http://groups.yahoo.com/group/smilingheart/message/2372
yenny win <yenny...@...>
yennywin
Fw: Selama Otak Aktif, Cinta Tidak Akan Mati
----- Forwarded Message ----
From: moren momo <mo...@...>
To:
Marliana Lie <li...@...>; yenny...@...; novi_natalia87
<novi_natali...@...>; cantique_lili...@...;
namaemailnya_ad...@...; Stepfanny Wahono <stepfa...@...>;
hendrahadiwib...@...; ferrysapu...@...
Sent: Fri, March 26, 2010 9:07:13 AM
Subject: Selama Otak
Aktif, Cinta Tidak Akan Mati
Selama Otak Aktif, Cinta Tidak Akan Mati
Bernstein, Pasangan suami istri Bernstein rutin makan berdampingan,
jalan bergandengan tangan serta selalu mengawali dan menutup hari
dengan kata 'I Love You'. Apa yang membuat pasangan itu tetap romantis?
Ternyata semuanya berawal dari otak.
Pasangan asal Sydney yang sudah menikah 18 tahun itu masih sama
bergairahnya dengan saat pertama kali bertemu. Peneliti mencoba mencari
tahu apa yang membuat pasangan tetap intensif dalam berhubungan dengan
melakukan studi terhadap 16 pasangan dengan rata-rata usia perkimpoian
20 tahun.
Dengan menggunakan alat MRI (Magnetic Resonance Imaging), peneliti dari
Stony Brook University menemukan kesamaaan antara bagian otak pasangan
yang sudah menikah bertahun-tahun dengan pasangan yang baru jatuh
cinta. Ternyata bagian otak itu masih sama aktifnya, artinya cinta yang
ada di otak tidak mati.
"Banyak yang berasumsi bahwa cinta akan berkurang dan habis dengan
bertambahnya waktu, tapi para partisipan yang mengikuti survei ini
membantahnya. Cinta tidak pernah mati bagi mereka," ujar psikolog dan
ketua studi Arthur Aron, seperti dilansir Thirdage, Senin (14/12/2009).
Apa yang membedakan cinta yang lekang oleh waktu dan cinta yang bertahan lama?
Menurut Aron, kuncinya ada pada cara berpikir di otak. Pasangan
harmonis selalu berpikiran ingin tampil menarik dan terbaik di depan
pasangannya.
Dalam pertemuan tahunan Society for Neuroscience di Washington di
Amerika dilaporkan bahwa faktor yang membuat cinta terus konsisten
dalam sebuah hubungan ternyata adalah mindset di otak.
"Setelah melakukan scan pada otak pasangan yang harmonis, tidak
ditemukan rasa cemas atau ketakutan berlebihan akan kehilangan
pasangannya. Mereka justru punya sikap tergila-gila yang lebih rendah
daripada pasangan lain yang kurang harmonis," jelas Profesor Bianca
Acevedo dari Albert Einstein College of Medicine.
Peneliti justru menemukan bahwa sikap penghargaan dan motivasilah yang
sangat aktif berkembang pada bagian otak para pasangan harmonis.
"Bagian otak itu sama aktifnya saat seseorang menggunakan kokain, tapi
berbeda dengan bagian otak yang berkaitan dengan rangsangan seksual,"
jelas Aron.
Keith Davis, profesor psikologi dari University of South Carolina
mengatakan bahwa intensitas emosi adalah investasi yang paling besar
dalam sebuah hubungan. Jadi jika ingin awet dalam menjalin cinta,
jangan pernah andalkan faktor fisik atau dorongan seks semata.
"Pasangan yang tetap harmonis selalu merayakan kesuksesan bersama,
melakukan hal baru bersama, mengomunikasikan segala sesuatu, saling
menenangkan dan memotivasi. Itu kuncinya. Selama otak memprogram hal
itu, cinta tidak akan pernah mati," kata Davis.
[Non-text portions of this message have been removed]