KUMPULKANLAH KEMBALI KAPAS-KAPAS
http://www.info-lukas.blogspot.com/
Dikisahkan, ada seorang pedagang yang kaya raya dan berpengaruh di kalangan
masyarakat. Kegiatannya berdagang mengharuskan dia sering keluar kota . Suatu
saat, karena pergaulan yang salah, dia mulai berjudi dan bertaruh.
Mula-mula kecil-kecilan, tetapi karena tidak dapat menahan nafsu untuk menang
dan mengembalikan kekalahannya, si pedagang semakin gelap mata, dan akhirnya
uang hasil jerih payahnya selama ini banyak terkuras di meja judi. Istri dan
anak-anaknya terlantar dan mereka jatuh miskin.
Orang luar tidak ada yang tahu tentang kebiasaannya berjudi, maka untuk
menutupi hal tersebut, dia mulai menyebar fitnah, bahwa kebangkrutannya karena
orang kepercayaan, sahabatnya, mengkhianati dia dan menggelapkan banyak
uangnya. Kabar itu semakin hari semakin menyebar, sehingga sahabat yang setia
itu, jatuh sakit. Mereka sekeluarga sangat menderita, disorot dengan pandangan
curiga oleh masyarakat di sekitarnya dan dikucilkan dari pergaulan.
Si pedagang tidak pernah mengira, dampak perbuatannya demikian buruk. Dia
bergegas datang menengok sekaligus memohon maaf kepada si sahabat "Sobat, aku
mengaku salah! Tidak seharusnya aku menimpakan perbuatan burukku dengan
menyebar fitnah kepadamu. Sungguh, aku menyesal dan minta maaf. Apakah ada yang
bisa aku kerjakan untuk menebus kesalahan yang telah kuperbuat?"
Dengan kondisi yang semakin lemah, si sahabat berkata, "Ada dua permintaanku.
Pertama, tolong ambillah bantal dan bawalah ke atap rumah. Sesampainya di sana,
ambillah kapas dari dalam bantal dan sebarkan keluar sedikit demi sedikit."
Walaupun tidak mengerti apa arti permintaan yang aneh itu, demi menebus dosa,
segera dilaksanakan permintaan tersebut. Setelah kapas habis disebar, dia
kembali menemui laki-laki yang sekarat itu.
"Permintaanmu telah aku lakukan, apa permintaanmu yang kedua?"
"Sekarang, kumpulkan kapas-kapas yang telah kau sebarkan tadi," kata si sahabat
dengan suara yang semakin lemah.
Si pedagang terdiam sejenak dan menjawab dengan sedih, "Maaf sobat, aku tidak
sanggup mengabulkan permintaanmu ini. Kapas-kapas telah menyebar ke mana-mana,
tidak mungkin bisa dikumpulkan lagi."
"Begitu juga dengan berita bohong yang telah kau sebarkan, berita itu takkan
berakhir hanya dengan permintaan maaf dan penyesalanmu saja," kata si sakit.
"Aku tahu. Engkau sungguh sahabat sejatiku. Walaupun aku telah berbuat salah
yang begitu besar tetapi engkau tetap mau memberi pelajaran yang sangat
berharga bagi diriku. Aku bersumpah, akan berusaha semampuku untuk memperbaiki
kerusakan yang telah kuperbuat, sekali lagi maafkan aku dan terima kasih
sobat." Dengan suara terbata-bata dan berlinang air mata, dipeluklah
sahabatnya.
Netter yang luar biasa.…
Seperti kata pepatah mengatakan, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
Kebohongan tidak berakhir dengan penyesalan dan permintaan maaf. Seringkali
sulit bagi kita untuk menerima kesalahan yang telah kita perbuat. Bila mungkin,
orang lainlah yang menanggung akibat kesalahan kita.
Kalau memang itu yang akan terjadi, lalu untuk apa melakukan fitnah yang hanya
membuat orang lain menderita. Tentu… jauh lebih nikmat bisa melakukan sesuatu
yang membuat orang lain berbahagia.
Salam sukses luar biasa!
Andrie Wongso
Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka
dari email atau jaringan sosial Anda sekarang!
http://id.messenger.yahoo.com/invite/
[Non-text portions of this message have been removed]