Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal

--- In [email protected], "harman St.Idris"
<harmanira...@...> wrote:

kayaknya cukup menarik buku ini, mungkin sekalian unjuk kebolehan
setelah rada cuekin krn ada Densus anti teror 88.

wassalam
harman

----- Forwarded Message ----
*From:* Indra J Piliang pi_li...@...


**  http://www.cenderaw asihpos.com/ detail.php?
ses=&id=1627<http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?ses=&id=1627>

12 Januari 2010 09:39:52

Buku Kopassus untuk Indonesia; Rahasia Pasukan Komando

Menyamar Pedagang Durian hingga Sniper Ambon

Isi buku Kopassus untuk Indonesia yang diluncurkan Kopassus TNI-AD tak
sembarangan. Buku dengan desain gaul itu membuka rahasia dapur korps
terbaik
ketiga di dunia itu, termasuk operasi intelijen bawah tanah. Seperti
apa?
RIDLWAN HABIB, Jakarta

WANITA itu bukan tentara. Gaya pakaiannya juga santai. Turun dari mobil
New
Honda City metalik, dia disambut hormat oleh prajurit Kopassus. "Mbak
Esti
ini sudah kami anggap bagian dari keluarga," kata Letkol Farid Makruf
yang
menyambut Esti di Markas Komando Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur
Kamis
lalu (7/1).

Siang itu suasana sekitar Kesatrian Kopassus agak lengang. Sebab, pada
jam
dinas, semua prajurit sibuk dengan tugas masing-masing. "Sebelum
mengenal
mereka, saya benar-benar awam dengan dunia militer," kata Esti yang
sengaja
berkunjung ke Kopassus untuk menemui Jawa Pos (Cenderawasih Pos Group).

Nama lengkapnya Erastiani Asikin Natanegara. Bersama penulis lain, Iwan
Santosa, mereka diberi kepercayaan penuh oleh Komandan Jenderal (Danjen)
Kopassus untuk menulis buku yang mulai beredar tiga minggu lalu itu.

"Buku ini adalah buku resmi Kopassus pertama yang ditulis sipil dan
untuk
umum," kata Letkol Farid yang ikut berbincang. Farid adalah alumnus
Akmil
1991 yang juga menjadi salah satu narasumber buku. Mantan kepala staf
pribadi (Kaspri) Danjen Kopassus itu juga menjadi anggota tim penyusun
buku
bersama 16 orang lainnya.

Menurut Farid, Kopassus sengaja meminta orang luar agar tulisannya
objektif.
"Mbak Esti ini mulai nul puthul. Kita memang buka apa adanya. Kalau mau
ditulis jelek, ya tulis saja," kata perwira asal Pulau Madura itu.

Isi buku setebal 345 halaman itu memang blak-blakan. Misalnya, cerita
seorang anggota Sandhi Yudha Kopassus yang bertugas sebagai intelijen
Kopassus saat masa darurat militer di Aceh pada 2003. Sersan Badri (nama
samaran, Red) bertugas untuk masuk ke lingkaran utama Gerakan Aceh
Merdeka.

Untuk menyukseskan misinya, Badri harus menyamar sebagai pedagang durian
dari Medan. Berselang setahun, sendirian, Badri menembus akses untuk
mendapat kepercayaan anggota GAM. "Saat paling sulit, saat dia diminta
pimpinan GAM melindungi istrinya dari kejaran pasukan TNI. Selama tiga
bulan, Badri harus mencari tempat kos yang aman dari kejaran TNI yang
sebenarnya temannya sendiri," katanya.
Agar jaringan intelijen sempurna dan tidak bocor, Badri tidak pernah
diketahui identitasnya sebagai anggota Kopassus kecuali oleh beberapa
pimpinan operasi. Meski menyamar sebagai pedagang durian, Badri
menggunakan
kesempatan itu untuk menyabot senjata-senjata GAM. "Misalnya, alat
pembidik
pada senapan-senapan GAM sengaja digeser agar tembakan mereka melenceng
atau
tidak tepat sasaran," katanya.
Kisah lain yang juga sengaja dibuka Kopassus adalah tim Kopassus yang
bertugas mengamankan kerusuhan Ambon pada Januari 2001. Mereka bertugas
di
tengah-tengah kelompok Merah (Nasrani) dan kelompok Putih (muslim).
Namun,
ternyata, sumber kerusuhan adalah sniper (penembak jitu) gelap yang
memprovokasi serangan.

Narasumber dalam kisah itu adalah Wakil Asisten Intelijen Kopassus
Letkol
Nyoman Cantiasa yang saat itu masih berpangkat kapten. Kebetulan Nyoman
pernah menceritakan kisahnya secara singkat kepada Jawa Pos beberapa
bulan
lalu saat tak sengaja bertemu di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Dalam buku itu, dikisahkan bahwa Nyoman memerintahkan beberapa anggota
tim
untuk mencari asal sniper yang menembak di malam hari. Ternyata, para
perusuh itu bersembunyi di Hotel Wijaya II Ambon. Mereka juga menyadap
saluran HT pasukan Nyoman. Bahkan, kata sandi Nyoman saat itu yakni
Arjuna 2
juga diketahui.

Berdasar penghitungan matang, Nyoman akhirnya memerintahkan tim dengan
seizin Pangdam Pattimura (saat itu dijabat Mayjen M. Yasa) menyerbu
Hotel
Wijaya. Terjadi baku tembak selama dua jam sebelum seluruh sniper
dilumpuhkan. Mereka berhasil menyita beragam senjata, seperti AK 101, AK
102, SKS, MK1, SS1 , M16, dan US Karabine 30 mm.

Selain Aceh dan Ambon, Kopassus membuka kisah di balik operasi-operasi
di
Papua, Timor Leste (dulu Timor Timur), dan berbagai lokasi lain di
Indonesia. Tidak khawatir strategi Kopassus bocor ke tangan intelijen
asing?
Menurut Farid, kekhawatiran selalu ada. "Tapi, ibarat memasak nasi
goreng.
Bumbunya tidak semua orang tahu, tapi hasilnya enak. Jadi, secara detail
teknisnya masih kami tutupi," kata Farid yang sekarang menjabat kepala
penerangan Kopassus itu.

Tanpa bermaksud sombong, kata Farid, Kopassus mempunyai kemampuan
intelijen
dan antiteror yang bisa diandalkan. "Rata-rata pembebasan sandera hanya
butuh tiga menit. Di Woyla dulu juga cukup tiga menit," katanya.

Saat ditanya tentang operasi Densus 88 di Temanggung yang butuh waktu 17
jam
untuk meringkus Ibrohim, otak peledakan Ritz-Carlton, Farid menggeleng.
"Kami tidak mau mengomentari keahlian orang lain. Cukuplah masyarakat
yang
menilai dengan buku. Kalau memang Kopassus jelek, ya, silakan dianggap
jelek. Apa pun itu kami bangga bertugas demi negara. Itu kehormatan
komando," kata perwira yang pernah dikirim ke Sierra Leone, Afrika, itu.

Masih banyak kisah lain yang ditulis Esti. Misalnya, proses perekrutan
anggota Kopassus yang ketat. Seorang prajurit yang bisa diterima
Kopassus
harus bisa berlari 12 menit dengan jarak tempuh minimal 2.800 meter.
Lalu
pull up 12 kali, push up 40 kali minimal dalam satu menit, sit up 40
kali
minimal dalam satu menit, renang dasar 50 meter dan tidak takut
ketinggian
lebih dari 15 meter.

Setelah itu mereka harus ikut seleksi psikologi dan jika lolos harus
menjalani pendidikan komando selama tujuh bulan. Pelatihan itu sangat
berat.
"Mereka punya istilah kaki tomat, yakni kaki yang melepuh karena harus
long
march dari Bandung ke Cilacap jalan kaki dengan jarak tempuh 500
kilometer
selama 10 hari dengan beban perorangan 30 kg di pundak," kata Esti.

Kisah-kisah kegalakan pelatih juga dideskripsikan. Misalnya, galaknya
Kapten
Encun di Pusat Pendidikan Kopassus Batujajar. Encun yang ahli melempar
pisau
komando itu sudah melatih spesialisasi komando 26 tahun. "Semua pohon
randu
di Batujajar tidak ada yang selamat. Semua dibabat habis untuk latihan
lempar pisau," katanya.

Kisah-kisah humanis anggota Kopassus saat bertugas di luar negeri juga
dideskripsikan. Juga saat korps baret merah itu menjadi garda depan
penanggulangan bencana alam. Wanita alumnus Sastra Tiongkok, Universitas
Indonesia itu mengaku hanya butuh tiga minggu untuk menyelesaikan
bukunya.

"Sehari saya wawancara delapan hingga 10 prajurit, mulai pangkat
terbawah
sampai jenderal," katanya. Interaksi tiga minggu itu telah mengubah
pandangannya tentang Kopassus. "Mereka orang-orang aneh yang mengidap
adrenalin junkie, yakni orang yang bekerja sangat prima dalam kondisi
stres
dan dalam tekanan tinggi," katanya.

Dia mencontohkan salah seorang bintara bernama Serka Sumardi. Orang itu
istimewa karena sudah 14 kali ditugaskan di medan operasi. Sedangkan
rata-rata prajurit yang lain hanya empat kali. Sumardi pernah sekali
ditugaskan sebagai anggota pasukan PBB di Bosnia.
"Saat saya tanya apa yang paling enak dalam penugasan, dia menjawab saat
dikirim ke Bosnia karena bisa merasakan enaknya landing (mendarat).
Ternyata
selama 14 kali terjun operasi, dia selalu dilempar ke udara dengan
parasut
dan belum pernah sekalipun naik pesawat. Ini ndeso, tapi jujur," kata
Esti
sambil melirik Farid.

Farid tertawa lepas. "Kisah-kisah seperti itu kami harap bisa menarik
minat
anak muda bergabung ke Kopassus. Kalau yang tua-tua, terus terang, kami
capek meyakinkan mereka," katanya. (*/iro) (scorpions)

--- End forwarded message ---





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke