Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!

http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/
http://nugon19.multiply.com/journal



--- In [EMAIL PROTECTED], Ummu Za'zu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


WANITA JEPANG TETAP KONSISTEN MENJADI IBU, PENDIDIK MANUSIA YANG PERTAMA-TAMA. 
Oleh: ANNI IWASAKI (Ketua Anni Iwasaki Foundation) 
 
"kikunatara okasan ni naritai" - kalau besar ingin menjadi ibu-jawaban 
anak-anak Jepang seperti itu, rasanya tidak dimiliki oleh anak-anak perempuan 
di Indonesia. Apabila datang pertanyaan, OKalau sudah besar nanti ingin menjadi 
apa? Coba kita simak isi surat Kartini. 
Kami di sini meminta, ya memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan 
pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami 
hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam 
perjuangan hidup ini, melainkan karena kami, oleh sebab sangat yakin akan besar 
pengaruh yang mungkin datang dari kaum perempuan-hendak menjadikan perempuan 
itu lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh Alam 
sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu-pendidik manusia yang pertama-tama.(4 
Oktober 1902 Kepada Tn Anton dan Nyonya. Habis Gelap Terbitlah Terang 
terjemahan Armijn Pane. PN Balai Pustaka 1985) 
 
Rilis Kementerian Kesehatan-Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang tanggal 17 
Maret lalu mengungkap 61% ibu muda Jepang keluar dari pekerjaannya menjelang 
kelahiran anak pertamanya untuk membesarkan buah hatinya. Survey diatas 
melibatkan 21.879 ibu muda yang melahirkan antara bulan Januari 10-17 tahun 
2001, dibagi dalam 4 periode. Setahun sebelum melahirkan, saat melahirkan, enam 
bulan setelah melahirkan dan 18 bulan setelah melahirkan. Didapatkan 73% dari 
jumlah responden mempunyai pekerjaan diluar rumah sebelum melahirkan anak 
pertama. 53% keluar dari tempatnya bekerja sesaat sebelum melahirkan dan tidak 
kembali bekerja lagi. Ditambah dengan yang keluar dari pekerjaannya setelah 
melahirkan, jumlah seluruhnya menunjukkan 61% ibu muda Jepang meninggalkan 
pekerjaannya diluar rumah setelah melahirkan anak pertama. 
 
Dari masa ke masa grafik pekerja wanita-usia menikah 27 tahun-Jepang yang 
keluar dari lapangan kerja terus meningkat. Kemudian di usia 40 tahun keatas 
grafik wanita memasuki lapangan kerja mulai meninggi lagi. Hal ini dikaitkan 
dengan adanya kelahiran dan masa membesarkan anak -anak oleh ibu-ibu [EMAIL 
PROTECTED] fiskal 2003 mencatat jumlah seluruh angkatan kerja wanita di Jepang 
sebanyak 25.5 juta yang 41. 4 %(9.3 juta) adalah pekerja wanita paruh waktu, 
bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu. Dan dari seluruh total lapangan 
kerja paruh waktu, 77.4 persen diduduki oleh tenaga kerja wanita-Japan A Pocket 
Guide 2004, Foreign Press Centre Japan-. 
 
Sejak berakhirnya PD II sekaligus yang meruntuhkan pemerintahan feodal 
kekaisaran Jepang, pendidikan rakyat Jepang untuk pria dan wanita dalam sain 
publik dan sain domestik terus melaju dan berimbang. Tahun 2002, 97.5% wanita 
Jepang tamat pendidikan smu. Dibanding yang pria, wanita Jepang setelah lulus 
smu lebih banyak yang melanjutkan ketingkat pendidikan yang lebih tinggi ke 
kolese junior dan perguruan tinggi, 48.8%. 
 
Kebebasan memilih bagi wanita Jepang adalah, profesionalisme. Peran ganda 
sebagai ibu, terutama ibu anak balita sekaligus wanita pekerja. Dianggap 
sebagai chuto hanpa-peran tanggung, tidak populer di Jepang. Menjadi ibu 
manusia Jepang atau tidak sama sekali. Hak dan kewajiban masing-masing 
dilindungi oleh undang-undang. Sarana dan prasarana yang diberikan oleh 
pemerintah sama-sama besar dan mendukung kesuksesan masing-masing karir yang 
diemban. 
 
Bagi wanita pekerja Jepang-wanita tidak menikah/menikah tdkmelahirkan anak -, 
bisa mencapai jabatan yang setinggi-tingginya apabila dia sanggup dan mampu. 
Astronout wanita Asia pertama, bahkan mungkin yang pertama pula di dunia, 
terbang dua kali dengan NASA, space-shuttle Columbia-Juli 1994 dan 
Discovery-Nov 98, adalah wanita Jepang, Dr. Chiaki Mukai. Menlu sekaligus 
Deputi Perdana Menteri dari negara super economic power sekaligus bangsa 
tersejahtera didunia serta memiliki harapan hidup terlama, dan sedang berjuang 
meningkatkan peranan Jepang di Dewan Keamanan PBB, adalah seorang wanita, 
Yoriko Kawaguchi. 
 
Bag wanita Jepang yang memilih melahirkan anak. Secara ilmiah maupun dalam 
tradisi Jepang, mitsu no tamashi -masa-masa emas meletakkan pendidikan dasar 
dalam usia tiga tahun pertama masa perkembangan pesat otak seorang anak-, 
adalah penyebab utama ibu muda Jepang berpendidikan meninggalkan lapangan kerja 
melaksanakan ikuji-meletakkan dasar pendidikan berperilaku sejak dini kepada 
anak-anaknya-. 
 
Agar para ibu muda Jepang tidak perlu membantu mencari tambahan nafkah 
keluarga. Pemerintah Jepang menyediakan permukiman sewa layak untuk para 
keluarga muda, sejak dari jaman masih dinding terbuat dari papan hingga kini 
beton bertingkat tahan gempa dengan fasum&fasos yang semakin maju seperti 
tehnologi informasi.Tanpa didorong-dorong namun dengan daya tarik berupa sistim 
keamanan sosial, sarana& prasarana serta pengetahuan yang semakin baik. Secara 
alamiah nilai keibuan yang dimiliki sebagian besar wanita Jepang bisa 
berkembangan menumbuh-kembangkan anak-anak beserta lingkungan. Tak heran jika 
anak-anak di Jepang , pria dan wanita, sangat sayang dan mengagumi ibu-ibunya. 
Sebagai jelmaan Dewi Amaterasu yang dipuja oleh bangsa Jepang. 
 
Pen ingnya pendidikan sejak dini itupun telah disinggung dalam surat Kartini, 
Ldalam haribaan si ibu itulah anak belajar merasa,berpikir, berkata-kata.(Awal 
tahun 1900 kepada Nyonya Ovink Soer). Namun yang terjadi, anak Indonesia dari 
golongan ibu berpendidikan malah berada dalam haribaan para pembantu rumah 
tangga dan bebi siter. 
 
Diplomasi Jepang di luar Jepang tentang peranan wanita Jepang sebagai senggyo 
syuhu „Aibu rumah tangga profesional- dan kyoiku mama-ibu pendidikan, memang 
nyaris tidak terdengar. Namun dalam aplikasinya di kehidupan sehari-hari sangat 
gencar dan berkelanjutan. 
 
Tentang wanita (baca; ibu) yang bekerja di luar rumah telah menjadi agenda 
utama pemutus kebijakan wanita Indonesia sejak berdirinya Meneg Urusan Peranan 
Wanita. Namun hak-hak para ibu Indonesia untuk dapat melaksanakan kewajibanya 
melaksanakan fitrah keibuannya sebagai ibu manusia Indonesia belum pernah 
digaungkan. 
 
Dalam upaya bangkit dari keterpurukan saat ini, dengan melihat keberhasilan 
pembangunan manusia Jepang oleh para ibu Jepang. Ternyata, sangat relevan 
mewujudkan segera cita-cita Pahlawan Nasional Ibu Kartini. Yang sejalan juga 
dengan UU Pernikahan RI 1974, UU Perlindungan Anak Thn 2002 bahkan seirama 
dengan hati nurani kaum ibu Indonesia. 
 
Alangkah lebih baik jika para caleg wanita terpilih yang masih tebal naluri 
keibuannya. Segera menengok pendidikan anak sejak dini oleh ibu pendidikan 
Jepang dari dalam kawasan huni sewa tempat tinggal mereka. Tanpa mewujudkan 
cita-cita Kartini, cita-cita seluruh ibu Indonesia, berapapun anggaran 
pendidikan akan dinaikkan oleh pemerintahan yang akan datang. Dalam sekejap 
akan segera diketahui hasilnya, adalah kegagalan dan kegagalan lagi disegala 
bidang. 
 
# Anni Iwasaki Koresponden Media Indonesia di Tokyo Jepang. Tokyo 17 April 
2004. 
 



Nok Waliyah
www.nokwaliyah.blogspot.com 

--- End forwarded message ---



      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

"We cannot all do great things.But we can do small things 
with great love." - Mother Teresa
---------------------------------------------------------

BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar

Stop or Unsubscribe: send blank email to [EMAIL PROTECTED]
Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke