Pribadi to do, to have, atau to be?
 
http://www.info-lukas.blogspot.com/
 
"Kegembiraan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai. Oleh 
karenanya, kita membagikan cinta bagi orang lain." (Victor Hugo) 
Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus bertambah. 
Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya. Saat masuk fase dewasa, orang 
memasuki tiga tahapan kehidupan. 
Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do). Ada saat 
memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have). Ada yang giat mencari makna 
hidup (to be). Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan proses 
itu. 
·  Fase pertama, fase to do. Pada fase ini, orang masih produktif. Orang 
bekerja giat dengan seribu satu alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, 
membanting tulang, sampai mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan 
buah yang lebih baik. Ini sangat menyedihkan. 
Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan. Hal itu tergambar dalam 
cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan di tepi danau. Segera ia 
meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung dengan semangat. Sampan 
memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir danau. Orang itu sadar, 
sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah tiang. 
Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah bekerja banyak. Tapi, ternyata tidak 
produktif. Seorang kolega memutuskan keluar dari perusahaan. Ia mau membangun 
bisnis sendiri. Dengan gembira, ia mempromosikan bisnisnya. Kartu nama dan 
brosur disebar. Ia bertingkah sebagai orang sibuk. 
Tapi, dua tahun berlalu, tapi bisnisnya belum menghasilkan apa-apa. Tentu, 
kondisi ini sangat memprihatinkan. Jay Abraham, pakar motivasi bidang keuangan 
dan marketing pernah berujar, "Banyak orang mengatakan berbisnis. Tapi, tidak 
ada hasil apa pun. Itu bukanlah bisnis." Marilah kita menengok hidup kita 
sendiri. Apakah kita hanya sibuk dan bekerja giat, tapi tanpa sadar kita tidak 
menghasilkan apa-apa? 
·  Fase kedua, fase to have. Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada 
bahaya, orang akan terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. 
Orang terobesesi mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya 
segunung, tapi dia tidak mampu menikmati kehidupan. 
Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan dan 
kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang sudah 
dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini. 
Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-sentra 
perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk 
mengkonsumsi banyak barang. 
Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang 
mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang 
mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun 
spiritual. 
Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan diri 
bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan terletak 
pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka. 
Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di balik 
kesuksesannya. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang memburuk. "Andai 
saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa banyak air mata yang 
menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita tentang kesepian batin 
saya...," katanya. 
Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi, ini 
seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus. Akhirnya, kita 
terobsesi untuk minum lebih banyak lagi. 
·  Fase ketiga, fase to be. Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan 
mengumpulkan, tapi juga memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri untuk 
menjadi pribadi yang semakin baik. 
Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena masa kecilnya cukup 
miskin. Saat umur menyusuri senja, ia sudah memiliki semuanya. Ia ingin 
mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak klinik dan posyandu di 
desa-desa miskin. 
 
Memaknai hidup 
Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang 
pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk 
memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu. 
Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita menjadi 
pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan apa yang 
bisa kita berikan bagi orang lain. 
Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi banyak 
orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success to Significant 
mengatakan "Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah apa yang 
kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?" 
Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, ia 
menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut 
nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum papa India . 
Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan dengan 
bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih matang, lebih bermakna 
dan berkontribusi!
             oleh : Anthony Dio Martin 


      Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail 
ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke