Fenomena Air Laut Pasang

Air laut pasang diberbagai daerah di kawasan Nusantara, di mulai dari Aceh, 
Ujung Kulon, Anyer, Jakarta, Pelabuhan Ratu, Cilacap, Yogyakarta, Tuban, 
Madura, Bali dan Lombok. Tentunya masih banyak daerah lain yang terkena 
pasang air laut yang beberapa hari ini naik dari tiga sampai enam meter 
yang tidak terendus oleh kuli tinta.

Tidak seperti lazimnya air pasang dimana mengalami kulminasi pada saat 
bulan purnama, tapi pasang air laut yang sekarang melanda akibat terkena 
angin besar yang bertiup dari Samudera Hindia. Demikian menurut penjelasan 
Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) pada saat memberikan penjelasan 
tentang ihwalnya pasang air laut di bulan Mei ini.

Penjelasan BMG adalah penjelasan nalar yang bisa diterima akal kita, karena 
dalam fisika ada postulat yang menjelaskan bahwa adanya reaksi karena 
adanya aksi.

Karena aku adalah orang awam di bidang ilmu meteorologi dan geofisika, maka 
aku cukup menyingkap apa yang terjadi di balik kejadian itu.

Di Muara Angke Jakarta, penduduk dibingungkan dengan kejadian air laut 
pasang, sehingga air laut naik ke permukaan sehingga kawasan tempat tinggal 
para nelayan tergenang air laut. Siapa saja yang tinggal di sana berduka, 
berapa angka kerugian yang mereka derita, tetapi dibalik musibah itu para 
tukang becak diberikan keuntungan berlipat, mereka bersuka-cita oleh karenanya.

Di kota Sampang, Madura nelayan-nelayan yang berbudi daya tambak ikan 
bandeng, belum sempat memanen ikannya, tiba-tiba dalam sekejap ikannya yang 
dikerangkeng dalam tanggul tambak, menjadi bebas berenang ke laut lepas. 
Ada fenomena menarik pada saat ikan bandeng itu terlepas, pertama mereka 
terhempas terbawa ombak sehingga mencapai daratan yang tergenang air, 
selanjutnya mereka bersusah payah, berjuang untuk kembali ke laut tempat 
mereka berasal. Seperti diri ini juga sama, bagi para 'pencari kebenaran' 
untuk mencapai kebenaran diperlukan usaha, alih-alih mendapatkan kebenaran 
sejati, justru kesesatan yang diperolehnya. Banyak ikan bandeng yang 
berusaha terlepas dari ketersesatan, akhirnya tertangkap kembali oleh manusia.

Lain tempat lain masalah, di Bali umpamanya, beberapa bangunan yang berada 
di pinggir pantai, hancur luluh lantak karena sapuan gelombang pasangnya 
air laut, tentunya pemiliknya menderita, mereka harus memikirkan untuk 
membangun kembali tempat bisnisnya. Di sana kelak akan membutuhkan 
tenaga-tenaga ahli bangunan, sehingga lowongan pekerjaan kuli bangunan yang 
tadinya nganggur menjadi bekerja kembali. Ada yang merasa iba akan musibah 
itu, mereka memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan, rupanya tali 
kasih sesama manusia akan terjalin, terlepas dari perbedaan agama yang 
mereka anut.

Waktu terus bergerak, berputar membawa perubahan-perubahan. Kita yang 
nyaman dengan keadaan reguler menjadi terperangah bila ada hal-hal baru 
yang berkenaan dengan bumi yang kita tinggali, ada yang menyalahkan lapisan 
ozon yang berlubang akibat efek rumah kaca, ada yang berbicara pemanasan 
global. Aku yang dulu berpatokan bahwa akhiran 'ber' pada nama bulan tiap 
tahunnya dibuat kecele, karena musim hujan besar-besarnya terjadi di bulan 
Pebruari. Kita lupa, bahwa bumi sebagai makrokosmos, sama juga seperti kita 
sebagai mikrokosmos. Kita tidak bisa selalu tetap sehat, adakalanya 
mengalami sakit juga. Demikianlah untuk tetap eksis, bumi juga mengalami 
ujian-ujian sunatullah, mengikuti hukum kausalitas. Karena dibalik apa yang 
ada, ada Yang Menggerakan yaitu Dzat Yang Lahir sekaligus Bathin, yang 
memiliki skenario sendiri.

Tinggal kitanya  mau atau tidak, menyimak , mengikuti pelajaran-Nya agar 
kita arif tinggal di muka bumi ini, hidup harmonis bersama alam dan 
seisinya, menjadi khalifah-Nya dengan bijak ? Lalu, apa artinya bencana 
itu? silakan dihayati sendiri. Kalau aku hanya senang memancing saja. 
Memancing ikan bandeng yang terlepas.. :)

Salam,
http://ferrydjajaprana.multiply.com





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke