Hidup Harmonis Bersama Musibah
(Promethean Versus Pontifical)

Bencana sulit diduga kedatangannya, karena hanya Tuhan Yang Maha Kuasa saja 
yang tahu.

Alam Indonesia yang katanya alam surga kenyataannya  justru sebaliknya, 
kita hidup di alam yang labil. Bencana datang justru silih berganti, mulai 
dari tsunami, banjir, tanah longsor bahkan sampai angin putting beliung.

Dalam pemahaman kehakikian, orang-orang yang katanya berwawasan ilmu, acap 
kali terfikir bahwa bencana adalah suatu fenomena alam saja tanpa campur 
tangan Tuhan. Pemahaman seperti ini biasa disebut promethean (hanya 
bersifat satu dimensi dunia). Pemahaman seperti ini kadang kala 
menjebak  sehingga berakhir pada fikiran saja, akibatnya manusia hanya akan 
memuaskan egonya tanpa berfikir panjang, untuk kesejahteraan,kesetimbangan 
alam, dan kehidupan keturunannya kelak yang mewarisi kehidupan dunia ini.

Kesetimbangan pola pemikiran manusia dengan alamnya akan harmonis andaikan 
manusia merasa diingatkan apabila terjadinya marabahaya, entah itu berupa 
bencana, gempa ataupun kejadian lainnya yang diluar kuasa manusia. Orang 
barat menyebut hal ini pontifical, yaitu type manusia yang mempercayai 
dunia akhirat. Type ini justru yang menyadari akan kehidupan manusia 
bersama alam diciptakan untuk hidup saling harmonis.

Bahkan kalau kita mau jujur dan berfikir panjang dan terperinci, di sisi 
lain suatu musibah ada untaian kasih yang Tuhan gerakkan terhadap sesama 
umat, ada rezeki yang diberikan untuk umat lainnya, ada tolong menolong, 
dan lain-lain yang biasanya sifat itu terkubur karena sibuk dengan 
masing-masing ego serta gelimpangan materi.

Ada satu binatang yang sangat peka apabila akan terjadi gempa, binatang itu 
adalah ular. Kita bisa berguru padanya. Ide ini sudah diteliti di China dan 
bekerja dengan baik.

Sebagian kalangan akademik menuduh bahwa memahami pontifical yang dianut 
kebanyakan kita adalah pemahaman 'dangkal' karena menganggap bencana adalah 
takdir. Tetapi menurutku justru sebaliknya, bahwa pemahaman ini adalah 
pemahaman 'dalaman' karena memahaminya secara essoteris.

Bukankah dalam pemahaman ilmiah, bencana adalah akibat negatif suatu 
kejadian? Sementara hakikatnya, justru sebaliknya, ada sesuatu yang positip 
dibalik yang negatip itu. Seperti mata uang yang memiliki dua sisi. Kita 
bisa memilih gambardi satu  sisi atau angka di sisi yang lain?

Ah .. tentu saja kita pilih uangnya...!! : )

Itulah perbincangan kita menyambut hari  bumi yang jatuh di bulan April 
ini. Semoga Allah  memberkahi bumi dan  seisinya dengan kedamaian dan 
kesejahteraan, Amin.

Salam,
Http://ferrydjajaprana.multiply.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke