Solusinya gimana menurut Binusian supaya ngak terulang
lagi ??

Kalau joki dilarang dan pekerja disuruh naik angkot..
yang punya mobil juga ngak mo naik angkot soalnya
keamanan di angkot seperti metromini  dkk nya ngak
terjamin.. 

Kalau solusi  ERP..  seperti biasanya pejabat nya
musti minta study banding dulu ke 10 negara Eropa dan
bikin seminar-seminar di hotel mewah  baru memutuskan
membuat ERP atau tidak.. :D

Kalau ditilang secara tegas ..  Beberapa bulan lalu
banyak Binusian yang tulis dimilis ini.. kalau ikut
prosedur sampe tahun 2007  kok malah kena biaya
siluman di pengadilan waktu ambil sim.. :D


http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0711/22/utama/4017581.htm

Joki "Three in One"
Hidup Harini Berakhir di Bentang Aspal 


Neli Triana 

Pagi hari, Rabu (21/11), baru saja dimulai. Namun,
hidup Harini (48) justru berakhir mengenaskan sebagai
korban tabrak lari. Tubuh joki three in one ini
tertelungkup di Jalan Sudirman, Senayan. Janda itu
terpaksa meninggalkan lima anaknya. 

"Mobil yang kami tumpangi berhenti di tengah jalan.
Harini melompat turun dan segera menyeberang taman
pembatas jalan menuju Jalan Pintu Gelora I.
Rencananya, kami mencari mobil lain untuk kembali.
Tiba-tiba sebuah mobil warna merah menabrak Harini,"
kata Tuti (46) teman sesama joki, Rabu. 

Menurut Tuti, mereka berdua menumpang mobil yang sama
dari Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Melintasi Jalan
Thamrin menuju Sudirman, pengendara kemudian
menurunkan mereka di tengah jalan tepat di depan
Lapangan Sofbol. 

Harini yang duduk tepat di belakang sopir segera turun
dan menuju lapangan sofbol. Tidak dinyana, sebuah
mobil lain langsung menyeruduk Harini. Selama 10-15
menit, tubuh Harini tergolek di tengah jalan sebelum
dievakuasi petugas kepolisian setempat dan dibawa ke
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. 

Penabrak Harini langsung kabur. Kepolisian Sektor
Metro Tanah Abang masih berkutat mencari jejak mereka.


Tuti yang terlihat masih tertekan mengatakan, sudah
menjadi kebiasaan joki diturunkan di tengah jalan. Ini
untuk menutup kemungkinan mobil pembawa joki dihadang
polisi, satuan polisi pamong praja (satpol PP), atau
petugas dinas perhubungan. "Kami juga harus
cepat-cepat pergi menjauh dari mobil agar terhindar
dari sergapan petugas. Kapok tertangkap," kata Tuti. 

Handoyo (28), anak tertua Harini, mengatakan, ibunya
memang khawatir bakal tertangkap petugas. Baru Jumat
lalu ibunya terjerat razia petugas. "Repot sekali.
Pihak keluarga harus meminta surat keterangan RT/RW
dan membayar sedikitnya Rp 100.000-Rp 200.000 agar ibu
bisa dikeluarkan dari Panti Kedoya," kata Handoyo yang
bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah bank
swasta di Cikarang, Bekasi. 

Berjuang demi anak 

Kisah sedih keluarga Harini terungkap dari Handoyo.
Harini hidup menjanda lima tahun terakhir setelah
suaminya meninggal. Ia harus menghidupi Handoyo,
Handoko (25), Thomas (23), Andi (17), dan Panji (8). 

Awalnya, Harini mendapat sedikit uang dari berjualan
makanan di rumahnya, di Jalan Rawasari Timur RT 16 RW
02, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. 

Namun, usaha makanan ini lebih banyak merugi daripada
untung. Apalagi, dari lima anaknya, hanya Handoyo yang
sudah bekerja. Tiga anaknya yang lain adalah
penganggur dan putus sekolah. Hanya Panji yang tetap
sekolah di kelas dua sekolah dasar. 

Menurut Handoyo, setahun lalu adiknya, Handoko, yang
coba-coba menjadi joki, meminta ibunya turut menjalani
profesi itu. Merasa tidak ada pilihan lain, Harini pun
lalu beralih menjadi joki three in one. 

"Setiap hari, pagi-pagi sekali ia sudah pergi ke Jalan
Diponegoro atau kawasan Monas. Ia sampai di rumah lagi
pukul 11.00-12.00 dengan membawa uang rata-rata Rp
15.000. Siang hingga malam, ibu bekerja menjadi tukang
cuci," kata Handoyo. 

Handoyo kini makin resah ketika memikirkan Handoko
yang tidak terlihat lagi sejak Sabtu lalu. Handoyo
menduga adiknya terjaring razia dan belum bisa
menghubungi keluarganya. 

Di seluruh Jakarta dan sekitarnya, tidak sedikit orang
yang terjepit kondisi ekonomi dan memutuskan menjadi
joki three in one. 

997 orang tertangkap 

Data dari Seksi Rehabilitasi Tunasosial (RTS) Suku
Dinas Bina Mental dan Kesehatan Sosial (Sudin
Bintalkesos) Jakarta Pusat menunjukkan, selama
Januari-Oktober 2007 sebanyak 997 orang yang
dikategorikan sebagai penyandang masalah sosial,
termasuk joki three in one, ditangkap petugas.
Kemarin, delapan joki juga terjaring razia. 

Mereka semua dibawa ke panti sosial di Kedoya, Jakarta
Barat, untuk dibina. Namun, semua berakar dari masalah
kebutuhan mendasar, yaitu makan. 

"Mereka butuh pekerjaan yang tidak pernah didapat
karena berbagai alasan. Tidak dimungkiri jika menjadi
joki merupakan pilihan yang dianggap praktis dan
tepat. Tidak heran jumlah joki makin meningkat setiap
hari," kata Kepala Seksi RTS Sudin Bintalkesos Jakarta
Pusat Subroto. 

Subroto juga mengakui, banyaknya joki three in one
menunjukkan tidak efektifnya peraturan three in one di
ruas-ruas jalan tertentu di Jakarta. 

Bukannya mematuhi aturan, ribuan mobil dipastikan
menggunakan jasa mereka setiap hari. Sebagai bukti,
setiap pagi dan sore antara pukul 07.00-10.00 dan
16.00-19.00, ratusan joki berbaris rapi di Jalan
Diponegoro, Medan Merdeka Utara, Veteran, Menteng,
Jembatan Slipi, hingga di kawasan Senayan, serta di
jalan-jalan kecil menuju Jalan Sisingamangaraja, dan
Sudirman. 

Menurut Subroto, penertiban para joki dilakukan setiap
hari. Namun, karena keterbatasan jumlah petugas,
sebagian besar joki masih bebas beraksi. 

Razia petugas keamanan juga sering hanya asal tangkap
orang. Kemarin, Slamet Sinaga (19), warga Tangerang,
nyaris dipukuli petugas satpol PP karena melawan
ketika akan ditangkap. 

Slamet menolak disebut joki karena pemuda tamatan SMA
itu berada di kawasan Menteng untuk mencari pekerjaan.
Setumpuk ijazah membuktikan hal itu. Namun, petugas
sempat ngotot membawanya meski akhirnya Subroto
memutuskan membebaskan Slamet.





      
____________________________________________________________________________________
Be a better sports nut!  Let your teams follow you 
with Yahoo Mobile. Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/sports;_ylt=At9_qDKvtAbMuh1G1SQtBI7ntAcJ

Kirim email ke