Menurut saya itu hanya salah satu contoh saja tentang bagaimana kebudayaan 
kira dicontoh ataupun di publikasikan bangsa lain mengatasnamakan mereka... 
kenapa bisa begitu?

Saya rasa karena pemerintah sendir belum tepat atau maksimal untuk 
mempromosikan kebudayaan kita, contohnya kalau kita nonton TV-Satellite ada 
acara DiscoveryChannel>Tavel&Living, negara2 seperti Malaysia, Singapore, 
Taiwan, India sangat antusia promosikan wisata pariwisata, tempat2 wisata, 
kuliner... gak heran kalau rendang yg di-klaim makanan khas dari budaya 
Malaysia... jangan marah dulu... emang negara mana yang tau kalau tidak 
nonton TV atau dapat informasi dari media cetak/tv/internet? mereka promosi 
kain batik dbs-nya jangan marah.... orang2 di negara lain misalnya Eropa 
kalau menonton itu... pasti ooohhh.. from Malaysia.. from Singapore...

Karena acara2 tsb menurut saya sangat membantu untuk promosi wisata dan 
budaya, dan saya heran subscriber tv-satellite di indonesia cukup banyak 
sekali and ditonton seluruh dunia terutama Asia, kenapa pemerintah Indonesia 
tidak mengajukan acara kesana? kemana selama ini Departmen Pariwisata dan 
Budaya? jangan cuma saling lempar tanggung-jawab yg sampai2 pengertian tema 
wisata aja salah (yang national ditulis nation);

Sedih sekali melihat semua itu, kalau dibandingkan tempat wisata dengan 
negara2 tsb, mereka pasti kalah dengan wisata kita dari Sabang s/d Merauke, 
mau cari makanan jenis apapun kita ada di Indonesia.
Tapi mana promosinya? jangan hanya lewat TV lokal... gak ada gunanya... 
kenapa kita tidak ada yg berani untuk ajukan ke media seperti 
DiscoveryChannel, pembawa acara kita banyak... memang susah cari yang 
pintar2 bahasa Inggris... kalau artis2 mungkin jarang sekali yg sejajar 
tampang dengan kemampuan otaknya... cari saja dari kampus bahasa asing,

Saya yakin bapak2 & ibu2 pemerintahan terutama Dept.Pariwisata&Budaya atau 
DepKomInfo pasti punya tv-satellite dirumah, mereka kalau nonton acara2 tsb 
apa tidak ada ide keluar untuk publikasi atau promosi bangsa kita dari segi 
budaya&parawisata...?? di jaman media yang serba canggih sekarang intinya 
cuma promosi...

demikian sedikit konsen&sedih setelah baca articel dari wira....

thanks -




----- Original Message ----- 
From: "Wira Wijaya" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Monday, September 08, 2008 8:52 PM
Subject: [BinusNet] oot - budaya indonesia


> Kisah sedih dialami Desak Suarti, seorang pengerajin perak dari
> Gianyar, Bali. Pada mulanya, Desak menjual karyanya kepada seorang
> konsumen di luar negeri. Orang ini kemudian mematenkan desain
> tersebut. Beberapa waktu kemudian, Desak hendak mengekspor kembali
> karyanya. Tiba-tiba, ia dituduh melanggar Trade Related Intellectual
> Property Rights (TRIPs). Wanita inipun harus berurusan dengan WTO.
>
> "Susah sekarang, kami semuanya khawatir, jangan-jangan nanti beberapa
> motif asli Bali seperti `patra punggal', `batun poh', dan beberapa
> motif lainnya juga dipatenkan" kata Desak Suarti dalam sebuah wawancara.
>
> Kisah sedih Desak Suarti ternyata tidak berhenti sampai di sana.
> Ratusan pengrajin, seniman, serta desainer di Bali kini resah menyusul
> dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh warga negara asing.
> Tindakan warga asing yang mempatenkan desain warisan leluhur orang
> Bali ini membuat seniman, pengrajin, serta desainer takut untuk berkarya.
>
> Salah satu desainer yang ikut merasa resah adalah Anak Agung Anom
> Pujastawa. Semenjak dipatenkannya beberapa motif desain asli Bali oleh
> warga asing, Agung kini merasa tak bebas berkarya. "Sebelumnya, dalam
> satu bulan saya bisa menghasilkan 30 karya desain perhiasan perak.
> Karena dihinggapi rasa cemas, sekarang saya tidak bisa menghasilkan
> satu desain pun," ujarnya hari ini.
>
> Potret di atas adalah salah satu gambaran permasalahan perlindungan
> budaya di tanah air. Cerita ini menambah daftar budaya indonesia yang
> dicuri, diklaim atau dipatenkan oleh negara lain, seperti Batik
> Adidas, Sambal Balido, Tempe, Lakon Ilagaligo, Ukiran Jepara, Kopi
> Toraja, Kopi Aceh, Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayang Sayange, dan lain
> sebagainya.
>
> LANGKAH KE DEPAN
>
> Indonesia harus bangkit dan melakukan sesuatu. Hal inilah yang
> melatarbelakangi berdirinya Indonesian Archipelago Culture Initiatives
> (IACI), informasi lebih jauh dapat dilihat di
> http://budaya-indonesia. org/ . Untuk dapat mencegah agar kejadian di
> atas tidak terus berlanjut, kita harus melakukan sesuatu. Setidaknya
> ada 2 hal perlu kita secara sinergis, yaitu:
>
> 1. Mendukung upaya perlindungan budaya Indonesia secara hukum. Kepada
> rekan-rekan sebangsa dan setanah air yang memiliki kepedulian (baik
> bantuian ide, tenaga maupun donasi) di bagian ini, harap menghubungi
> IACI di email: [EMAIL PROTECTED] org
>
> 2. Mendukung proses pendataan kekayaan budaya Indonesia. Perlindungan
> hukum tanpa data yang baik tidak akan bekerja secara optimal. Jadi,
> jika temen-temen memiliki koleksi gambar, lagu atau video tentang
> budaya Indonesia, mohon upload ke situs PERPUSTAKAAN DIGITAL BUDAYA
> INDONESIA, dengan alamat http://budaya-indonesia. org/ Jika Anda
> memiliki kesulitan untuk mengupload data, silahkan menggubungi IACI di
> email: [EMAIL PROTECTED] org
>
> - Lucky Setiawan
>
> nb: Mohon bantuanya untuk menyebarkan pesan ini ke email ke teman,
> mailing-list, situs, atau blog, yang Anda miliki. Mari kita dukung
> upaya pelestarian budaya Indonesia secara online.
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> ------------------------------------
>
> "We cannot all do great things.But we can do small things
> with great love." - Mother Teresa
> ---------------------------------------------------------
>
> BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
> Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar
>
> Stop or Unsubscribe: send blank email to 
> [EMAIL PROTECTED]
> Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
> 


Kirim email ke