Thanks and Regards,
Yanto ----- Forwarded Message ---- From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sunday, November 22, 2009 2:54:31 Subject: [pg-pool] FW: Stephen Tong alias Tong Tjong Eng : oleh Solomon Tong ----- Original Message ----- >From: Suyny Kwok >Sent: 11/17/09 06:33 pm >To: pobinu...@yahoogrou ps.com >Subject: [pobinus95] FW: Stephen Tong alias Tong Tjong Eng : oleh Solomon Tong > > > > >Stephen Tong alias Tong Tjong Eng > >Oleh SOLOMON TONG >Kakak Kandung Stephen Tong >Dirigen dan Pendiri Surabaya Symphony Orchestra > >Tong Tjong Eng (Stephen) dan aku merupakan pasangan serasi. Kami bermain >bersama, masuk sekolah duduk di kelas yang sama, tidur seranjang. Sejak usia >anak-anak, ia sudah suka meniru pendeta berkhotbah. > >Stephen adalah seorang pesolek. Saat berusia lima tahun, setiap harinya >berdiri di atas meja, berpakaian rapi, bergaya bagaikan seorang pendeta sedang >berkhotbah. Saudara-saudaranya diajak duduk di lantai untuk mendengarkan ia >khotbah. Saat itu kami baru pulang mendengarkan khotbah penginjilan dari >Pendeta Tjoa Sin Tek. > >Stephen suka bertingkah, bahkan berdasi sapu tangan sewaktu khotbah. Rambutnya >pun diberi pomade, disisir rapi mengkilat model pesawat terbang. Cita-citanya >menjadi seorang pendeta akhirnya terwujud. > >Stephen tergolong anak yang sangat nakal. Saat masih kecil di SD Ming Kwang >dia pernah bermain papan jungkat-jungkit. Anak yang duduk di ujung sebelah >sana diam diam lari pergi sehingga Stephen terpental. Papan ujung sebelah sini >langsung menghantam tulang kakinya, sehingga menderita luka menganga besar >yang sulit disembuhkan. Setelah sembuh, masih meninggalkan bekas yang dalam. > >Saat masih usia balita, pada suatu hari ia dan aku bermain duduk di atas meja >berkaki silang seperti kaki meja karambol. Di atas meja terletak sepanci bubur >mendidih. Dengan tidak sengaja, Stephen beranjak pergi sehingga papan mejanya >jomplang miring. Aku terjatuh dan tersiram bubur mendidih mulai dari pundak >mengalir turun ke telapak tangan. Aku menangis menjerit kesakitan, tetapi >tetap duduk di tanah. > >Ibu datang menolong dan langsung menyuruh Peter membawa aku ke dokter. Seluruh >tangan yang tersiram bubur mendidih itu dioles vaselin, terutama pada bagian >yang kulitnya terkelupas. Berselang beberapa bulan, baru berangsur sembuh. >Kini telapak tangan kiriku berbekas keriput yang tidak bisa pulih. >Bersyukurlah, bubur itu tidak menyiram aku dari kepala. Jikalau ya, maka >wajahku pasti rusak dan mengerikan. > >Stephen adalah seorang anak genius. Sejak kecil ia suka pakai sumpit dengan >menggunakan tangan kiri, menulis dengan tangan kiri (kidal) juga. Pengasuhnya >terpaksa harus mengikat tangan kirinya di belakang tubuh, supaya ia >menggunakan tangan kanan. Hal itu malah membuat Stephen serba bisa: semua hal >bisa dilakukan atau dikerjakan dengan tangan kanan dan juga tangan kiri. > >Bahkan, ia dapat melukis dengan kedua tangannya sekaligus. Ia gemar membaca. >Apa pun yang dibacanya, meski hanya sepintas saja, sudah terekam dan diingat >untuk seterusnya. Apa yang diajar guru di kelas, ia tidak membutuhkan >konsentrasi untuk mendengar. Langsung sudah mengerti semuannya, dapat >mengembangkan dan melengkapi, bahkan melebihi gurunya. > >Stephen tidak pernah membuat PR (pekerjaan rumah). Kalau ada ulangan baru >meminjam PR kawan sekelas, sekadar membaca, sudah langsung mengerti dan hasil >ulangannya bisa mendapat nilai 9. Ini akhirnya menimbulkan kecemburuan >kawan-kawan sekelas. Mereka sepakat tidak meminjamkan PR-nya kepada Stephen, >tetapi Stephen tetap lulus dengan ranking atas. > >Pada tahun 1957 Stephen sudah mengajar sebagai guru les di rumah murid. Gaji >pertamanya cukup untuk membeli dua buah sepeda pancal bermerek Phillips, >karena bertahun-tahun kami tidak pernah membayangkan bisa mempunyai sepeda. >Dulu, bila ada orang membeli nasi di warung nasi ibu yang kami kenal, selalu >kami pinjam sepedanya untuk belajar. Dan hasrat untuk membeli sepeda itu >akhirnya terkabul. > >Gaji bulan kedua, Stephen belikan dua buah jam tangan merek Olma. Satu dipakai >sendiri, yang satunya diberikan kepada aku. Kemudian gajinya bulan ketiga dan >seterusnya ia kumpulkan, sampai bisa membeli sebuah piano bekas dari dokter >piano, Yap Yauw Tjong, di Jl. Kramat Gantung Surabaya. > >Keinginan memiliki piano juga sudah terpendam bertahun-tahun. Sebelum belajar >piano pada 1953, Stephen sudah bermimpi ingin punya piano. Ia diajar main >piano oleh nyonta pendeta CFMU, Ibu The Nai Lian. Saat itu kami tidak memiliki >piano. Maka, Stephen harus membuat keyboarad piano dengan bahan papan kayu >untuk berlatih. Tangannya menabuh di atas papan kayu, bunyinya ting tang ting >tong dari mulut. > >Setelah membeli piano dari Yap Yauw Tjong tadi, ternyata pianonya sangat parah >kondisinya. Maka, setelah dibuat main hanya tiga hari sudah macet dan rusak. >Pianonya dikembalikan. Lalu, melalui informasi dari seorang teman bahwa di >Lawang ada seorang yang mau menjual pianonya, Stephen dan aku langsung naik >kereta api menuju Lawang di Jl. Pungku Argo. > >Kami melihat piano yang mau dijual itu. Ternyata pianonya baik sekali, >mereknya F. Dörner Stuttgart buatan Jerman. Lalu kami berpatungan uang, >Stephen, aku, dan Ibu, jumlahnya Rp 30.000. Kami berhasil membeli piano >tersebut. Dan itu adalah piano pertama yang kami miliki. Mimpi telah menjadi >kenyataan. Puji Tuhan, yang telah mendengar doa anak-anak-Nya. > >Pada 1957-1958 Stephen mengerjakan tiga pekerjaan sekaligus. Di samping >menjadi guru di SD Chung Kwok Nu Sue di Jl. Sidodadi, malamnya mengajar di >sekolah malam Gie Hien sebagai pengganti Peter yang pergi ke USA. Ia juga >mengajar les privat di rumah murid. Saat itu boleh dikatakan ia sudah >mempunyai penghasilan yang cukup besar, tetapi uang yang didapatnya itu dengan >rela diserahkan kepada ibu, Tan Tjien Nio, untuk biaya keluarga. > >Pada tahun 1957, Stephen mempersembahkan diri menjadi Hamba Tuhan melalui >Youth Comp MAAT di Malang. Sejak hari itu hingga saat ini (2009) sudah 52 >tahun ia melayani Tuhan. Tahun 1960 Stephen studi teologi di MAAT Malang, >lulus 1964, diutus ke Gereja THKTKH Jemaat Hok Tjiu Kwok Yu di Surabaya >sebagai penginjil. > >Sebelum lulus, Stephen sudah dikenal dengan penginjilannya bukan saja di >Surabaya, tetapi juga di Malang, Kediri, Semarang, Makassar, Manado, dan kota >kota yang lain. Semangat penginjilannya begitu berkobar-kobar, terkadang harus >naik truk dari Surabaya ke Kediri. Aku pernah mendampingi dia bersama naik >truk ke Kediri berpraktek di Gereja GKT Jl. Klenteng Kediri sambil berobat di >rumah sakit Baptis di Kediri juga. > >Stephen juga beberapa kali terhindar dari maut. > >Kejadian yang pertama di Jakarta. Stephen mengalami kecelakaan naik kendaraan >motor. Ia dibawa ke rumah sakit karena gegar otak. Tetapi pada saat itu ia >harus khotbah di Gereja Kristus Ketapang. Ia buru-buru memaksakan diri keluar >dari rumah sakit, menuju gereja, naik mimbar dengan kepalanya dibalut. > >Kejadian kedua: ia mengalami kecelakaan motor di Surabaya. Dengan motor Yamaha >bebek 50 cc, setelah khotbah, pulang dari gereja di Jl. Samudra sampai di >perempatan Jl. Bongkaran. Dengan tidak sadar, ia menghatam becak. Ada >kemungkinan tertidur saat mengendarai motornya oleh karena terlalu capai. > >Orang mengirim Stephen ke rumah. Saat itu hari Minggu. Aku mengajar paduan >suara di GKT Malang. Pulang ke rumah sudah di atas pukul 23.00. Aku melihat >Stephen berbaring di ranjang, tidak dapat bangun dari tempat tidur, sekujur >tubuhnya luka lecet. Melalui seorang pemuda gereja, namanya Ho Djie Wei, >dipanggil seorang dokter spesialis urat saraf tetangganya di Jl. Sidoyoso, Dr. >Lukas Tjeng. > >Tjoe Liang mau datang di rumah pukul 24.00, lalu dibuat surat pengantar opname >di Tionghwa Ie Wan (sekarang Rumah Sakit Adi Husada). Malam itu juga, sampai >sembuh dua minggu kemudian. > >Beberapa orang yang setiap harinya datang membesuk di rumah sakit, di samping >aku dan Karlina istriku, masih ada majelis gereja Ibu Tan Tek Ham, Ibu Ho Ai >Ik. Biaya pengobatan ditanggung bersama oleh gereja dan aku. Saat di rumah >sakit, ada seseorang anak perempuan dari Manado datang ke Surabaya ingin >bertemu dengan Stephen. > >Aku memberitahu kepadanya bahwa Stephen sedang opname di rumah sakit. Ia paksa >ingin menjenguk, namanya Rita. Ia sungguh membuat aku repot dengan macam-macam >tindakan yang aneh. Orang ini cinta sepihak pada Stephen. Aku dibuat pusing >tujuh keliling, sampai-sampai mengirim daging babi lewat tukang pos. > >Aku menolak menerima kirimannya, namun dengan segala cara ia tetap mengirim ke >rumahku. Bayangkan, daging babi yang sudah aku tolak tiga hari yang lalu, >mengeluarkan bau yang sangat menusuk hidung. Ia pagi sore datamg ke rumah >menunggu, akhirnya aku bilang aku mau melaporkan dia ke polisi, baru tidak >datang lagi. > >Setelah Stephen sembuh, aku berkata kepada Stephen: cepat-cepat nikah sajalah >supaya aku tidak terusik terus-menerus oleh gadis-gadis yang jatuh cinta >kepadanya. Memang banyak gadis yang menaruh perhatian, apalagi Stephen sering >tidak di rumah. Yang menghadapi gadis-gadis tersebut adalah aku dan Karlina. > >Stephen mau mempertimbangkan anjuranku tersebut. Dan melalui perencanaan, >pembahasan, akhirnya aku dan Karlina mewakili ibuku yang sedang berada di luar >negeri untuk melamar Alice, gadis pilihan Stephen. Putri bungsu dari Nyonya >Janda Lin Tek Seng, mantan Ketua Majelis GKT Jemaat Hok Tjiu Kwok Yu. > >Setelah melamar, Ny. Lin langsung menelepon Alice yang baru berangkat studi di >USA, menyuruh dia segera pulang. Mula-mula Alice tidak percaya. Sampai Stephen >telepon sendiri langsung untuk melamarnya, barulah ia percaya, dan langsung >pulang ke Surabaya. Akhirnya, Stephen mempersunting Alice pada 1971. Saat >acara pernikahan dilangsungkan, enam orang sudara Tong untuk pertama kalinya >bertemu. > >Setelah menikah, Stephen dan istrinya beserta mertuanya suatu saat tinggal >bersama serumah dengan aku dan ibu. Stephen kemudian pindah ke Jakarta setelah >mendirikan Lembaga Reform Injili bersama-sama dengan Caleb. Saat itu aku >diminta bergabung, tetapi aku menyatakan tidak bersedia dengan alasan untuk >menghidari tanggapan orang sebagai Lembaga Tong Brothers. Maka, diajaklah >Pendeta Yakub Susabda untuk menjadi salah seorang pendiri Lembaga tersebut. > >Stephen dikaruniai empat anak, yaitu Elizabeth, David, Unice, dan Rebecca. Di >antara keempatnya, pada 2009 ini Rebecca saja yang belum menikah, yang lainnya >sudah berkeluarga. Mereka menempuh pendidikan di Amerika. Semuanya melayani >pekerjaan Tuhan. > >Lembaga Reformed Injili berkembang dengan pesat. Selain telah membuka Sekolah >Tinggi Reformed Injili, juga dilengkapi beberapa Sekolah Teologi di beberapa >kota, membuka cabang-cabang gereja di kota-kota dalam maupun luar negeri. Di >samping itu telah membangun sebuah Gereja Reformed yang terlengkap dan >terbesar di Indonesia terletak di daerah Kemayoran Jakarta yang diresmikan >pada November 2008. > >Dan beban penginjilan maupun pengajaran doktrin reformed-nya tidak pernah >pudar. Kini Stephen setiap minggunya harus ke empat negara untuk menjalani >misi tersebut. Di samping Indonesia, ia masih harus mengunjungi Singapura, >Malaysia, Hongkong, dan Taiwan. > >Sumber: Memoar Solomon Tong, Penerbit Jaring Pena (Grup Jawa Pos), 2009, >halaman 46-55. > > >Back to top > > Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ [Non-text portions of this message have been removed]
