Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!
http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/
http://nugon19.multiply.com/journal


--- In [EMAIL PROTECTED], ridwan fadil <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

ADIL VERSI PENCOPET

Pada suatu sore di tahun 2003 penulis sedang menunaikan sholat ashar di sebuah 
masjid di pojok terminal depok. Waktu itu jarum jam menunjukan tepat pukul 
5.00. Selesai menunaikan sholat penulis keluar ruangan masjid untuk mengambil 
sepatu yang dititipkan kepada penjaga masjid. Tiba-tiba terjadi keributan di 
halaman masjid, karena penasaran penulis mencoba mendekat untuk mengetahui 
penyebab keributan tersebut. Ternyata telah terjadi perkelahian yang tidak 
seimbang, karena seorang pria walaupun berbadan tegap dikeroyok oleh 5 orang 
pria lain. Ketika penulis bermaksud melerai perkelahian tersebut, tiba-tiba 
terdengar suara bentakan yang sangat keras dari seseorang di belakang saya 
"Berhenti !" teriak orang tersebut. Seketika itu kelompok yang sedang berkelahi 
tersebut berhenti dan semua berpaling kearah suara, termasuk penulispun ikut 
menoleh. Kenapa kalian berkelahi ? teriak orang yang dibelakang saya, "Si Jhony 
gak adil pak ustadz . . " kata salah seorang
 pengeroyok. Oh, rupanya orang yang berteriak menyuruh berhenti berkelahi tadi 
seorang ustadz yang mengurus Masjid dan anak-anak jalanan yang ada di sekitar 
terminal depok yang belakangan diketahui namanya Abdul Rohim.

Selanjutnya Ustadz Rohim mengajak ke enam pria yang terlibat perkelahian tadi 
ke teras masjid untuk di damaikan. Yang membuat penulis kagum pada ustadz 
Rohim, walaupun postur tubuhnya relatif kecil, tapi dia punya nyali yang besar. 
Terbukti dari ke enam pria yang tampangnya galak dan bengis nurut dan patuh  
ketika disuruh duduk di teras masjid untuk di damaikan. Ustadz Rohim mencoba 
mencari sebab  kenapa kelima teman si Jhony mengeroyoknya, Setelah melalui 
perdebatan yang cukup panjang, barulah si Ustadz tahu bahwa ke enam orang ini 
adalah gerombolan pencopet yang sedang membagi hasil jarahannya. Si Jhony di 
percaya untuk menghimpun uang hasil mencopet di kereta untuk kemudian di bagi 
rata kepada seluruh anggota kelompok. Dan ternyata dalam praktek pembagian 
tersebut, teman-teman si Jhony merasa diperlakukan tidak adil, Mereka menuduh 
si Jhony menyembunyikan sebagian hasil mencopet untuk dirinya sendiri. Merasa 
didzolimi, kelima pencopet sepakat untuk
 mengeroyok si Jhony sampai dia mengakui kesalahannya.

Singkat cerita, Ustadz Rohim mencoba memberi nasihat dengan lemah lembut kepada 
si Jhony untuk berlaku jujur dan adil, karena siapapun pasti tidak ingin 
diperlakukan tidak adil, termasuk teman-temanmu. Kamu akan kehilangan 
kepercayaan dari teman-temanmu ketika berkhianat, bahkan bukan cuma kehilangan 
kepercayaan tapi juga bisa mencelakakan diri sendiri. Saat itu ke enam pencopet 
tertegun tak ada suara yang keluar dari mulut mereka, sampai beberapa menit 
kemudian salah seorang dari mereka mengangkat kepala dan berkata; "kalau begitu 
kami angkat pak Ustadz untuk menjadi juru bagi, karena kami butuh orang yang 
jujur dan adil dalam membagi hasil jarahan kami". Lalu usul tersebut diamini 
oleh teman-temannya yang lain termasuk si Jhony.

Ustadz Rohim dengan bijak menjawab; "Untuk kali ini saja saya mau menjadi juru 
bagi, supaya kalian tidak berkelahi. Untuk selanjutnya silahkan kalian merenung 
dan bertanya kepada diri masing-masing, bagaimana rasanya di perlakukan tidak 
adil ? bagaimana rasanya di dzolimi ? bagaimana rasanya ketika hak kalian 
dirampas ?. Setelah kalian mendapatkan jawabannya, pastikan bahwa yang 
dirasakan oleh orang yang kalian rampas haknyapun sama dengan apa yang kalian 
rasakan. Setelah ustadz Rohim membagikan uang hasil jarahan dengan adil para 
pencopetpun meninggalkan Ustadz Rohim seiring dengan berkumandangnya adzan 
maghrib.

Satu bulan yang lalu penulis mampir kembali di Masjid terminal Depok, secara 
kebetulan bertemu lagi dengan Ustadz Rohim, disela-sela kesibukannya mengurus 
pendidikan anak jalanan di areal terminal depok, penulis sempat 
berbicang-bincang dengan beliau sampai kepada cerita tentang  para pencopet 
yang dulu pernah berkelahi di halaman masjid. Ternyata menurut cerita beliau 
tiga dari enam pencopet tersebut sudah beralih profesi, satu orang menjadi 
pengepul barang bekas dan yang dua menjadi pedagang asongan di terminal. Bahkan 
ketiganya rajin shalat berjamaah di masjid ini, mereka juga mulai aktif belajar 
agama.

Dari kisah tersebut di atas, menunjukkan bahwa keadilan itu menjadi hak setiap 
orang siapapun dia. Pencopet saja tidak sudi di perlakukan tidak adil dan 
dicurangi. Pencopet saja menyadari bahwa orang lain yang dirampas haknya akan 
sama ransanya ketika sesuatu yang menjadi haknya dirampas orang lain.Dia 
beralih profesi agar terhindar dari tindakan mendzolimi orang lain.

Lalu bagaimana dengan kita, sudahkah kita berlaku adil ?

Sudahkah kita menunaikan hak-hak orang lain ?

Sudahkah kita menyadari kekeliruan kita lalu melakukan perubahan ?

Jawabannya ada pada masing-masing diri kita . . .

Salam Ihsan;


Ridwan Fadil
081317212141
[EMAIL PROTECTED]


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

Kirim email ke