http://groups.yahoo.com/group/fadhil/message/1719
From: zulkaida akbar 
<zulkaida_ak...@...>Sender: [email protected]: Sun, 16 May 2010 
10:54:13 +0800 
(SGT)To: <[email protected]>ReplyTo: [email protected]: [IA-ITB]
 Kita Hanya Sedikit Lupa...
 Bismillah… sejarah yang saya tulis disini masih perlu diverivikasi 
kebenarannya.

Saya pernah mendengar, bahwa untuk melakukan rekayasa sosial dibutuhkan tiga 
hal :Ide,tokoh dan gerakan yang massif. Lantas, idea atau desire apa yang harus 
kita tanamkan untuk melecutkan kita semua menjadi bangsa yang lebih beradab?

Kita semua tahu bahwa salah satu kunci untuk menjadi manusia sukses adalah 
kepercayaan diri, dengan demikian sebuah bangsa yang ingin maju tentunya juga 
harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Namun, ketika sebuah pertanyaan 
sederhana saya lontarkan kepada sekelompok mahasiswa ITB :” Seperti apakah 
bangsa Indonesia menurut kamu?” sebagian besar dari mereka menjawab :Korup, 
Pemalas, Dilecehkan dunia Internasional (pecundang) dan sebagainya.. Ibarat 
manusia, hal ini mengisyaratkan tak hanya kepercayaan diri sebagai sebuah 
bangsa yang rendah.. malah menurut saya sudah menjurus ke arah depresi. Apakah 
Benar bahwa bangsa kita demikian buruknya?

Apakah benar bahwa bangsa kita pecundang? 
Alkisah.. pasukan Gurkha adalah pasukan sewaan (orang2 nepal, india) yang 
terkenal garang dan hebat. Mereka diiringi banyak mitos, salah satunya adala 
pisau andalan mereka yang konon bisa membelah orang. Saat perang Malvinas 
(inggris vs argentina), menyerahnya argentina diindikasikan salah satunya karna 
ketakutan terhadap Gurkha, dan dalam perang tersebut tak ada satupun Gurkha 
yang mati. Namun.. sekian puluh Gurkha mati di Surabaya.. Oleh siapa? Oleh 
prajurit pilihankah? Bukan.. mereka mati oleh pemuda2 tanggung seusia saya.. 
arek-arek Surabaya yang hanya bermodalkan bambu runcing dan hasrat untuk tetap 
merdeka.. 

Dalam buku Perang Eropa dipertontonkan kehebatan Churcill dan pasukan Inggris.. 
dan konon katanya selama PD 2 tak satupun Jendral Inggris yang mati. Namun, 
seorang Jendral Inggris mati di Surabaya.. lagi-lagi oleh sekelompok pemuda 
yang hanya bermodalkan bambu runcing dan hasrat untuk tetap merdeka. Kemarahan 
Inggris membawa malapetaka bagi Surabaya yang dihujani serangan dari darat, 
laut dan udara.. bayangkan dalam kondisi sedemikian riuh, ada saja yang nekat 
memanjat atap hotel Yamato untuk sekedar mengganti merah,putih, biru menjadi 
merah-putih…

Kita bisa menelusuri sejarah perang lebih lanjut.. saat sebuah Negara menyerah 
kalah.. biasanya masih menyisakan sekian banyak pasukan dan senjata (cek di 
buku perang eropa), jarang sekali sampai habis-habisan (puputan). Namun di 
Nusantara ini.. pernah terjadi pertahanan harga diri hingga meletus perang 
puputan.. Setidaknya ada di Bali, dipimpin oleh I Gusti ktut Jelantik dan di 
Aceh waktu mempertahankan benteng kutoreh… sebuah hasrat merdeka yang 
diwujudkan dalam perang habis-habisan tanpa sisa dengan mengorbankan jiwa dan 
raga…

Jadi apa benar kita adalah bangsa yang pecundang? Tidak.. kita adalah bangsa 
yang pemberani.. kita hanya sedikit lupa dengan masa lalu kita.

Apakah benar bahwa kita adalah bangsa yang korup? Alkisah.. pernah ada di 
Nusantara kita seorang Ratu Sima dari Kalingga.. Beliau terkenal sebagai 
seorang Raja yang adil, jujur dan tegas.. pemerintahannya bersih. Hal ini 
mengundang penasaran seorang dari Arab yang ingin mengujinya dengan meletakan 
emas permata disana. Tak satupun rakyat yang berani menyentuhnya sampai suatu 
ketika sang pangeran calon pewaris tahta menyentuh emas permata tersebut. Tanpa 
ampun, ratu sima menghukum buah hatinya tersebut, salah satu versi menyebut 
sang pangeran dipotong kakinya..

Jadi apa benar kita adalah bangsa yang korup? 
Tidak.. setidaknya pernah terjadi di Nusantara kita ketika hukum ditegakan, 
keadilan diwujudkan.. mungkin kita hanya sedikit lupa dengan masa lalu kita…

Apakah kita adalah bangsa yang bodoh?
 Alkisah.. Sastra Lisan Bujang Tan Domang dari Riau mengisyaratkan keramahan 
ekologis sebelum kita mengenal terminology Sustainable Development,, Jendral 
Sudirman membuat linglung Belanda dengan Inovasinya terhadap strategi perang 
Inggris saat menusuk Birma (kita mengenalnya sebagai Gerilya), Dengan bantuan 
Laksamana Nala, Gadjahmada dalam waktu singkat berhasil mengubah pola 
pertahanan yang bersifat continental menjadi berbasis maritim,, dan 
sebagainya.. kita bukanlah bangsa yang bodoh.. kita hanya sedikit lupa dengan 
masa lalu kita…

Kembali ke syarat seorang manusia bisa sukses.. saya kira, semua training 
motivasi mensyaratkan kepercayaan diri dan mimpi.. Jadi, kepada kaum muda.. 
mari kita ubah cara pandang kita terhadap bangsa kita,, berpikirlah positif.. 
kita adalah bangsa yang terhormat.

Kita pun membutuhkan strong desire,,vladmir putin bersama rekan-rekan eks KGB 
memiliki desire “The Great Rusia”. Kaum Yahudi memendam desire “tanah yang 
dijanjikan”.. Korea berkata :”Baja..Baja..Baja.. Kalahkan Jepang”. Lantas apa 
yang harus menjadi Desire kita?

Andaikan kita adalah bangsa yang nakal.. untuk menghancurkan Singapura dan 
Malaysia cukup dengan membakar beberapa pulau terluar.. mereka akan sesak napas 
karna asap.. Cukup dengan memasang perompak atau ranjau di Laut untuk 
menghancurkan perekonomian dunia karna perairan kita sangat ramai digunakan 
sebagai jalur pengiriman barang (termasuk supply minyak china)..menghancurkan 
kalimantan dan papua sangat mengganggu kesetimbangan iklim global. . Bahwa 
Indonesia memegang peranan kunci dalam keseimbangan tatanan global, bisa 
dijadikan titik pijak untuk menemukan desire kita.. karna kita bukanlah bangsa 
yang nakal...

Zulkaida Akbar

Fi 03


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke