Menarik tulisan dari Bayu Gautama ini, nilai moral atau hikmah dari cerita ini 
berlaku lintas agama, lintas golongan, berguna untuk kita semua.

Mohon maaf kalau ada yg kurang berkenan.

Wassalam,



Nugon


http://www.warnaislam.com/rubrik/monolog/2008/11/1/3600/Senior_Selalu_Benar.htm

Senior Selalu Benar? 
  Sabtu, 01 November 2008 01:00
   Saya
pernah menabrak sebuah angkutan kota atau biasa disebut ‘angkot’. Motor
saya hancur, begitu juga kaca bagian belakang angkot tersebut.
Nahasnya, saat itu saya tak sadarkan diri setelah terbang beberapa
meter dan terjerembab di selokan pinggir jalan raya. Hasilnya,
pergelangan kiri saya patah dan terdapat banyak memar di sekujur tubuh. 
Bukan
soal lukanya yang menarik untuk diceritakan, melainkan komentar teman
saya beberapa hari usai kecelakaan tersebut. “Yang salah kamu, kenapa
naik motor di belakang angkot?” Saya tidak terima, “Jelas-jelas angkot
itu ngerem mendadak lantaran mau ambil penumpang tapi tidak menepi
terlebih dulu…”

Lalu teman saya berujar, “Bukankah dari jaman Belanda menjajah
negeri ini kelakuan sopir angkot sudah seperti itu? Makanya belajar
sejarah…” Saya hanya bisa geleng-geleng kepala pertanda tak setuju.

Intinya, menurut teman saya itu, kalau mobil kita diserempet angkot
yang salah tetaplah bukan angkot, “siapa suruh dekat-dekat angkot?”
kilahnya. Terus, kalau sering dibuat kesal harus ngerem mendadak
gara-gara angkot yang kerap berhenti seenaknya, lagi-lagi yang salah
bukan angkot, melainkan orang yang berkendara di belakang angkot.

Begitu pula ketika sebuah angkot yang ‘ngetem’ bikin macet sepanjang
ratusan meter, tiba-tiba seorang pengendara mobil yang melintasi angkot
tersebut berteriak, “Sopir g****k! Minggir dong…”. Sudah tahu kan
jawaban sopir angkot? “Kalau pintar, saya nggak jadi sopir angkot”

Kisah lain tentang seorang Kyai di sebuah Pesantren di Subang, Jawa
Barat. Suatu hari saya dan beberapa teman menumpang sholat maghrib di
pesantren tersebut. Saat itu, Kyai yang merupakan pendiri sekaligus
pimpinan pesantren yang memimpin sholat melakukan kekhilafan, sholat
maghrib hanya dilakukan dua rakaat. Serempak, saya dan beberapa teman
mengucap “Subhanallah” saat Pak Kyai mengucap salam sebagai tanda akhir
sholat, padahal baru rakaat kedua. Berkali-kali kami mengucap
“Subhanallah” untuk mengingatkan, dan anehnya Kyai tenang saja dan
tidak merasa ada yang kurang.

Yang lebih aneh lagi, selain kami, tidak ada satupun jamaah yang
turut mengingatkan kurangnya rakaat itu kepada Pak Kyai, termasuk para
ustadz dan santrinya. Bahkan usai kami menyelesaikan rakaat ketiga,
seorang ustadz menghampiri dan berbisik, “Kalau Kyai salah tidak perlu
diingatkan, kami beranggapan kalau Kyai khilaf itu berarti Allah memang
berkehendak demikian”.

Masya Allah, jadi sebenarnya para ustadz dan santri itu menyadari
kekeliruan Pak Kyai. Hanya saja selain mereka sungkan lantaran menilai
Kyai itu memiliki kelebihan ilmu dan kemuliaan, kekeliruan Pak Kyai pun
dianggap satu kehendak Allah.

Masih berkenaan dengan kesalahan atau kekeliruan, kita tentu pernah
mendengar kalimat seperti ini, “Pasal satu; senior selalu benar. Pasal
dua; jika senior melakukan kesalahan, lihat pasal satu”.

Konon, mulanya dua pasal kramat itu berlaku di lingkungan militer.
Soal kebenarannya, saya tidak berani memastikan. Tetapi pasal ini
sangat terkenal dan bukan hanya berlaku di lingkungan militer. Ketika
saya mengikuti masa orientasi dan pengenalan kampus awal tahun 1990-an
silam, pasal ini pun berlaku hebat. Sehingga para senior saya bebas
melakukan tindakan sewenang-wenang dan sesukanya kepada para junior.

Aksi balas dendam pun menjadi turun temurun diwariskan dalam
lingkungan yang menerapkan dua pasal ini. Baik di lingkungan militer,
kampus semi militer, sampai kampus dan sekolah menengah umum yang tidak
ada hubungannya dengan militer. Saya tidak tahu apakah pasal sakti ini
masih dipakai di lingkungan militer, kampus atau sekolah?

Dari tiga kasus di atas, bisa diambil pelajaran yang menarik untuk
dikupas secara singkat. Tiga jenis orang yang melakukan kesalahan,
pertama; orang yang sudah biasa melakukan kesalahan, sehingga kesalahan
demi kesalahan dianggap wajar dan biasa oleh orang lain yang
melihatnya. Bila ia melakukan kesalahan dan merugikan orang lain, maka
yang dirugikanlah yang diminta berdiam diri dan tak perlu melawan atau
menasihati yang salah.

Kedua; lantaran dianggap berilmu dan memiliki kemuliaan, kekeliruan
dan kesalahan seolah menjadi sesuatu yang muskil dilakukan orang ini.
Menasihati atau mengingatkan kesalahan orang ini adalah hal tabu dan
menghinakan. Siapapun yang melihat orang ini melakukan kesalahan, harus
menutup mulut dan memandangnya secara wajar.

Ketiga, jabatan dan pangkat kerap mempengaruhi nilai-nilai
kebenaran. Seringkali seorang bawahan sungkan menegur atau mengingatkan
atasannya demi menyelamatkan karirnya, “daripada saya dipecat”
alasannya. Tindakan cari selamat pun jadi budaya di berbagai tempat dan
lingkungan.

Haruskah dipertahankan kekeliruan seperti ini? Atau justru kita
menjadi bagian yang terus menerus membudayakan tradisi ini? Tidak!
Sudah waktunya mengungkap kebenaran itu menjadi tradisi, bukan
sebaliknya. Sudah saatnya orang yang benar itu lebih berani dari mereka
yang melakukan kesalahan. Dan bukan waktunya lagi kita malu menegur
orang yang keliru, karena semestinya mereka lah yang malu karena sering
berbuat salah. Semoga (gaw)

Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

"We cannot all do great things.But we can do small things 
with great love." - Mother Teresa
---------------------------------------------------------

BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar

Stop or Unsubscribe: send blank email to [EMAIL PROTECTED]
Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke