Tahun Baru 2008 Di Purwakarta
Merayakan tahun baru pada penghujung tahun 2007 di saat cuaca yang menebarkan nuansa bencana memang serba 'kikuk', ada satu sisi bencana banjir di wilayah Tengah dan Timur Jawa. Tak urung di bagian Barat, DKI dan Bantenpun mendapat cobaan yang tidak jauh berbeda, yakni dihantam ombak besar. Ada satu tempat yang kami anggap nyaman untuk berlibur akhir tahun yaitu kota Purwakarta. Kota kecil yang tidak jauh dari Jakarta. Sore hari menjelang pergantian tahun, aku dan keluarga sudah tiba di kota Purwakarta, setelah memilih beberapa hotel yang dianggap tepat, akhirnya kami putuskan tinggal di salah satu hotel yang berlokasi di tengah kota. Berlibur di kota kecil ini rasanya tidak sesulit di Bandung atau kota besar lainnya, yang mana untuk mencari penginapan mesti booking terlebih dahulu. Tak terasa waktu merangkak malam, tahun 2007 mulai dihitung mundur menuju detik 0. Ada tangan kecil mengusikku ketika kami menikmati makan malam di kaki lima di kota Purwakarta. Tangan yang menengadah itu tangan Anak Jalanan (Anjal), yang meminta receh dari para pengunjung jajanan kaki lima sepanjang Jalan Sudirman. Aku berikan uang kecil sekedarnya, yang diterimanya dengan tanpa ucapan terima kasih. Bukan aku peduli tentang beretiket bagaimana tata cara memberi dan menerima yang baik, tapi hanya peduli bahwa kehidupan keras mereka membuatnya meminta-minta untuk kebutuhan perut mereka seolah-olah pekerjaan mereka, dan kami memberi adalah pekerjaan kami. Selanjutnya anjal tadi bergerak lagi mencari sasaran berikutnya. Usai makan malam, dilanjutkan jalan-jalan malam, trotoar jalan sudah mulai dipadati orang-orang yang hendak merayakan pergantian tahun, tanpa disengaja aku bertemu kembali dengan anjal tadi yang kini sudah bergabung dengan kawan-kawannya, aku melihatnya sedang merangkai kalung yang terbuat dari klip penjepit kertas, kalung klip kelihatan gemerlap diterpa lampu kota yang menerpanya. Dengan senyuman bahagia terciptalah aksesoris menawan, kalung klip yang akan dipakainya pada saat tahun baru nanti. Asesoris made in sendiri ini dibuat mungkin meniru kakak-kakaknya yang berpakaian ala Punk Rock dan menjadikan peniti sebagai aksesoris. Anjal tadi kini telah mengenakan kalungnya, matanya berbinar, dia sudah meraih kebahagiaan kecil di akhir tahun ini. Pesta pergantian tahun adalah pesta terompet dan kembang api yang meriah. Tidak seperti di Jakarta di mana kembang api dinyalakan secara protokoler oleh EO (event organizer) bekerja sama dengan pemerintah DKI, di kota-kota kecil aku lihat anak-anak muda membeli kembang api sendiri yang dinyalakan dengan bantuan botol-botol kosong dan ditengadahkan ke atas. Semburat cahaya kembang api sungguh indah menghiasi kegelapan malam. Anak-anak muda kreatif, mereka memprakarsai sendiri membeli dan menyalakan kembang api demi kemeriahan bersama. -o0o- Tahunpun akhirnya berganti, walaupun hujan turun tetapi tidak mengurangi meriahnya tahun baru di sana. Semoga saja tahun baru ini perjalanan hidup kita tetap dalam spirit-Nya dan tetap semangat di dalam mengisi waktu yang telah digariskan-Nya, barokah-Nya juga tercurah seperti hujan di tahun baru ini... Amin. Kemeriahan terompet mengiringi detik pertama, di tahun 2008... Stasiun televisi Jati Luhur menemani kami mengisi waktu menjelang tidur. Semoga keluhuran hati pada jati diri ini terbawa pada waktu mendatang.. menjelang 'tidur panjang' yang damai..menuju keharibaan-Nya Yang Benar-Benar Nyata. Semoga.. Salam, http://ferrydjajaprana.multiply.com [Non-text portions of this message have been removed]
