisa diperlakukan 
serupa," kata Fenny yang masih butuh waktu sekitar lima tahun lagi 
untuk menerapkan penelitiannya di lapangan. 

Perhatian untuk menumbuhkan kecintaan kaum muda terhadap ilmu 
pengetahuan dan teknologi memang perlu dimulai saat ini, sejak dini. 
Apalagi, Indonesia memiliki potensi alam yang perlu dikembangkan 
lewat penelitian-penelitian di bidang sosial maupun ilmu pengetahuan 
alam. 

Direktur Lembaga Mutiara Bangsa Suwarni, dalam suatu kesempatan, 
mengatakan, generasi muda kurang meminati kekayaan alam. 

Oleh karena itu, mereka perlu dimotivasi dan didorong agar aktif dan 
kreatif berkarya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang 
berbasis kekayaan sumber daya alam. 

Jangan sampai keanekaragaman sumber daya alam negeri ini hanya 
dimanfaatkan oleh negara-negara lain. 

Meskipun memiliki keanekaragaman hayati dan nonhayati, apabila 
generasi muda kurang peduli terhadap kekayaan alam, maka Indonesia 
hanya menjadi obyek penelitian dari bangsa-bangsa lain. 

"Generasi muda sekarang sedikit yang tertarik terhadap potensi sumber 
daya alam dan keanekaragaman hayati. Inilah yang perlu diubah," kata 
Suwarni menjelaskan. 

Aktivitas lembaga ini berbasis pada kegiatan ilmiah yang mendorong 
tumbuhnya jiwa kreatif, sikap ilmiah, dan mandiri. Beberapa 
kegiatannya, antara lain, adalah membimbing penelitian para siswa 
SMA, menerbitkan hasil penelitian atau karya ilmiah generasi muda, 
yang terkait dengan penyelamatan dan pengembangan kearifan sumber 
daya alam. 

Beragam kegiatan penelitian ilmiah sebenarnya sudah banyak digelar 
oleh lembaga seperti LIPI dan universitas. Akan tetapi, gaungnya 
perlu terus dikencangkan supaya minat kaum muda semakin meningkat. 

 


Kirim email ke