P {
MARGIN-TOP: 0px; MARGIN-BOTTOM: 0px
}
BODY {
SCROLLBAR-HIGHLIGHT-COLOR: #cecfce; SCROLLBAR-ARROW-COLOR: #3f52b8;
SCROLLBAR-TRACK-COLOR: #fffbff; SCROLLBAR-DARKSHADOW-COLOR: #fafafa;
SCROLLBAR-BASE-COLOR: #f7f7f7
}
--- In [email protected], "Renny" <masm...@...>
wrote:
GAJAH MADA,
"...jadilah rakyat..!"
Kebesaran Majapahit, berarti
kebesaran Gajah Mada, patih yang telah mengabdi pada tiga pimpinan
pemerintahan selama lebih dari tiga puluh tahun.
Pada tahun 1300/1301, di aliran
sungai Brantas yang mengalir dengan derasnya ke arah selatan dataran
Malang
dan kaki gunung Kawi-Arjuna, lahirlah Gajah Mada kecil dengan nama
Pipil.
Setelah dewasa Gajah Mada
memiliki beberapa nama lain seperti Empu Mada, Jaya Mada, Dwirada Mada dan
Lembu
Muksa (sebagai penjelmaan Dewa Wisnu).
Namun menurut kepercayaan orang
Bali, seperti tertulis di kitab Usana Jawa, Gajah Mada dilahirkan di pulau Bali
Agung tanpa ibu-bapak, terpancar dari dalam buah kelapa, sebagai penjelmaan
Sang
Hyang Narayana (Yamin G.M. Pahlawan persatuan Nusantara, h. 15)
Bahkan dalam Kakawin Gajah Mada
dan Babad Gajah Mada, Gajah Mada adalah Dhatrasutra (putera Dewa Brahma) dan
dengan sendirinya mempunyai sifat gaib, tubuhnya mengeluarkan cahaya seperti
sinar yang memancar dari intan.
Masih dalam Kakawin Gajah Mada,
salah seorang patih Majapahit saat itu sangat tertarik dengan kepribadian Gajah
Mada muda yang sangat cerdas dan tekun bekerja layaknya seorang
ksatria.
(Pipil) Gajah Mada akhirnya
diminta tinggal bersamanya. Bukan itu saja, karena ketertarikkannya, Patih
Majapahit itu bahkan kemudian mengawinkan Gajah Mada dengan puterinya yang
bernama Ni Gusti Ayu Bebed, yang digambarkan sangat setia kepada suami seperti
layaknya puteri Madhawi, puteri raja Yayati.
Banyak sekali dongeng atau
legenda mengenai pemuda Gajah Mada. Namun tak satupun ditemukan tulisan yang
sangat akurat tentang kelahiran dan masa kecilnya.
Sejarah mulai mencatat biodatanya
pada tahun 1328 pada masa pemerintahan Sri Jayanagara pada saat peristiwa
Badander.
Kalaupun ada tulisan mengenai
kelahiran dan masa kecilnya, itu dibuat atau ditulis jauh setelah Gajah Mada
tiada. Nilai sejarahnya menjadi kabur dan tidak dapat
dipertanggungjawabkan.
Gajah Mada benar seorang rakyat
kebanyakan, bukan dari keluarga bangsawan, dapat dilihat dari gelar yang
disandangnya: mpu, bukan dyah. Sebagai seorang biasa, Gajah Mada mempunyai
kelebihan dari orang kebanyakan.
Pokok-pokok fikirannya, tindakan
dan kebijakannya melebihi siapapun termasuk para bangsawan sendiri. Itulah
sebabnya Gajah Mada sering dipersamakan sebagai putera dewa.
Sebagai seorang petinggi
kerajaan, Gajah Mada mampu bertindak melebihi pejabat lainnya. Kebangsawanannya
tumbuh dari perilaku dan kinerjanya sendiri.
Dialah bangsawan yang sebenarnya,
bukan karena keturunan. Pengabdiannya yang luar biasa kepada negara membuatnya
bertindak sangat tegas dan tanpa pandang bulu.
Karena terlahir sebagai rakyat
biasa, membuatnya sangat perduli dengan kepentingan dan kesejahteraan rakyat
banyak. Masa kecilnya di desa terpencil di kaki gunung Kawi-Arjuna telah
membentuknya menjadi pemuda perkasa dan tahu melihat penderitaan rakyat
banyak.
Keangkuhan para bangsawan yang
selama ini telah menambah beban penderitaan rakyat kebanyakan menjadi tolok
ukur
baginya memerangi para bangsawan yang hanya mengandalkan darah keturunan tanpa
pernah melahirkan gagasan memajukan negara untuk memakmurkan bangsa.
Itulah sebabnya, kemunculan Gajah
Mada nyaris tidak disukai oleh para bangsawan istana, yang pada umumnya sudah
mapan dengan kehidupannya. Yang nyaris tidak lagi kenal arti susah, hidup
baginya adalah kemewahan dan pemanjaan ragawi yang sudah menyatu dengan aliran
darahnya. Kebanggaan menyandang gelar dan kepangkatan, biasa dilayani bukan
melayani, disembah dan selalu diangkat sampai lupa bumi tempatnya berpijak.
Bergelimang harta sampai lupa penggunaannya, kalau perlu pelana kudanya
terbuat
dari sutera Cina dan disalut dengan emas murni di tepinya.
Dengan ketegaran dan kepercayaan
dirinya, Gajah Mada merubah semua kebiasaan dan kebijakan yang selama ini hanya
mementingkan para pejabat dan bangsawan istana.
Falsafah Bhinneka Tunggal Ika,
tan hana dharma mangrwa, menjadi inspirasi besar bagi Gajah Mada untuk
membangun
Majapahit. Dengan dasar falsafah persatuan dan kesatuan, seluruh masyarakat
`dipaksa' memikirkan orang lain. Tidak berlomba untuk saling
menjatuhkan.
Para raja dibuatnya bukan
penguasa mutlak. Di atas raja masih ada raja. Sampai Raja Majapahit di pusat
kerajaan tanpa sadar dibatasi oleh kebijakan struktural dengan terbentuknya
Dewan Sapta Prabhu yang terdiri dari tujuh orang keluarga raja-diraja (setelah
tahun 1354 dewan ini beranggotakan sembilan orang, bukan tujuh lagi, dengan
Ketua Dewan Sri Rajasanagara sendiri. Tapi dewan ini tetap dinamakan Bhatara
Sapta Prabhu).
Untuk mewujudkan itu, Gajah Mada
memulai dari dirinya sendiri, sesuai dengan isi sumpah agungnya itu, bahwa dia
tidak akan bersenang-senang, beristirahat menikmati pensiun, sebelum Nusantara
Raya ini bersatu.
Sejarah mencatat, baru Gajah
Mada, seorang patih yang bertempat tinggal di luar kompleks istana. Dia lebih
memilih hidup dan tinggal bersama rakyat di luar tembok istana. Baru Gajah
Mada
yang hati, jiwa dan wadagnya betul-betul cerminan rakyat jelata. Kesederhanaan
dan kecintaannya kepada rakyat bukan hanya dongeng, tetapi tertulis di atas
lempengan tembaga dan batu.
Para pujangga dan para seniman
besar sejak zaman itu tidak henti-hentinya membuat pujian kepada orang yang
tidak pernah sekalipun terlintas akan mengadakan makar, subversi dan
penggulingan pemerintahan padahal dia dapat melakukan itu. Baginya raja atau
ratu adalah orang yang harus dihormati dan dijunjung tinggi selama mereka duduk
di atas tahta rakyat, bukan tahta kebangsawanan.
Beberapa karya sastra besar
menuliskan bahwa Gajah Mada adalah keturunan dewa Brahma. Hal ini terjadi
karena
para pujangga tidak sanggup lagi menahan perasaan hatinya melihat betapa mulia
dan agungnya perilaku dan akhlak Gajah Mada selama memimpin bangsa besar
ini.
Para Pujangga itu tidak dapat
menerima apabila melihat kenyataan bahwa Gajah Mada hanya seorang rakyat jelata
yang lahir di tengah masyarakatnya, bahkan tak seorangpun tahu siapa orang
tuanya, dimana rumah masa kecilnya, selain diketahui setelah dewasa Gajah Mada
mengabdi di Majapahit sebagai seorang prajurit rendahan, yang kemudian diangkat
sebagai bekel, di kesatuan Bhayangkara.
Ketika jabatan Mahapatih
Amangkubumi mulai dipegangnya, Gajah Mada memilih tinggal di luar kompleks
istana. Dia takut lupa pada rakyat. Dia takut lupa darimana dia berasal. Dia
takut lupa bahwa dirinya adalah rakyat jelata.
Dia takut lupa bahwa rakyatlah
yang membesarkannya dan memberikannya inspirasi tentang pentingnya persatuan
dan
kesatuan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran.
Di sebelah timur laut pasar
kotaraja, Gajah Mada mendirikan rumahnya bersebelahan dan berdekatan dengan
masyarakat pada umumnya. Dengan begitu, dia dapat langsung merasakan keinginan,
kebahagiaan dan penderitaan rakyatnya. Dia menyatu dengan rakyat.
Segala hal yang berhubungan
dengan rakyatnya, langsung dirasakan, bukan karena laporan dari bawahannya yang
kadang-kadang belum tentu benar. Pada hakekatnya kita lah rakyat itu sendiri.
Itu yang sering dikatakan kepada bawahannya. Untuk membahagiakan rakyat dan
memajukan negara ini, jadilah rakyat.
Salam Nusantara..!
Renny Masmada
http://rennymasmada.wordpress.com
--- End forwarded
message ---
[Non-text portions of this message have been removed]