Mimpi Bertemu Mendiang Ayah

Sudah lama aku tak bermimpi, tapi semalam menjadi malam yang berbeda. 
Kenapa demikian? Karena  semalam aku bermimpi bertemu dengan mendiang 
ayahanda yang sudah tiada.

Aku tidak ingin menceritakan bagaimana detail impianku itu, tetapi ingin 
berbagi rasa bagaimana kejadian-kejadian yang sudah berlalu tiga dasawarsa 
bisa kembali hadir, walaupun tanpa pesan hanya diam dan sama-sama diam, 
kehadiran imajinasi itu begitu hidup, dan waktunya seakan benar, di saat 
kejadian itu aku seolah-olah masih remaja.

Mimpi adalah suatu bunga tidur, demikian kata para orang tua. Dalam mimpi 
itu kita merasakan seakan kejadian-kejadian itu nyata, padahal raga kita 
saat itu terbaring di atas ranjang. Ruh kita seakan melayang, membubung 
lepas dari ruang dan waktu yang mengkungkung raga (phisik) kita di kamar tidur.

Benarkah ruh kita itu abadi, tidak terjebak dalam dimensi ruang dan waktu? 
Pertanyaan ini bukan hanya menjadi pertanyaan diriku, bahkan filosof Yunani 
Aristotelespun pernah memikirkannya.

Menurut Aristoteles, bahwa ruh itu adalah bebas dari keterikatan ruang dan 
waktu (timeless) sementara raga itu terkena proses berlalunya waktu, 
terbukti ada saat lahir, tumbuh, dan meninggal. Walaupun pernyataan 
Aristoteles pada zaman dulu  itu, bahkan sampai kini banyak yang pro dan 
kontra. Tapi rasanya aku sependapat dengannya. Bukti secara sederhana, 
hanya dengan mimpi itu.

Ruh hanya sementara menempati raga ini, selanjutnya apa bila kita tiada 
maka ruh kita kembali ke Sang Pemiliknya, sementara raga kita lumat, hancur 
luluh dan kembali bersatu dengan tanah. Kita, hanya datang di muka bumi ini 
dipinjami raga, yang hanya terbatas dan terjebak dalam ruang dan waktu. 
Akal yang dikaruniai kepada umat manusia mengatasi kelemahan ruang gerak 
kita itu.

Ada satu judul buku "Sejarah Tuhan" karangan penulis Barat Carren Amstrong, 
yang seolah-olah Tuhan itu lahir pada saat  Nabi-nabi Yahudi lahir, dan 
mengabarkannya kepada umat manusia. Tentunya, Amstrong terjebak dalam 
definitif, bahwa waktu di dunia ini linier. Benar, bila mana kita berbicara 
sejarah artinya, berbicara waktu, dari  dulu, kini dan masa yang akan 
datang. Tentu saja, tuduhan bahwa Tuhan itu  bersejarah itu menurut 
ontology tidaklah benar, bukankah Tuhan sudah ada sejak zaman azali (zaman 
ahadiyah), Kemudian Dia menciptakan alam ini, lalu karena Tuhan itu ingin 
di kenal maka diciptakanlah alam dan seisinya, termasuk Nabi Adam dan Hawa. 
Pun pula Tuhan itu tidaklah terjebak dalam ruang dan waktu, sayangnya kita 
selalu memahami Tuhan seolah-olah seperti menjelma menjadi manusia. Tuhan 
dipersonifikasikan. Sehingga pada akhirnya tuhan itu "bersejarah".

Mimpi itu berkesan walau tanpa kata-kata, membuat aku sadar bahwa mimpi itu 
datang dari ruh (spirit), yang lepas dari ruang dan waktu, seperti sadarnya 
aku bahwa Tuhan adalah "timeless".

Contoh mimpi diatas menggambarkan ruh bekerja melepas dari ruang dan waktu, 
demikian menurut kalangan Mistikus. Karena ruh itu adalah bagian dari Tuhan 
yang dititipkan kepada kita, kenapa pula kita mengotorinya? Dalam satu 
metaforik, "Bagaikan suatu barang yang dipinjam dalam keadaan bersih, 
semestinya kita mengembalikannya juga dalam keadaan bersih, tidak 
mengotorinya..".

Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke