--- In [email protected], Anwar Djaelani <anwar_...@...> wrote: "Minat Baca Indonesia Terendah”. Jika kita klik http://www.equator-news.com/index.php?mib=berita.detail&id=12099 (15 Desember 2009), kita bisa baca hal yang sangat memrihatinkan (untuk tak menyebut memalukan) itu. Bahwa, berdasarkan hasil survei Unesco, minat baca masyarakat Indonesia paling rendah di Asean. Sementara, menurut survei yang dilakukan terhadap 39 negara di dunia, Indonesia menempati posisi ke-38. Setelah berseru “masya-Allah!”, lalu apa yang bisa kita kerjakan? m. anwar djaelani [Non-text portions of this message have been removed] --- End forwarded message --- Selasa, 15 Desember 2009 , 14:28:00 Minat Baca Indonesia Terendah Sejumlah warga membawa lampu teplok saat berunjukrasa di depan Istana Negara Jakarta, kemarin. Mereka mengkritik krisis energi di Indonesia dan pemadaman yang dilakukan PLN. Selain mengganggu pekerjaan rumah tangga, pemadaman tersebut juga dinilai menghambat siswa belajar. JAKARTA. Minat dan kemampaun baca masyarakat Indonesia cukup memprihatinkan. Berdasarkan hasil survei Unesco, minat baca masyarakat Indonesia paling rendah di Asean. Sementara, menurut survei yang dilakukan terhadap 39 negara di dunia, Indonesia menempati posisi ke-38. Plt Perpustakaan Nasional RI Liliek Sulistyowati menyebut, ada banyak faktor yang menyebabkan budaya atau minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Antara lain, sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat pelajar atau mahasiswa harus membaca buku, mencari, dan menentukan informasi lebih dari sumber yang diajarkan di sekolah. Faktor lain, kata Liliek, guru atau dosen jarang memberi tugas yang membuat anak didik harus mencari informasi di perpustakaan. Budaya baca juga kurang melekat pada masyarakat Indonesia. “Kita lebih terbiasa mendengar orang tua ataupun kakek nenek kita bercerita dan mendongeng ketimbang membaca buku cerita," terangnya, kemarin (14/12) di Perpustakaan Pusat Nasional. Disamping itu, lanjut Liliek, pengaruh budaya dengar, tonton, dan media elektronik yang berkembang pesat. Kebiasaan orang tua di rumah juga belum memotivasi anak-anak untuk gemar membaca. " Ditambah lagi kurang tersedianya bahan bacaan yang sesuai dengan usia anak-anak." imbuhnya. Liliek menambahkan, selain itu sebagian besar masyarakat Indonesia menghabiskan waktunya untuk bekerja, sehingga tidak tersedia waktu untuk membaca. "Hanya kalangan tertentu saja yang benar-benar mencurahkan waktunya untuk membaca dan menulis. Seperti wartawan, guru, dosen, peneliti dan pustakawan. Itupun dalam jumlah yang terbatas," ujarnya. Kurang tersedianya buku-buku yang berkualitas dengan harga yang terjangkau juga menjadi faktor penyebab rendahnya minat baca. Hal itu diperparah minimnya perpustakaan di tempat-tempat umum yang mudah dijangkau. Juga kurang memadainya koleksi, fasilitas, dan pelayanan yang ada. Termasuk, tidak meratanya penerbitan dan distribusi buku ke berbagai daerah. “Umumnya, buku-buku terbaru dan bermutu lebih terkonsentrasi di kota-kota besar,” bebernya. Duta Baca Indonesia Tantowi Yahya mengatakan, selain sekolah sebagai institusi yang mengajarkan membaca, peran ibu dinilai amat berpengaruh. Seorang ibu, kata dia, memiliki waktu jauh lebih banyak dibandingkan ayah. Anak juga lebih dekat dengan ibu. “Ibu punya kekuatan luar biasa untuk membentuk anak. Kalau ibu menggunakan peranannya dalam konteks memberikan contoh yang baik bagi anaknya, seperti membaca, Insya Allah anak akan menjadi pembaca," terangnya. Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menegaskan, budaya membaca tidak bisa diselesaikan hanya dengan UU. Tetapi, kata Nuh, harus dikembangkan melalui kesadaran kolektif bagi masyarakat agar gemar membaca. "Kita itu kekurangan pada kolektivitasnya. Ada orang yang sangat gemar membaca di Indonesia, sangat banyak. Tetapi banyaknya itu belum cukup menggerakkan dibandingkan dengan populasi penduduk kita. Tidak ada sekian persen dari jumlah populasi," sebutnya. Karena itu, kata Nuh, perlu adanya kesadaran kolektif gemar membaca. Kepala Sub Direktorat Kemitraan Direktorat Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) Depdiknas Pahala Simanjuntak menambahkan, pemerintah memberikan dukungan bagi taman bacaan masyarakat (TBM), termasuk untuk merintis yang baru. "Kami akan terus menambah taman bacaan," terangnya. Termasuk, bantuan lain. Ada dua jenis bantuan yang diberikan. Pertama adalah TBM” Keaksaraan. Bantuan sebanyak Rp 15 juta diberikan untuk membeli buku-buku yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Kedua, TBM penguatan minat baca sebanyak Rp 25 juta. TBM ini untuk mengembangkan minat baca” dalam rangka membudayakan gemar membaca. "Khususnya menumbuhkan minat baca anak putus sekolah," ujarnya. (kit) [Non-text portions of this message have been removed]
