http://www.ml.com/index.asp?id=7695_7696_8149_74412_82725_84013
  http://www.gatra.com/artikel.php?id=109203
   
   
  =============================================================
   
  Merrill Lynch and Capgemini Release Second Annual Asia-Pacific Wealth Report
  http://www.ml.com/index.asp?id=7695_7696_8149_74412_82725_84013
  
ASSETS OF HIGH-NET-WORTH INDIVIDUALS IN ASIA-PACIFIC RISE TO U.S. $8.4 TRILLION
CHINA AND JAPAN ACCOUNT FOR MORE THAN 60 PERCENT OF REGION'S HIGH-NET-WORTH 
WEALTH; SINGAPORE, INDIA AND INDONESIA ARE FASTEST-GROWING HNWI POPULATIONS
   
  Spurred by strong GDP and market capitalization growth, Asia-Pacific's High 
Net Worth Individual (HNWI1) population grew to 2.6 million last year, an 
increase of 8.6 percent, according to the second annual Asia-Pacific Wealth 
Report, released today by Merrill Lynch and Capgemini. Asia-Pacific accounts 
for 27.1 percent of the global HNWI population.
  The wealth of Asia-Pacific HNWIs totaled U.S. $8.4 trillion in 2006, an 
increase of 10.5 percent over 2005. HNWI wealth was concentrated in Japan and 
China, which accounted for 43.7 percent and 20.6 percent, respectively, of the 
region's total wealth.
    
Asia-Pacific was home to five of the 10 fastest growing markets for HNWIs, 
including Singapore, India and Indonesia, where the HNWI populations grew by 
21.2 percent, 20.5 percent and 16.0 percent, respectively, compared with the 
global HNWI expansion of 8.3 percent. Korea and Hong Kong were also in the top 
10 fastest growing markets globally.
  The latest Asia-Pacific Wealth Report takes an in-depth look at the high net 
worth population and behavior in nine regional markets — Australia, China, Hong 
Kong, India, Indonesia, Japan, Singapore, South Korea and Taiwan. These markets 
account for almost 94 percent of the region's 2.6 million HNWIs.
  "Although the vast majority of Asia-Pacific's HNWIs hold between U.S. 
$1million and U.S. $5 million in net financial assets, we are seeing a sharp 
rise in the number of Ultra-HNWIs2 — people with more than U.S. $30 million in 
assets," said Gregory Smith, vice president, Wealth Management, Capgemini 
Australia. "This is particularly evident in China, where that country's 
phenomenal economic growth is reflected in a high concentration of Ultra-HNWIs. 
According to our findings, more than 28 percent of the 17,500 Ultra-HNWIs in 
the region are in China," said Dirk Chanmueller, vice president, Capgemini 
China.
  "Over all, it's a story of growth, growth and more growth for the HNWI 
marketplaces throughout the region," said Rahul Malhotra, managing director, 
head of Asia Pacific, Merrill Lynch Global Wealth Management. "While HNWI 
investment behaviors differ from market to market, the underlying drivers of 
wealth remain strong overall and we expect the region will continue to outpace 
the global rate of growth in HNWI wealth."
   
  Drivers of Wealth
The key drivers of wealth in Asia-Pacific in 2006 were strong growth in real 
GDP and stock market capitalizations.
  The Asia-Pacific region showed among the highest GDP growth rates in the 
world. China and India drove the region with 10.5 percent and 8.8 percent real 
GDP growth, respectively. Additionally, savings rates, as a percentage of GDP, 
were higher in Asia-Pacific than most developed markets. China, Singapore and 
Hong Kong all had domestic savings rates in excess of 40 percent.
  China, Indonesia, India and Hong Kong benchmark stock indices outperformed 
most mature capital markets, as well as their peer markets in the region with 
returns over 30 percent.
  Nontraditional investment products are gaining in popularity as Asian 
investors seek better domestic returns and foreign institutions seek 
involvement in the high-growth region. For example, real estate investment in 
Asia-Pacific has grown due to the strong performance of commercial property and 
REITs (real estate investment trusts).
   
  Asia-Pacific HNWI Investments
Within the region, asset allocation differed significantly from market to 
market. Australian HNWIs, for example, allocated 37 percent of their assets to 
equities, the highest level in the region. Investors in China and Indonesia 
also had relatively high equity allocations. Investors in South Korea, on the 
other hand, allocated the largest percentage of their portfolios to real estate.
  Asia-Pacific HNWIs are increasingly looking at internationalizing their 
investment portfolios and, over the longer term, re-balancing their asset 
allocations in favor of alternative investments, equities and fixed income. In 
addition, Asia-Pacific HNWIs are increasing their international exposure 
although still maintain a very regional portfolio focus. Slightly more than 
half of Asia-Pacific HNWIs' assets were invested within the region and slightly 
more than a quarter of their holdings were allocated to North America.
   
  Spotlight on Asia-Pacific Distinctive Local Market Opportunities
HNWI investment behaviors differ from market to market in key attributes such 
as sources of wealth, demographics, concentration of Ultra-HNWIs and the level 
of portfolio internationalization.
  The primary sources of wealth for China and Australia, for example, are 
business and stock options, whereas inheritance and income are the main wealth 
sources for Japan's HNWIs.
  The majority of HNWIs in all markets are male; however, the proportions of 
male HNWIs are highest in India, Australia and South Korea at more than 80 
percent. On the other hand, females represent 43 percent of Taiwan's HNWI 
population, and more than 30 percent in China and Hong Kong, the report found.
  "The intensifying competition for HNWI clients, the strong growth in HNWI 
wealth and numbers and the varying individual product maturity across HNWI 
markets, pose significant challenges and complexities to the financial advisory 
firms servicing these markets," said Mr. Smith. "Already we are seeing sharper 
pricing, product commoditization and a shortage of qualified advisers across 
the region."
   
   
  ================================================================
   
  http://www.gatra.com/artikel.php?id=109203
  
Mobil-mobil cantik berbagai merek berseliweran di jalanan Jakarta setiap hari 
hingga menyebabkan kemacetan. Sebagian merupakan tipe terbaru yang diimpor 
secara built up. Kondisi ini setel dengan suasana pusat-pusat perbelanjaan di 
Ibu Kota yang makin ramai. Situasi itu bisa jadi menggambarkan taraf hidup 
orang Indonesia yang makin makmur dan hedonis.

Dua lembaga keuangan asal Amerika Serikat, Merrill Lynch dan Capgemini, 
mengumumkan hasil survei mereka yang mengejutkan. Temuan yang diumumkan di Hong 
Kong, Selasa pekan lalu, itu mengungkapkan bahwa jumlah orang makmur di 
Indonesia meningkat cukup signifikan, mengalahkan negara-negara kaya. Jumlah 
orang tajir di Indonesia, dengan kekayaan di atas Rp 9 milyar, sampai penutupan 
tahun lalu berjumlah 20.000 orang. Ini berarti terjadi kenaikan 16,2% 
dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Lonjakan jumlah orang kaya di Indonesia menempati posisi ketiga teratas di 
kawasan Asia-Pasifik. Posisi puncak ditempati negara kecil Singapura. Di negara 
mungil yang luasnya 60.000 kilometer persegi itu, milyardernya tumbuh sebesar 
21,2% dengan jumlah 67.000 orang. Menyusul India di nomor dua, yang 
milyardernya bertambah sebesar 20,5% atau sejumlah 100.000 orang.

Singapura dan India selama ini digambarkan sebagai dua negara yang berhasil 
membangun ekonomi secara baik. Keduanya dicitrakan telah memasuki era 
kebangkitan ekonomi. Singapura dikenal berhasil mengembangkan sektor 
perdagangan, pelabuhan, dan transportasi. Di mata dunia, negara itu dikenal 
sebagai tempat investasi yang seksi. Sedangkan India berhasil memenangkan 
persaingan dalam bisnis teknologi informasi.

Posisi Indonesia di urutan ketiga lumayan mengejutkan, karena negara di Asia 
Tenggara ini merupakan salah satu korban krisis ekonomi terparah. Sejak pukulan 
krisis moneter, yang mulai melanda satu dekade silam, Indonesia belum berhasil 
berdiri tegak. Negara dengan 220 juta penduduk ini masih kedodoran dalam hal 
pemberantasan korupsi dan kesulitan menciptakan iklim investasi yang menarik. 
Namun temuan itu berbicara lain.

Hasil survei bertajuk "Asia-Pacific Wealth 2007" tersebut merupakan bagian dari 
World Wealth Report 2007, yang hasilnya telah dipaparkan di Paris, Juni lalu. 
Menurut sigi itu, jumlah orang kaya dengan aset di atas Rp 9 milyar tidak 
banyak. Temuan dua lembaga yang mengadakan riset selama satu tahun itu 
mengungkapkan, populasi orang tajir dengan kekayaan sebesar itu hanya 9,5 juta 
individu di dunia. Sebagian besar, tentu saja, berada di negara-negara maju.

Lembaga itu mendefinisikan orang kaya (high net worth individual --HNWI) 
sebagai pemilik kekayaan lebih dari US$ 1 juta atau sekitar Rp 9,2 milyar. 
Kekayaan itu dibatasi dalam bentuk aset finansial, seperti uang tunai, ekuitas, 
dan surat berharga, mengecualikan aset-aset lain seperti tempat tinggal atau 
koleksi pribadi semacam barang-barang seni, benda antik, atau koin emas.

Hasil sigi tersebut mengungkap pula bahwa orang-orang berduit di Indonesia dan 
negara Asia-Pasifik lainnya lebih senang menginvestasikan duit pada aset nyata 
(tangible asset), seperti properti, surat berharga, atau efek perusahaan 
properti (real estate investment trust --REIT). Menurut publikasi yang 
disebarkan Merrill Lynch, kenaikan jumlah orang makmur secara langsung akan 
memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto dan kapitalisasi yang 
membangkitkan perekonomian lokal.

Sisi lain penelitian ini adalah fakta menyakitkan bahwa sepertiga dari 55.000 
orang kaya di Singapura adalah pengusaha asal Indonesia. Jumlahnya mencapai 
18.000 orang, yang kini berstatus warga asing yang mendapat izin tinggal 
permanen (permanent resident) di Singapura.

Lembaga keuangan global itu menaksir, nilai aset orang Indonesia di Singapura 
mencapai S$ 87 milyar atau sekitar Rp 506,8 trilyun. Selama ini, negara kecil 
seperti Singapura menikmati arus modal yang dilarikan dari Indonesia. Gelombang 
dana yang menyeberang ke negeri berlambang singa itu secara signifikan 
mendongkrak persentase pertumbuhan orang kaya mereka sebesar 21,2%, dengan 
jumlah 66.660 orang.

Sebuah angka spekulasi pernah beredar bahwa sepertiga dari 9.000 apartemen 
mewah yang dijual di Singapura adalah milik orang-orang kaya Indonesia. Orang 
kaya rupanya cenderung bergerak ke arah iklim investasi yang lebih menjanjikan 
menurut mereka. Eksodus orang kaya bukan hanya terjadi dari Indonesia ke 
Singapura. Temuan survei itu mengungkapkan fakta serupa bahwa lebih dari 
150.000 jutawan asal India tinggal di luar negara di Asia Selatan itu. Mereka 
terutama memilih tempat baru di Eropa.

Dari segi jumlah, Jepang sejauh ini tetap menjadi tempat subur bagi sebagian 
besar milyarder ketimbang negara Asia-Pasifik lainnya. Namun, dari segi 
persentase, peningkatan mereka adalah yang terkecil di kawasan itu. Jumlah 
orang kaya di Jepang hanya meningkat 5,1% menjadi 1,477 juta orang pada 2006. 
Meski demikian, capaian ini jauh meninggalkan Cina Daratan. Dari segi 
kuantitas, negara yang jumlah penduduknya terbanyak di dunia itu mengalami 
pertumbuhan orang kaya sebesar 7,8%, dengan jumlah 345.000 orang saja.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development and Finance, Avilliani, 
mengungkapkan bahwa naiknya jumlah orang kaya di Tanah Air ternyata tidak 
mempengaruhi kemampuan sektor riil dalam menyerap tenaga kerja. Hal ini 
disebabkan kekayaan yang beredar hanya bergulir di pasar uang dan pasar modal. 
Sebagai bukti, naiknya jumlah orang kaya ini tidak secara signifikan mendorong 
pertumbuhan ekonomi dan berkurangnya kemiskinan.

Melihat kondisi demikian, Aviliani menyimpulkan bahwa melonjaknya jumlah 
milyarder itu kurang bermanfaat terhadap negara, melainkan lebih pada individu 
saja. "Angka itu menunjukkan, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin," 
katanya kepada Gatra.

Faktanya, gemerlap mobil mewah yang kerap melenggang di jalanan Jakarta 
merupakan kemewahan yang tidak terjangkau masyarakat luas. Perlombaan kemewahan 
dan hedonisme sebagian kalangan di Tanah Air amat kontras dengan populasi orang 
miskin yang hingga Mei 2007 berjumlah sekitar 33 juta orang atau 16,5% dari 
total penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta orang. Masyarakat kelas 
menengah pun hanya mengisi kota-kota besar di Indonesia.

Sebagian besar masyarakat Indonesia yang tinggal di desa-desa masih tetap 
terpojok oleh struktur yang kurang memihak mereka. Negara juga masih 
terbelenggu utang luar negeri, yang jumlahnya mencapai Rp 1.500 trilyun.




 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke