Any comment?

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal




http://www.rumahilmuindonesia.net/v3/index.php?option=com_content&view=article&id=198:ambruknya-pts-kita&catid=42:akademika&Itemid=12




                        Ambruknya PTS Kita
                        
                                                
                
                
                
                                
                
                
                
                                
                
                
                                        








Oleh : Agus Suwignyo *)
 Di tengah gencarnya ikhtiar menjawab tantangan global, banyak perguruan tinggi 
swasta di Indonesia yang nyaris ambruk. Berita
Kompas dua pekan lalu menyebutkan, hanya 50 persen dari 2.756 PTS di
Indonesia saat ini yang dinyatakan ”sehat” dalam hal jumlah mahasiswa,
rasio dosen- mahasiswa, dan ketersediaan fasilitas. Di Jawa Tengah 174
dari 323 PTS terancam ditutup karena kurang diminati mahasiswa. Di
Yogyakarta jumlah mahasiswa baru PTS cenderung turun. Situasi ini
sangat memprihatinkan!

 Ambruknya sejumlah PTS merupakan efek privatisasi dan
deregulasi pendidikan. Di sisi lain, kondisi ini mencerminkan mutu
manajemen pendidikan tinggi kita, khususnya PTS, amat buruk. Seberapa
siap PT(S) di Indonesia menghadapi persaingan yang semakin terbuka?
Pantaskah pemerintah berdiam diri menyaksikan ratusan PTS sekarat? Melalui
pergeseran skema pembiayaan, pemerintah mengurangi subsidi. Inilah yang
membuat perguruan tinggi negeri (PTN) harus mencari biaya sendiri.
Bersamaan dengan itu, syarat pendirian program relatif tidak
diperketat. Tak peduli sudah berapa jumlah suatu program studi pada PTS
di sebuah wilayah, PTN ”bebas” mendirikan program yang sama dan
menentukan benchmark akuntabilitasnya masing-masing. Di
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, dan Malang,
universitas bekas IKIP membuka berbagai program studi yang sudah
dimiliki universitas di kota-kota tersebut dan nyaris tanpa perbedaan
kekhasan program. Sementara itu, universitas-universitas badan hukum
milik negara (BHMN) memperluas seleksi mahasiswa melalui aneka jenjang
pendidikan. Akibatnya, peluang PTS memperoleh mahasiswa
susut karena pasar calon mahasiswa relatif tetap. Namun, di berbagai
jenjang jumlah program studi yang sama semakin besar. Dalam konteks
ini, PTS yang (nyaris) ambruk adalah korban langsung deregulasi dan
persaingan memperebutkan calon mahasiswa. Karena itu,
pemerintah harus segera mengendalikan ”ekspansi” PT BHMN dan
universitas-universitas bekas IKIP. Selain itu, pemerintah sebaiknya
mengambil alih PTS yang sekarat! Diperlukan terobosan kebijakan untuk
merevitalisasi PTS, misalnya melalui program bantuan likuidasi PTS. Revitalisasi
PTS perlu diintegrasikan dengan rencana restrukturisasi SMA dan SMK. Di
banyak negara maju, jumlah universitas dibatasi dan seleksi mahasiswa
diatur berdasarkan jenis sekolah menengah. Jika di
Indonesia lulusan SMK hanya dapat melanjutkan studi ke akademi ataupun
politeknik, maka nasib lembaga-lembaga perguruan tinggi vokasional
tersebut akan terselamatkan. Selain itu, mutu kevokasionalan lulusan
dipastikan meningkat karena kesinambungan pendidikan kejuruan tingkat
menengah dan perguruan tinggi. Pada sisi lain, jika
universitas hanya menerima lulusan SMA dan tidak menyelenggarakan
pendidikan vokasional, peluang mengembangkan riset bermutu di
universitas semakin besar. Rangkaian panjangDi
luar itu harus disadari bahwa privatisasi yang kita saksikan saat ini
merupakan rangkaian panjang desakan global dan tuntutan negara
berkembang pascakolonial. Berawal dari kesadaran
pentingnya memperkuat semangat kebangsaan, pengelolaan perguruan tinggi
dirasakan perlu dilakukan secara mandiri dan berdaya saing. Maka, belum
satu dekade Proklamasi Kemerdekaan, gagasan privatisasi telah
dibabarkan melalui sebuah RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) 1953. Selama
puluhan tahun berikutnya, gagasan pembentukan BHP raib akibat kuatnya
politik ideologi penguasa. Namun, tahun 1990-an karena
skema pinjaman lembaga-lembaga donor, pemerintah meratifikasi The
General Agreements on Trade in Services (GATS) tentang layanan
pendidikan. Dengan itu, pemerintah menghidupkan kembali gagasan
privatisasi. Tahun 2000 privatisasi ”diujicobakan”
melalui pemberian status BHMN kepada empat PTN, yang disusul dengan PTN
lain. Dalam rentang 1990-2000-an pula IKIP ramai-ramai diubah menjadi
universitas. Tidak jelas apakah pemerintah sempat
memikirkan dampak kebijakan-kebijakan tersebut bagi PTS. Yang jelas,
privatisasi justru akan dimasifkan melalui UU BHP yang rancangannya
sedang diolah DPR. Jika UU BHP diberlakukan, PTS
dipastikan mengalami guncangan lebih dahsyat daripada sekarang. Kendati
demikian, upaya membendung gelombang pasar bebas pendidikan merupakan
utopia karena ketergantungan pada GATS-WTO dan tahap-tahap privatisasi
yang telah dilalui dunia pendidikan Indonesia. Selain
privatisasi, ada dua penyebab ambruknya PTS kita. Pertama, krisis
ekonomi berkepanjangan melemahkan daya beli masyarakat atas layanan
perguruan tinggi dan daya tahan finansial yayasan- yayasan
penyelenggara PTS. Kedua, sikap latah pengelola PTS.
Misalnya, setelah wabah ”universitas riset”, akhir-akhir ini sejumlah
pengelola PT(S) mencanangkan institusinya menjadi universitas
kepengusahaan. Namun, apa maksudnya dan mengapa memilih visi tersebut
tidak dikaji mendalam. Agus Suwignyo Pedagog FIB UGM, Menulis Pendidikan Tinggi 
dan Goncangan Perubahan (2008), Sedang Meneliti Sejarah Pendidikan Guru



      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

"We cannot all do great things.But we can do small things 
with great love." - Mother Teresa
---------------------------------------------------------

BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar

Stop or Unsubscribe: send blank email to [EMAIL PROTECTED]
Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke