Mental
<http://homeschooling-indonesia.blogspot.com/2008/12/mental-belajar-para-jua
ra.html>  Belajar Para Juara 


Apa yang terjadi sebenarnya ketika seseorang belajar ? apa yang terjadi dan
bagaimana prosesnya? Kalau biasa saya suka menjelaskan secara detail, maka
disini saya tampilkan video clipnya. Silakan unduh di sini : clip tentang
<http://rapidshare.com/files/174724655/KERJA_OTAK.MPG.html>  otak.
<http://rapidshare.com/files/174724655/KERJA_OTAK.MPG.html> 

Coba lihat dulu clip tersebut sebelum membaca selanjutnya...

Bagi yang penasaran dan lama menunggu unduhan filmnya tidak ada yang salah
kalau mau langsung baca. hehhe

Oke focus ke topik, dari clip tersebut, ternyata perjuagan untuk belajar
suatu hal yang asing di dalam otak merupakan usaha yang sangat berat.
Ibaratnya menyeberangi 2 bukit terjal yang terpisah jauh, yang tidak
semata-mata bisa diloncati oleh orang lompat galah sekalipun. Itulah barrier
antara state tidak tahu, tidak faham, tidak hafal ke state memahami suatu
informasi/ ilmu/ artikel dan lain sebagainya. Memang kuncinya adalah proses
mengulang dan pantang menyerah.

Pernahkah anda mempelajari sesuatu, begitu melihat istilahnya asing semua
(bukan bahasa asing, tapi istilah-istilah yang sesuai topik tersebut, tapi
anda belum mengenali maksud istilah tersebut karena baru dalam bidang
tersebut), maka anda mundur teratur dalam mempelajari hal tersebut? ada... ?
banyakkkk.

Pernahkan anda mempelajari bidang anda, dan tidak faham sesuatu, lalu merasa
gengsi bertanya atau tidak tahu bertanya kepada siapa, sehingga topik
tersebut merupakan momok anda dalam bekerja ? Ada... ? banyakkk

Pernahkah anda melihat suatu topik belajar, orang lain bilang itu sulit,
tapi begitu melihat sekali, dan jatuh cinta topik tersebut, kemudian tanpa
terasa waktu berlalu dan anda dapat belajar dengan mudah dan memahaminya,
lalu orang bilang anda berbakat ? ada ? .. banyak...

Coba dibandingkan ketiga hal tersebut. Topik bisa sama, yang dibaca bisa
sama tapi kecepatan dalam memahami bisa akan berbeda. Yang satu menikmati
menelaah topik tersebut, yang lainnya menganggap beban..

Seharusnya belajar adalah proses yang fun. Dalam kelas advance yang saya
ajarkan dalam bidang jaringan komputer, seringkali dasar-dasar jaringan
menjadi penting agar dapat memahami materi selanjutnya. Apa yang terjadi
kalau hari pertama ikut kelas yang terbayang adalah banyak istilah asing
yang perlu dihapal, banyak materi yang musti dimengerti secara cepat, banyak
orang yang gagal mempelajari materi tersebut dan seabrek pemikiran negatif
tersebut. Bisa ditebak, daya serap akan sangat menurun, bahkan sampai
training selesai, materi yang seharusnya dia fahami menjadikan beban fikiran
sepanjang training. hei ini bukan training motivasi atau kinerja yang bisa
diselingi dengan game-game yang fun, atau aktifitas games group yang menarik
itu. Ini training skill komputer yang sangat teknis.

Disinilah seharusnya letak kreatifitas trainernya, jangan sampai training
yang memang serius dan padat materi menjadi momok yang menakutkan bagi para
peserta training. Tapi bukan itu yang akan saya bahas disini. Saya menyoroti
adalah masalah utama belajar adalah apa yang saya sebut dengan "trauma
belajar". Bahasa mudahnya adalah rasa minder dalam belajar. mau bukti.. oke
coba kita simulasikan proses dalam belajar..

Pada saat kita mempelajari hal baru, otak dalam proses kebingungan karena
dia tidak menemukan referensi apapaun yang berhubungan dengan subject
tersebut. Pada saat state inilah dia mencoba membangun koneksi / syaraf yang
baru yang siap menampung informasi baru tersebut. Itu dialami oleh semua
orang dalam belajar. Tapi ada yang mudah belajarnya dan ada yang susah atau
bahasa sederhananya adalah ada yang jenius dan cerdas ada yang bodoh.
Mengapa ini terjadi, prosesnya sama, tapi penlabelannya berbeda. Menurut
saya pribadi ternyata orang bodoh di dunia ini tidak ada, yang ada adalah
orang yang malas dalam berfikir. Sikap malas inilah yang menghasilkan
perbedaan mana orang bodoh dan orang cerdas. Dan garda depan dalam hal ini
adalah mental / sikapnya yang merujuk kepada pola fikir atau paradigma.

Saya suka mengatakan bahwa cara berfikir orang cerdas adalah pola fikir
orang hebat, bahasa kerennya adalah patern of excelent. Bagaimana cara
mereka berfikir ? Pada saat mereka menghadapi topik baru, otaknya
menggenerate / menjalankan program lainnya yang menghasilkan perasaan
tertantang, bergairah, rasa penasaran sehingga memicu rasa tidak sabar untuk
menghabiskan lembaran-lembaran buku yang membahas topik tersebut. Bahkan
pada saat dia belum menemukan apa yang dia cari, maka dia akan mencari
sumber lain, bisa dari internet, diskusi teman, pakar dibidangnya dan
sebagainya sehingga akhirnya dengan puas dan sukses dia menjadi lebih paham
dari orang lain tentang topik tersebut. Yup mental para juara - patern of
excelent

Berbeda dengan orang yang mengklaim dirinya sendiri bodoh. hehhe yeah
pelabelan bodoh itu sebenarnya yang membuat adalah diri sendiri. Sangat
jarang guru dan orang tua yang mencap anaknya bodoh. Orang tua yang mencap
anaknya bodoh sebenarnya adalah mencap dirinya sendiri bodoh (kan anaknya,
dia yang seharusnya mendidiknya) yang parahnya bergaung di dalam fikiran
anak adalah diri anak sendiri yang melabel dirinya bodoh. Jadi Orang tua
melabel dirinya bodoh yang ditiru anaknya melabel diri sendiri bodoh (hati
hati orang tua pada saat mencap anak sendiri / orang lain bodoh). Bagaimana
dengan guru yang mencap anak didiknya bodoh ? Itu hanya menunjukkan
ketidakmampuan dia menjelaskan materi yang diajarkannya saja. Anak tidak
bodoh, tapi gurulah yang kurang creatif dalam menjelaskan sehingga tidak
dapat difahami oleh anak didiknya.

Jadi orang bodoh itu tidak ada. yang ada adalah orang malas berfikir.
Bagaimana kalau orang lambat dalam memahami suatu topik? ini hanya masalah
belum terinformasikan belajar yang efektif itu seperti apa, apakah pada saat
kita berada dalam pendidikan dasar pernah diajarkan belajar efektif itu
seperti apa ? saya pribadi menjawab tidak pernah.. dan itu tidak masuk dalam
kurikulum sekolah. Sumber utama sikap malas berfikir adalah rasa rendah
diri. Yup pangkal masalahnya adalah disini, kita tidak cukup pd (percaya
diri) bahwa diri kita cerdas. Pada saat pemikiran kita bahwa kita tidak
secerdas orang lain, maka sikap mental kita dalam belajar menjadi loyo
imbasnya adalah malas berfikir, tidak perhatian, tidak focus dan sebagainya.
apakah sesederhana itu ? ya tentu saja..

Kita ambil cerita lagi, kita lihat lingkaran setannya mengapa seseorang itu
menjadi bodoh matematika dan seumur hidup dia bodoh matematika. Pada awalnya
dia menilai netral terhadap bahan matematika. Hari pertama dia belajar
matematika adalah tentang penambahan dan pengurangan. Namun karena dia
kondisinya sakit dan agak demam, dia kurang konsentrasi sehingga dia tidak
memahami materi sepenuhnya. Minggu berikutnya, topik yang dibahas adalah
materi penambahan dan pengurangan yang lebih maju. Karena minggu lalu dia
kurang faham, maka tentu saja dia mulai kesulitan memahami materi
selanjutnya. Ketika minggu berikutnya ada ulangan matematika, dan hasilnya
kurang memuaskan, maka dia mulai mencap dirinya tidak berbakat matematika.
Secara bawah sadar sudah tertanam seperti itu sehingga kemauan belajar
matematika menjadi berkurang. Imbasnya lagi adalah ulangan berikutnya
nilainya semakin jelek untuk matematika. Akibatnya dia teryakinkan dia bodoh
matematika. Begitu terus prosesnya berlanjut seperti lingkaran setan
sehingga dia benar benar alergi matematika. Mau anak anda seperti ini ?
bagaimana anak bisa cerdas secara finansial nantinya, kalau hitung-hitungan
matematika dasar saja alergi. ;)

Namun solusinya bagaimana ? kita lihat kisah yang berbeda. Pada saat ulangan
pertama nilainya kurang memuaskan, sebagai seorang ayah,dia hanya tersenyum
dan bilang.. "bagus.. ayah dulu seperti kamu.. itu hanya masalah waktu kamu
hanya perlu aktif bertanya dan percaya diri, karena ayah adalah orang
sukses.. kamu juga pasti bisa melebihi ayah... karena ayah dulu juga ndak
ngerti matematika." Yang terjadi adalah minggu berikutnya dia aktif bertanya
dan belum puas sebelum faham bahkan materi minggu lalu juga ditanya. Sampai
waktunya berakhirpun dia masih mengejar guru matematikanya diruang guru.
Hasilnya minggu berikutnya ulangnya membaik dan mulai melabel dirinya cerdas
matematika. Dia mulai suka dengan topik matematika karena temen temennya
memuji bahwa dia jago matematika. Kemudian karena rasa bangga, dia mulai
belajar topik matematika yang lebih maju dari pelajaran sekolah, akhirnya
dia semakin paham dan semakin paham sehingga semakin dipuji, semakin
semangat, 25 tahun kemudian dia menjadi dosen IT di sebuah perguruan
tersohor di negerinya.

kasus yang sama, masalah yang sama, endingnya yanag berbeda. Itu berawal
dari mengerti cara kerja otak. Mau seperti ini.. Jangan lupa usia tidak bisa
menjadi alasan orang menjadi tidak PD dalam mempelajari sesuatu. Itu hanya
masalah kemalasan dalam berfikir.
Jadi.. kalau anda mulai belajar topik yang sulit.. seharusnya anda
tersenyum.. karena itu saatnya anda membuktikan kedasyatan diri anda, karena
sesungguhnya semua orang lahir sebagai para juara... 

 

 

Adly Yulfiansyah

Trainer / Consultant IT

Cisco Certified System Instructor

CCSI#35147

http://homeschooling-indonesia.blogspot.com

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke