Jangankan masyarakat umum, lha mahasiswa saja banyak yang tidak suka baca buku. Coba dibikin survey di sini, berapa banyak buku yang kita baca dalam setahun. Lebih jauh lagi, berapa banyak buku yang kita baca, yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan kita.
KOkon. 2009/2/24 Nugroho Laison <[email protected]> > Katakan dengan Buku > > Oleh Wildan Nugraha > > PERNAH dalam salah satu acara peluncuran buku di Bandung, saya > mendengar seorang berkenegaraan Prancis dengan bahasa Indonesianya > yang lancar, bercerita sedikit soal kedekatan masyarakat mereka dengan > buku. Katanya, menjelang libur Natal dan Tahun Baru di Prancis, banyak > buku sastra, seni, dan budaya diterbitkan ulang secara khusus. > Orang-orang banyak membelinya untuk dihadiahkan kepada kerabat dan > kolega. > > Saya kira, kebiasaan seperti itu sangat menarik buat siapa pun yang > merasa akrab dengan buku, tidak terkecuali di negara ini. Namun, > kebiasaan saling menghadiahkan buku mungkin bisa dibilang jarang buat > orang Indonesia. Barangkali, hal ini berkaitan dengan berbagai angka > statistik yang menunjukkan bahwa minat baca di Indonesia sangat > rendah. Kebanyakan orang akan merasa biasa-biasa saja bila bukan > merasa aneh, kalau tiba-tiba ada yang memberinya hadiah berupa buku. > Sebab, "katakan dengan buku" bukan ungkapan yang umum dalam budaya > kita. Jauh kalah dengan, misalnya, "katakan dengan bunga". > > Kalau tidak salah, awal tahun 1990-an di televisi pernah ada iklan > layanan masyarakat tentang budaya cinta buku. Pada tayangan pendek > itu, seorang remaja putri sedang kegirangan sehabis menerima hadiah > buku dari kawannya. Pengemasannya sederhana, agak kaku, tidak menarik, > dan seingat saya, penayangannya tidak lama, segera menghilang dan > tidak ada kelanjutannya. Sangat disayangkan sebenarnya. Saya > membayangkan andai sekarang ada iklan kampanye cinta buku seperti itu > lagi di televisi. > > Sementara ini, membandingkan budaya literasi Prancis dengan Indonesia > memang (masih) terlalu timpang. Bila mau jujur, membicarakan buku, > terlebih karya sastra dan sastrawannya, buku-buku falsafah dan > pemikiran, terasa eksklusif buat konteks Indonesia. Kalau bukan karena > merasa asing dengan apa yang dibicarakan, kebanyakan masyarakat juga > acap terpatok bahwa buku bukanlah kebutuhan penting yang harus > dikonsumsi, dibeli, dimiliki. Kondisi ini diperburuk oleh kenyataan > bahwa harga buku relatif mahal, dan dengan adanya krisis ekonomi yang > bergelombang-gelombang, daya beli masyarakat kita tidak kunjung membaik. > > Lantas, mengakses ruang publik bernama perpustakaan umum sepertinya > belum dijadikan pilihan oleh banyak masyarakat dalam mengisi waktu > luangnya, atau untuk menggali informasi. Di lain pihak, masih terbatas > gebrakan mengejutkan dari para pustakawan atau pegiat literasi buat > menggenjot minat baca masyarakat secara umum, hingga ke daerah-daerah > pelosok. > > Tentu, pemerintah---dengan daya besarnya---harus (terus) memperhatikan > masalah literasi masyarakatnya. Hal ini memang tampak sebagai kerja > panjang, sebab bukan perkara sederhana. Konstruksi sosial masyarakat > Indonesia yang terlihat lebih akrab dengan budaya lisan, tentu mesti > menjadi catatan tersendiri. Namun, harus disadari pula bahwa budaya > tulis umumnya berperan penting dalam banyak perjalanan bangsa-bangsa > di dunia, tidak terkecuali Indonesia. Kita tahu bahwa tokoh-tokoh > cendekia pendiri dan pendahulu bangsa ini, adalah orang-orang yang > menghargai budaya tulis. Soekarno dan Hatta, misalnya, kita tidak > lupa, sangat akrab dengan buku. > > Mereka, para arsitek pelbagai kemajuan, tidak mengalienasikan buku > dari kehidupan sehari-hari. Mereka sadar bahwa menjadikan buku sebagai > kawan akrab adalah laku yang baik, bermaslahat, memendam berkah jangka > panjang. Mereka, misalnya, saling menghadiahkan buku sebagai lambang > keakraban dan kasih sayang. Mereka yakin bahwa gagasan-gagasan di > dalam buku, seperti kata penyair Sapardi Djoko Damono dalam > tulisannya, bisa diam-diam masuk ke kamar orang-orang yang menyediakan > waktu khusus buat menghayatinya, lebih panjang dari pertemuan yang > mungkin hanya sebentar. Lebih dari itu, sebuah buku bisa bertahan > berpuluh-puluh tahun dan diam-diam menyusup ke pembaca. > > "Katakan dengan buku", mungkin adalah ungkapan yang sebenarnya akrab > bahkan mesra. Ia bisa membekas lama hingga berpuluh-puluh tahun. > Bahkan mungkin selamanya.*** > > Wildan Nugraha, bergiat di FLP Bandung > [Non-text portions of this message have been removed]
