Mohon maaf bila kurang berkenan, ane copy paste forward email dari beberapa 
milis tetangga - beserta opini yg ada di sana. Bila ada yg kurang berkenan, 
mohon maaf. Dan bila moderator merasa email ini melanggar rule, mohon direject.
 
Wassalam,
 
 
 
 
Nugon
 
 
Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!

http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/
http://nugon19.multiply.com/journal
 




Mungkin....ini masih mungkin....dan debatable bagi beberapa orang....akan 
HAMAS, akan cara orang Palestina berjuang....kurang baik, kurang benar, tidak 
pada tempatnya....dsb. Yes, I Agree!!!
 
Tapi bagaimana mungkin mereka tidak melawan...walau mungkin caranya kurang 
tepat.... apa jaminan jika mereka diam, tunduk patuh....akan selamat....akan 
tidak dibantai??? 
 
Kesaksian Dr. Ang Swee Chai pd memoriamnya di "Tears of Heaven, From Beirut to 
Jerussalem" jelas menegaskan bahwa pada tahun 1983 para pejuang Palestina yg 
waktu itu masih berpayungkan PLO, menyetujui perjanjian damai, menyerahkan 
senjata, keluar meninggalkan keluarga mereka di Kamp Sabra dan Shatila - 
Libanon, agar perdamaian terwujudkan...perjanjian damai dgn kubu Zionis. Apa 
hasilnya??? Pembantaian!!!! 
 
Inilah kesaksian seorang manusia yg tdk bisa mengingkari suara hatinya utk 
berteriak lantang memberikan kesaksian ttg kekejaman Zionis...Ia 
bersaksi beserta banyak rekannya dari berbagai kalangan, lintas profesi, lintas 
negara, lintas agama, lintas suku...termasuk komunitas Yahudi non Zionis. 
 
They are declare: WAR AGAINST ZIONISM!!!!
 
PASTI....PASTI....dan PASTI...Zionis terus melakukan pelanggaran HAM, sejak 
dulu hingga kini. Tidak ada keraguan dan perbedaan pendapat kecuali orang yg 
jasadnya telah ditinggalkan oleh hati nuraninya. Manusia berhati bukan manusia 
lah yg setuju akan segala tindak tanduk Zionis.
 
Memang dari awal Zionis sudah mengakui bahwa mereka menghalalkan segala cara 
utk mewujudkan impiannya, dan menyadari konsekuensi perlawanan.
 
"Seandainya saya seorang pemimpin Arab, saya tidak akan pernah menandatangani 
sebuah perjanjian dengan Israel. Adalah hal yang normal; kami telah merampas 
negara mereka. Benarlah, Tuhan menjanjikan tanah itu kepada kami, tapi 
bagaimana hal itu dapat menarik perhatian mereka? Tuhan kami bukanlah Tuhan 
mereka. Telah ada Anti - Semitisme, Nazi, Hitler, Auschwitz, tapi apakah itu 
kesalahan mereka? Mereka tidak melihat melainkan satu hal: kami telah datang 
dan telah mencuri tanah mereka. Kenapa mereka mau menerima itu?" David Ben 
Gurion – Perdana Menteri Israel yang pertama, dinyatakan tahun 1948. (Kutipan 
oleh Nahum Goldmann in Le Paraddoxe Juif (The Jewish Paradox), pp121. ) 
 
 
BBC melaporkan seperti berikut....segelintir contoh pelanggaran HAM mereka. Apa 
pendapatmu???
 

*Pasukan Israel Tembaki Penduduk Gaza Saat Kabur 
<http://genenetto.blogspot.com/2009/01/pasukan-israel-tembaki-penduduk-gaza.html>
*



BBC dan sebuah LSM kemanusiaan bernama B'tselem di Israel sudah menerima
beberapa klaim bahwa pasukan Israel telah menembaki warga sipil di Gaza yang
sedang berusaha kabur dari wilayah perang. Israel sudah menyangkal keras
klaim tersebut.

Namun, wartawan BBC di dalam Gaza dan Israel sudah mengumpulkan data yang
lengkap mengenai kejadian tersebut.



Warga sipil Palestina di Gaza mengatakan bahwa pasukan Israel menembaki
mereka pada saat mereka berusaha tinggalkan rumah, dan dalam beberapa kasus,
mereka juga membawa bendera putih. Satu kasus yang telah diterima oleh BBC
dan B'tselem menggambarkan kejadian di mana tentara Israel menembak kepala
seorang wanita pada saat dia melangkah di luar rumah dengan membawa bendera
putih. Dia keluar dari rumah karena memang diperintahkan keluar oleh tentara
Israel lewat pengeras suara.



Tentara Israel menyangkal laporan tersebut dan mengatakan tidak ada bukti
sama sekali.

BBC telah bicara dengan anggota keluarga lain yang mengatakan masih
terkepung di dalam rumah mereka, dan kapan saja mereka berusaha keluar untuk
mencari makanan dan minuman, mereka ditembaki, bahkan pada saat gencatan
senjata 3 jam yang dijanjikan Israel setiap hari untuk alasan kemanusiaan.


Israel masih menolak akses bagi wartawan internasional dan pengawas
kemanusiaan, jadi sulit untuk mendapatkan bukti yang paling sah mengenai
laporan ini. B'tselem mengatakan mereka juga sulit untuk mendapatkan
verifikasi, tetapi masih ingin menyebarkan informasi ini ke publik.



Munir Shafik al-Najar, dari desa Khouza di jalur Gaza menjelaskan kepada
B'tselem dan Palang Merah (ICRC) tentang kejadian yang menimpa keluarganya
pada hari Senin kemarin. Dia mengatakan 75 anggota keluarga besar dipaksakan
berkumpul di satu rumah, dan dikepung oleh pasukan Israel setelah mereka
mengebom rumah-rumah di sekitarnya. Pada Senin pagi, ada pengumuman lewat
pengeras suara, "Ini Tentara Israel. Kita minta semua orang keluar dari
rumah dan jalan ke gedung sekolah. Wanita dulu, disusul oleh pria."



Kata Pak Munir, mereka kirim dua wanita keluar dulu, yang pertama adalah
sepupu isterinya bernama Rawhiya al-Najar, 48 tahun. Posisi tentara adalah
sekitar 15m dari rumah, dan saat Rawhiya keluar, mereka menembak kepalanya.
Anak perempuannya, yang berada di disebelahnya, ditembak di paha dan
berhasil merangkak kembali ke dalam rumah.



Selama beberapa jam, keluarga Pak Munir telfon Bulan Sabit Merah, LSM
kemanusiaan, dan juga petugas di Pemerintah Palestina untuk minta tolong
mengatur bantuan bagi mereka supaya bisa tinggalkan rumah. Setelah beberapa
jam, belum ada bantuan. Mereka memutuskan untuk coba lari cepat saja dan
kabur dari rumah walaupun yakin akan langsung dibunuh.



"Saat kita lari keluar dari rumah, mereka menembaki kita dengan senapan
mesin besar yang berada di atas tank." Semua orang dewasa membawa bendera
putih dan Pak Munir masih memegang bendera tersebut sampai dia telfon BBC
pada hari Selasa kemarin.



Tiga saudaranya, Muhammad Salman al-Najar, 54, Ahmad Jum'a al-Najar, 27, dan
Khalil Hamdan al-Najar, 80, dibunuh langsung. "Pasukan itu pasti tahu dia
adalah orang yang tua karena mereka begitu dekat padanya".



Sebuah anggota keluarga yang lain, Riad Zaki al-Najar, memberikan keterangan
yang sama pada BBC lewat telfon. "Mereka menyuruh kita berkumpul di sekolah.
Kita suruh wanita keluar dulu, sesuai perintah. Anak-anak ditaruh di bahu
kita dengan bendera putih di kepalanya. Saat kita keluar, dengan wanita di
depan, wanita melihat tentara dan mulai teriak 'Ada anak, ada anak'. Tetapi
tentara langsung mulai menembaki kita. Tante saya dibunuh dengan peluru di
kepala."



BBC juga bicara dengan Marwan Abu Rida, seorang paramedik dari Bulan Sabit
Merah, yang mengatakan di datang ke lokasi pada jam 8:10 pagi. Tetapi dia
juga ditembaki dan terpaksa berlindung di dalam sebuah rumah yang dekat
sampai jam 20:00 karena ada penembakan terus dari pasukan Israel. Setelah
dia berhasil mencapai lokasi, dia temukan wanita yang ditembak di kepala,
dan anak perempuannya yang terluka.



Dalam jawaban tertulis, tentara Israel mengatakan bahwa penyelidikan mereka
menunjukkan bahwa klaim tersebut tidak bisa dipercayai. Ditambahkan bahwa
mereka selalu menghindari orang sipil dan ini semua kesalahan Hamas yang
memilih untuk meluncurkan roket dari dalam wilayah penduduk sipil di Gaza.



Laporan satu lagi juga diterima B'tselem dari Yusef Abu Hajaj, warga daerah
Juhar al-Dik, di bagian selatan kota Gaza. Dia mengatakan pada B'tselem
bahwa ibu dan adik perempuannya ditembak saat mereka berusaha lari dari
rumah dengan membawa bendera putih. Mereka berada dalam sebuah kelompok yang
juga membawa anak-anak kecil. Katanya, tank Israel menembaki rumah mereka
dan setelah itu mereka diperintahkan untuk keluar, jadi mereka berusaha
melarikan diri.



ICRC menegaskan terus bahwa mereka sulit mencapai semua lokasi di mana ada
keluarga yang terkepung, yang seringkali juga ada mayat dan orang terluka di
lokasi tersebut. Mereka tidak bisa tanggapi puluhan panggilan karena tidak
bisa dapat akses dari pasukan Israel.



Seorang kepala keluarga, Daoud Shtewi, mengatakan pada BBC bahwa dia dan 35
anggota keluarganya telah dikepung oleh pasukan Israel di rumah mereka di
bagian selatan kota Gaza selama 10 hari. "Kita bahkan tidak bisa melihat
keluar dari jendela karena akan ditembak. Kita hampir kehabisan air dan
makanan, dan sudah bertahan tanpa listrik selama 12 hari sekarang."



"Ibu dan bapak saya perlu obat untuk tekanan darah tinggi dan diabet, tetapi
obat kita telah habis." Bulan Sabit Merah masih berusaha mendekati wilayah
tersebut.

* *

Di daerah yang sama, ICRC mengatakan mereka menemukan 4 anak kecil yang
menunggu di sebelah ibu-ibu mereka yang sudah mati, tanpa minuman atau
makanan, selama empat hari pada minggu kemarin. Pak Shtewi mengatakan ada 17
anak di dalam sebuah rumah di wilayah yang sama. Umur mereka di antara 6
minggu sampai 15 tahun, dan juga ada 6 wanita. Mereka sudah berusaha untuk
keluar dari rumah, tetapi mereka dietmbaki kalau buka pintu dan keluar.
Keluarga itu sudah berkali-kali berusaha hubungi Bulan Sabit Merah.



Seorang sopir ambulance mengatakan mereka sudah punya data tentang 35 orang
di lokasi tersebut, tetapi karena wilayah itu ditutup oleh militer, mereka
tidak bisa masuk untuk menjemput keluarga itu.



Juru bicara tentara Israel mengatakan Hamas meluncurkan roket dari wilayah
itu juga dan menggunakan rumah milik penduduk sipil sebagai tempat
meluncurkan roket. Orang yang sedang kabur dari rumah bisa saja membiarkan
anggota Hamas bersembunyi di tengah kelompoknya untuk kemudian menembak
pasukan Israel. Jadi, dari pandangan prajurit Israel, sebuah kelompok yang
melarikan diri itu bisa dianggap musuh. Juru bicara tentara Israel juga
mengatakan bahwa Hamas sering menggunakan waktu gencatan senjata selama 3
jam itu untuk meluncurkan roket, jadi pasukan Israel terpaksa membalas pada
waktu yang sama. Tetapi dia juga menambahkan bahwa tentara Israel selalu
berkerja sama dengan organisasi internasional supaya ambulance bisa masuk ke
wilayah pertempuran.



Penelitian dan laporan dari Hamada Abu Qammar di Gaza dan Heather Sharp,
Fouad Abu Ghosh dan Raya el-Din di Jerusalem



*Israelis 'shot at fleeing Gazans' *

Story from BBC NEWS:

http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/2/hi/middle_east/7828536.stm

 
 
 
Klinik Untuk Ibu dan Bayi di Gaza Hancur dalam Serangan
<http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/2/hi/middle_east/7825215.stm>



LSM bernama Christian Aid mengatakan bahwa sebuah klink untuk ibu dan bayi
di Gaza, yang didanai oleh Christian Aid dan EU (Uni Eropa), telah hancur
setelah dibom oleh angkatan udara Israel. Klinik dibom dengan rudal setelah
ada telfon masuk yang memberikan peringatan 15 menit untuk kabur dari
gedung.



Peralatan medis senilai ratusan ribu dolar AS telah dihancurkan dalam
serangan yang terjadi pada hari Minggu kemarin (11/01/09). Tentara Israel
mengatakan pada Christian Aid bahwa ada teroris di dekat lokasi tersebut.
Tidak ada yang terluka dalam serangan tersebut karena gedung sudah
dikosongkan sebelumnya. Petugas medis di Gaza mengatakan lebih dari 1000
orang Plestina telah dibunuh sekarang dan PBB mengatakan 40% dari mereka
adalah wanita dan anak. Israel mengatakan 13 orang Israel telah wafat, dan
hanya 3 dari mereka adalah warga sipil. (Dan ternyata, hanya 4 dari 13
tersebut mati karena kena roket Qassam yang diluncurkan dari Gaza ke Israel.
Sisanya adalah prajurit yang mati di dalam Gaza. Berarti 4 nyawa dibalas
dengan 1000 nyawa!)



Gedung yang mengandung klinik telah ditandai dengan lambang palang merah,
dan juga ada beberapa ambulance di depannya. Tetap saja seluruh gudung
hancur setelah kena rudal, walaupun klinik hanya mengisi sebagian dari
gedung tersebut. Klinik hancur total dalam serangan, dan semua peralatan
mahal telah rusak, termasuk ultrasound, perlengkapan laboratorium, komputer,
dan lain-lain.



Constantine Dabbagh, executive director untuk NECC in Gaza, mengatakan salah
satu klink mereka yang lain juga ditutup selama 2 minggu karena pemilik
gedung sebelah mendapatkan peringatan berkali-kali bahwa gedungnya akan
segera dibom.



*Gaza clinic destroyed in strike 
<http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/2/hi/middle_east/7825215.stm>
*

Story from BBC NEWS:

 
 
Berita nasional memaparkan sebagai berikut....Masih berpikir lagi bahwa Zionis 
punya pembenaran untuk terus melanggar HAM???
 
http://international.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/01/14/18/182464/gaza-jadi-laboratorium-uji-coba-senjata-biologi-israel
 
Gaza Jadi Laboratorium Uji Coba Senjata Biologi Israel
OSLO - Israel menjadikan Gaza sebagai laboratorium untuk menjajal 
senjata-senjata pemusnah masalnya. Kelompok kemanusiaan sudah membuktikan bahwa 
Israel menggunakan senjata biologi.

Setelah bekerja selama sepuluh hari di rumah sakit Shifa, anggota tim medis 
dari Norwegia Mads Gilbert mengatakan, Israel telah menggunakan senjata 
terlarang untuk menyerang Gaza. Ini dapat terlihat dari luka para korban.

"Sangat jelas, saya kira kini Gaza menjadi laboratorium uji coba 
senjata-senjata baru Israel," kata Gilbert saat tiba di bandara internasional 
Oslo Senin lalu dan dikutip Press TV.

Gilbert menambahkan, dari macam-macam luka yang diderita para korban, dia dan 
rekannya Erik Fosse menyimpulkan Israel menggunakan senjata Dense Inert Metal 
Explosives (DIME).

Menurut Gilbert DIME merupakan jenis senjata yang memiliki efek biologi yang 
kuat. Jika seseorang, termasuk tim medis, terkena efek senjata itu, bisa 
menyebabkan jaringan otot lumpuh. Selain itu DIME juga dapat menghancurkan 
tulang secara perlahan.

Setelah itu, korban dapat menderita kanker yang disebabkan dari pecahan peluru 
yang masuk dalam jaringan otot. Kanker dapat diderita dalam empat sampai enam 
bulan kemudian.

"Ini merupakan generasi terbaru dari senjata mematikan namun berdaya ledak 
kecil. Bom meledak dan dapat mengenai orang dalam jarak lima hingga 10 meter," 
kata Gilbert.

"Kami bisa melihat beberapa orang yang terpaksa diamputasi karena terkena bom 
itu. Jika ada korban yang terkena pecahan, sudah hampir dipastikan bahwa dia 
terkena senjata DIME itu," terang Gilbert.

Sementara Fosse mengatakan, dirinya tidak pernah melihat korban akibat senjata 
jenis ini dalam 30 tahun terakhir di wilayah perang. "Jika anda terkena DIME, 
maka tubuh anda akan hancur secara perlahan," pungkasnya.

(ton) 
 
 
 
http://www.antara.co.id/arc/2009/1/15/israel-gunakan-warga-gaza-sebagai-tameng-manusia/
 
Israel Gunakan Warga Gaza Sebagai Tameng Manusia

Kairo, (ANTARA News) - Pasukan Israel menggunakan penduduk sipil tak bersenjata 
di Jalur Gaza sebagai perisai untuk berlindung dari serangan-serangan pejuang 
Palestina.

"Ini adalah hal yang biasa dilakukan oleh tentara Israel untuk memasuki rumah, 
mengunci keluarga di dalam kamar di lantai bawah tanah dan menggunakan rumah 
peristirahatan sebagai pangkalan militer, seperti untuk posisi para penembak 
jitunya," kata suratkabar The Guardian kemarin, mengutip pernyataan Donatella 
Rovera, seorang penyelidik Amnesti Internasional di Israel.

"Ini adalah kasus mutlak penggunaan perisai manusia," tegasnya kepada harian 
itu sebagaimana dikutip IINA.

Pada pekan lalu, Amnesti menuduh negara Yahudi itu menggunakan masyarakat sipil 
sebagai tameng manusia.

Rovera mengatakan bukan pertama kalinya Israel menggunakan warga sipil 
Palestina sebagai perisai manusia dalam serangan-serangannya. Pasukan Israel 
sudah melakukannya selama bertahun-tahun dan mereka mengulangi lagi di Gaza 
sekarang.

Dalam beberapa kasus yang didokumentasikan dengan baik, pasukan Israel memaksa 
penduduk sipil Palestina, dengan todongan senjata. Mereka juga menggunakan 
warga Palestina yang diancam untuk mencari pejuang-pejuang Palestina dengan 
mendekati rumah mereka dan kemudian meminta mereka untuk menyerah.

Pada tahun 2005, Mahkamah Agung Israel melarang praktek demikian militernya, 
yang menggunakan rakyat sipil Palestina sebagai perisai manusia dalam melakukan 
serangan-serangannya.

Penggunaan perisai manusia dalam konflik dilarang berdasarkan Konvensi Jenewa.

Rovera juga menuduh pasukan negara Yahudi itu melakukan kejahatan-kejahatan 
perang dengan menggunakan senjata-senjata yang menyebabkan kematian yang 
tinggi, di antara 1,6 juta penduduk Gaza.

"Terjadi serangan tanpa henti dan tidak proporsional lagi, dan dalam beberapa 
kasus mereka melakukan serangan membabibuta," katanya.

Mereka juga menggunakan senjata yang tak boleh digunakan di daerah-daerah yang 
padat penduduk, karena hal itu akan mengakibatkan kematian penduduk sipil, kata 
penyelidik dari Amnesti Internasional itu.

Dijelaskan, tentara Israel juga menggunakan rudal-rudal canggih yang bisa 
memandu terhadap mobil yang sedang bergerakpun, dan mereka memilih menggunakan 
senjata-senjata lain, atau memutuskan untuk menjatuhkan bom di satu rumah yang 
diketahui di dalamnya terdapat anak-anak dan wanita.

"Ini sangat, sangat jelas melanggar hukum internasional," tegasnya.

Pengamat HAM Human Right Watch (HRW) menuduh Israel menggunakan fosfor putih, 
senjata kimia yang bisa membakar habis tubuh manusia sampai ke 
tulang-tulangnya, ditembakkan ke Gaza.

Pada Konvensi Ketiga mengenai Konvensi Larangan-larangan Senjata 
1980,penggunaan fosfor putih sebagai senjata, bahkan pada target-target militer 
yang di dekatnya terdapat pusat penduduk dilarang.

John Ging, direktur operasi UNRWA di Gaza Selasa menyerukan perlunya dilakukan 
investigasi penuh atas laporan-laporan mengenai penggunaan senjata-senjata 
ilegal itu oleh Israel, dalam perang yang telah berlangsung 18 hari itu.

Dia juga mengimbau masyarakat internasional untuk memberikan perlindungan 
terhadap masyarakat sipil di Gaza, seperti yang dituntut oleh Konvensi Jenewa 
1949.(*)


COPYRIGHT © 2009 ANTARA
 
 
 
 
 
http://www.antara.co.id/arc/2009/1/15/pembantaian-gaza-mirip-tragedi-sabra-dan-shatila/
 

Pembantaian Gaza Mirip Tragedi Sabra dan Shatila
Oslo, (ANTARA News) - Tim medis Norwegia, yang baru saja kembali dari tugas 10 
hari di rumah sakit Shifa di Gaza mengatakan serangan Israel di Gaza dapat 
disetarakan dengan pembantaian kamp pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila di 
Beirut oleh milisi Lebanon yang didukung pasukan Israel pada 1982.

"Gaza di tahun 2009 menjadi arena pembantaian baru dalam sejarah Palestina dan 
Timur Tengah, yang tak bisa dipungkiri, dapat disetarakan dengan pembantaian 
Sabra dan Shatila," kata Mads Gilbert kepada wartawan di bandara Gardermoen, 
Oslo, Selasa, seperti disebarluaskan IINA.

Gilbert (61) dan koleganya Erik Fosse (58) sebelumnya bekerja di Lebanon pada 
saat tragedi Sabra dan Shatila terjadi tahun 1982.

"Kami berharap bahwa kami tidak akan pernah melihat tragedi semacam itu lagi. 
Tapi, ternyata kami kembali alami pembantaian serupa di Gaza," kata Gilbert. 

"Setiap satu dari tiga korban tewas dan setiap satu dari dua cedera adalah anak 
di bawah usia 18 tahun atau seorang wanita," katanya.

"Gaza sedang berada dalam krisis kemanusiaan yang dahsyat. Oleh karena itu, 
operasi militer Israel harus dihentikan dan pintu-pintu perbatasan (dengan 
Israel dan Mesir) harus dibuka, agar warga sipil dapat memperoleh bahan 
makanan, air, dan menyelamatkan diri," katanya.(*)


COPYRIGHT © 2009 ANTARA
 
 
http://www.medanbisnisonline.com/rubrik.php?p=132794&more=1#more132794
Gaza Mirip Kamp Konsentrasi
Anak-anak Selalu Dibayangi Maut
International - Jumat, 09-01-2009 
MedanBisnis – Roma
Pejabat yang ditunjuk Paus Benedictus untuk masalah keadilan dan perdamaian, 
Rabu, mengeluarkan kecaman paling keras Vatikan terhadap Israel sejak krisis 
Timur Tengah terakhir dimulai, dengan mengatakan Jalur Gaza seperti kamp 
konsentrasi besar.

Kardinal Renato Martino, pemimpin Dewan Vatikan untuk Keadilan dan Perdamaian, 
mengeluarkan komentarnya dalam wawancara yang dimuat di surat kabar online 
Italia Il Sussidiario.net yang kemudian dikutip Reuters.

 
“Penduduk yang tak berdaya selalu (menjadi pihak) yang membayar. Lihatlah 
keadaan di Jalur Gaza, kian lama, itu (Gaza) menyerupai sebuah kamp konsentrasi 
yang besar,” kata Martino, yang jabatan resminya adalah “Menteri Kehakiman” 
Vatikan, seperti dikutip.Paus Benedictus telah membuat beberapa permintaan 
terbuka bagi diakhirinya kekerasan di Jalur Gaza, tapi ia tidak pernah secara 
langsung mengeritik Israel.

Paus akan mengunjungi tempat-tempat suci di di Jordania, Israel dan Tepi Barat 
Sungai Jordan, yang diduduki-Israel Mei.

 
Semmentara itu dari Gaza dilaporkan, pemboman tak kunjung berhenti, berbagai 
rumah sakit penuh, anak-anak terkejut dengan bunyi ledakan bom, dan suhu di 
Gaza begitu dingin setiap malam, apalagi sebagian besar rumah di kawasan itu 
sudah tak berjendela lagi.

Mereka mencemaskan mimpi buruk yang mereka alami saat ini akan semakin 
bertambah buruk. Menyusul gempuran secara besar-besaran selama berhari-hari 
dari udara, berondongan artileri kini menghantam Jalur Gaza, dengan para 
pejuang Hamas membalas serangan dengan granat roket pada tank-tank Israel.

 
Trauma

Anak-anak mengalami trauma, sehubungan mereka harus hidup dalam bayang-bayang 
ketakutan kalau-kalau rumah mereka akan diguncang ledakan berikutnya.

Banyak anak kini tak mau makan. Mereka bersikap pasif, enggan berbicara. Mereka 
hanya menggelendot pada orang tua mereka sepanjang waktu,” kata Sajy 
El-Maghinni, yang bekerja untuk Dana Anak-Anak PBB (Unicef) di Gaza.

 
Banyak anak-anak kini takut dengan kegelapan, yang merupakan masalah utama di 
sana akibat tak adanya pasokan listrik, AFP melaporkan mengutip El-Maghinni, 
yang rumahnya tanpa listrik selama lima hari.

Tak ada apa-apa untuk menghangatkan rumahnya, dengan semua kaca jendelanya 
hancur akibat ledakan, namun seperti yang lainnya di wilayah kantong Palestina 
terkepung itu ia telah menjadi biasa dengan cuaca dingin. “Kami hanya memakai 
pakaian berlapis-lapis. Yang menjadi sumber keprihatinannya adalah bagaimana ia 
dapat membawa istrinya yang hamil sembilan bulan ke rumah sakit.

 
Pada awal serangan, ia memperoleh pengalaman yang traumatis ketika rumah di 
sebelahnya terkena bom. Semua orang mengosongkan rumah mereka. Saya harus 
tinggal di rumah, saya tak tahu harus berbuat apa. Saya berdoa kepada Tuhan 
agar istri saya tidak melahirkan dalam kondisi seperti ini.

Sulit untuk mendapatkan ambulans. Semua ambulance sibuk mengangkut orang yang 
terluka. Kami tak dapat berjalan ke klinik pada waktu malam, karena pesawat 
udara nirawak (drone) mengintai apapun yang bergerak. Sejumlah rudal yang 
dilepaskan ke Gaza diluncurkan dari pesawat tak berawak tersebut, yang dapat 
didengar suaranya saat terbang di angkasa.

 
Setiap orang pada umumnya mengalami kisah tragis untuk diceritakan di kawasan 
pesisir pantai itu, yang sudah dalam kondisi lumpuh akibat blokade Israel 
selama 18 bulan.
“Kehidupan kami penuh dengan ketakutan,” kata Abdelrahim Malaka, seorang 
penduduk Gaza City yang terkepung. “Kami mengimbau kepada dunia agar memiliki 
belas kasihan kepada kami dan menyelamatkan kami dari perang Israel.” 
(afp/annews)


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

"We cannot all do great things.But we can do small things 
with great love." - Mother Teresa
---------------------------------------------------------

BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar

Stop or Unsubscribe: send blank email to [email protected]
Questions or Suggestions, send e-mail to [email protected]

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke