Hallo,

Cuma mau nambahin info, dulu ada yg pernah nanya tentang penyakit ini
di milist ini.


Sumber: detik.com Jakarta, Jumlah penderita thalesemia (kelainan
darah) kian bertambah. Setidaknya ada 3.000 bayi lahir di Indonesia
tiap tahunnya menjadi penderita thalesemia.

Sudah saatnya pemerintah melakukan tindakan pencegahan untuk menekan
angka penderita thalessemia. Salah satunya dengan mewajibkan skrining
thalassemia bagi pasangan yang akan menikah.

Thallassemia merupakan penyakit darah bawaan yang sebenarnya dapat
dicegah dengan menghindari memilih pasangan hidup yang membawa gen
thalassemia tersebut.

Dengan melakukan skrining pasangan pembawa gen tersebut bisa mengukur
tanggung jawab apa yang harus dilakukan jika hal tersebut terjadi pada
keturunannya. Jika masing-masing pasangan memiliki bawaan gen juga
bisa memutuskan apakah akan memiliki anak atau tidak. Penyakit yang
juga dikenal sebagai penyakit kelainan darah ini memang penyakit yang
dapat merenggut hidup seseorang, bahkan ketika masih dalam kandungan
sekalipun.

Karena penyakit ini menurun, maka kemungkinan penderitanya akan terus
bertambah dari tahun ke tahunnya. Oleh karena itu, pemeriksaan
kesehatan sebelum menikah sangat penting dilakukan untuk mencegah
bertambahnya penderita thalassemia ini.

Thalassemia merupakan penyakit kelainan darah turunan yang paling
banyak terjadi, disebabkan oleh gen yang tidak normal pada darah.
Kebanyakan dialami oleh orang-orang Italia, Yunani, Timur Tengah, Asia
Tenggara dan Afrika.

Semuanya berawal dari hemoglobin yang merupakan pembawa atau
pengangkut sel darah merah ke seluruh tubuh. Normalnya, hemoglobin
terdiri dari 4 rantai asam amino (2 rantai amino alfa dan 2 rantai
amino beta) yang bekerja bersama-sama untuk mengikat dan mengangkut
oksigen ke seluruh tubuh.

Seorang penderita thalassemia tidak dapat memproduksi salah satu atau
bahkan kedua jenis asam amino tersebut. Sehingga rantai asam amino
pembentuk protein pun gagal dibentuk dan darah menjadi tidak sempurna
dan usia sel darahnya menjadi lebih pendek sehingga menyebabkan
anemia.

Berdasarkan gejala klinis dan tingkat keparahannya, thalassemia dibagi
menjadi thalassemia mayor dan minor. Thalassemia mayor adalah suatu
penyakit darah serius yang bermula sejak awal anak-anak. Thalassemia
minor atau disebut juga thalassemia trait atau bawaan adalah
orang-orang yang sehat, namun berpotensi menjadi carrier atau pembawa
thalassemia.

Penderita thalassemia mayor tidak dapat membentuk hemoglobin yang
cukup di dalam darah mereka, sehingga hampir tidak ada oksigen yang
dapat disalurkan ke seluruh tubuh. Lama-kelamaan akan menyebabkan
asfiksia jaringan (kekurangan O2), edema, gagal jantung kongestif,
maupun kematian.

Oleh karena itu, penderita thalassemia mayor memerlukan transfusi
darah yang sering dan perawatan medis demi kelangsungan hidupnya.

"Jika salah satu dari orang tuanya (ibu/bapak) mempunyai gen
thalassemia, maka si anak akan mendapatkan gen itu juga dan menjadi
penderita thalassemia minor, sedangkan jika kedua orang tuanya (ibu
dan bapak) memiliki gen tersebut, maka sudah dapat dipastikan si anak
akan menderita thalassemia mayor yang memiliki risiko kematian lebih
besar bahkan dapat meninggal sewaktu dalam kandungan, tergantung
tingkat keparahannya," ujar Dr. Eva J. Soelaeman SpA(K) dari RSAB
Harapan Kita yang diwawancarai detikhealth.

Dr Eva menjelaskan, penyakit thalassemia termasuk penyakit yang
tergolong tinggi angka kejadiannya di Indonesia. "Diperkirakan
terdapat jutaan carrier (pembawa sifat genetik thalassemia, namun
tidak sakit) yang tidak terdeteksi di tanah air. Potensi mereka besar
dalam menurunkan penyakit ini," ujarnya.

Oleh karena itu, Dr. Eva pun menyarankan kepada setiap pasangan yang
akan menikah untuk melakukan pemeriksaan dan konseling genetik sebelum
menikah untuk mengetahui anaknya kemungkinan terlahir thalassemia atau
tidak.

Prevalensi carrier thalassemia di Indonesia mencapai sekitar 3-8%.
Jika diasumsikan terdapat 5% saja carrier dan angka kelahiran 23 per
mil dari total populasi 240 juta jiwa. Maka diperkirakan terdapat 3000
bayi penderita thalassemia setiap tahunnya.

Semua thalassemia memiliki gejala yang mirip, tetapi tingkat
keparahannya bervariasi, tergantung jenis rantai asam amino yang
hilang dan jumlah kehilangannya (mayor atau minor).

Sebagian besar penderita umumnya mengalami anemia (pucat, sukar tidur,
lemas, tidak nafsu makan dan infeksi berulang). Selain itu jantung
berdebar-debar yang merupakan suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan
hemoglobin adalah ciri lainnya. Pembawa sifat thalassemia tidak
memiliki ciri khusus, mungkin hanya sekedar anemia ringan.

Pada thalassemia mayor, penderita dapat mengalami pembesaran limpa dan
hati akibat anemia yang lama dan berat, perut membuncit karena
pembesaran kedua organ tersebut, sakit kuning (jaundice), luka terbuka
di kulit (ulkus/borok), batu empedu, pucat, lesu, sesak napas karena
jantung bekerja terlalu berat, yang akan mengakibatkan gagal jantung
dan pembengkakan tungkai bawah.

Penderita thalasemia mayor mulai terlihat sejak usia dini, mulai dari
6 bulan, umumnya memerlukan transfusi rutin 1-2 bulan sekali.

"Penderita thalassemia mayor juga memilki wajah yang merupakan ciri
khas thalassemia mayor, yang disebut facies cooley. Ciri-cirinya
adalah batang hidung masuk ke dalam dan tulang pipi menonjol," ujar
Dr. Eva.

Hal ini diakibatkan karena pada keadaan thalassemia, sumsum tulang
bekerja keras mengatasi kekurangan hemoglobin.

Thalassemia lebih sulit didiagnosis dibandingkan penyakit hemoglobin
lainnya. Gejala utama thalassemia adalah anemia. Oleh karena itu,
pemeriksaan darah komplit dan rendahnya MCV (mean corpuscular volume)
dapat membantu diagnosa thalassemia.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan
pasien dengan thalassemia. Terapi yang dapat digunakan saat ini ialah
dengan memberikan transfusi darah dan tambahan asam folat, serta
mempertahankan Hb-nya di atas 10g/dl, agar aktivitasnya normal dan
dapat melaksanakan kegiatan sehari-hari.

Namun biaya yang dibutuhkan untuk perawatan optimal satu pasien
thalassemia mayor masih lumayan mahal, mencapai Rp 300 jutaan per
tahun. Oleh sebab itu, bila ada riwayat keluarga yang menderita
thalassemia, sebaiknya seluruh keluarga diperiksa dengan skrining
thalassemia yang meliputi CBC (complete blood count), analisis Hb dan
pemeriksaan sediaan apus darah tepi.

Meskipun tidak ada riwayat thalassemia di dalam keluarga, Dr. Eva
menyarankan agar tetap melakukan skrining thalassemia bagi seluruh
pasangan pra nikah. Mengingat tingginya angka pembawa sifat
thalassemia di Indonesia, dan pembawa sifat ini sama sekali sehat atau
tidak ada keluhan.

Kirim email ke