kalau habis baca artikel ini...kadang berpikir...apa salah ya jadi orang IT he 
he hebiasa, rumput tetangga selalu lebih hijau...

http://groups.yahoo.com/group/Tauziyah/message/21687
Morry Infra <morry.in...@...>morry.in...@... 
---------- Forwarded message ----------
From: AMIR syarif HIDAYATULLAH 
Date: 2010/5/17


Kisah Pedagang Gorengan Berlaba 90-120JT
Penjual makanan ini dikenal oleh orang Bandung dengan dua suku kata; 
Gorengan Cendana. Sebuah tenda kaki lima menjual pisang, nanas, combro dan 
bala-bala goreng, dengan letaknya di Jalan Cendana. Apakah yang membuatnya 
istimewa? 
"Kulit gorengannya garing dan bikin ketagihan. Rasanya khas jadi nggak 
bosen-bosen," tutur Wiwi (22), seorang pembeli menuturkan pengalamannya. 
Yusuf Amin (53) pria digambar disamping, dikenal sebagai pemilik Gorengan 
Cendana, mengatakan rahasia gorengan buatannya memang sengaja dibuat kering 
dan warnanya agak kecokelatan. Makanannya memang lebih pas diwaktu masih 
hangat. Tapi, kata Yusuf, Gorengan Cendana dalam keadaan dingin pun akan 
tetap nikmat. [detikbandung] 
Yah kisah tentang Pak H.Yusuf Amin yang akan saya coba berbagi untuk para 
pembaca. Yusuf Amin (54). Pemuda asal Cirebon (21) yang tidak lulus SD 
menikah dengan gadis yang bernama Sumarni (14), dengan hanya bermodalkan 
tekad Yusuf Amin muda terusberjuang mencari sesuap nasi, untuk menghidupi 
sang istri tercinta. 
Ketika sang Istri mengandung, sawah di daerahnya banyak yang kering karena 
kemarau. Yusuf yang sehari-hari membantu orang tuanya yang sebagai buruh 
tani pun menganggur. Tak tahan menganggur, Yusuf pun memutuskan untuk 
merantau ke Bandung pada tahun 1975. Dengan bekal Rp. 500 untuk ongkos naik 
bis, ia akhirnya pergi ke Bandung untuk mencari nafkah bermodal doa dari 
istri, mertua dan orang tuanya."Saya pertama ke Bandung minta restu orang 
tua, pidua'na (bahasa sunda artinya meminta doanya) supaya hidup saya 
berkah. Waktu itu saya tidak minta harta. Itu mungkin dinamakan rejeki 
berkah. Pendapatan sedikit, tapi cukup untuk yang lain. Apalagi pendapatan 
banyak" kata Yusuf kepada tabloid al hikmah. 
Berawal dari berjualan skoteng di Bandung, ia menginap di rumah kakak 
sepupunya di Cihaurgeulis. Mulai seusai shalat isya sampai jam 2 malam Yusuf 
pun mulai menjajakan dagangannya dari rumahnya sampai Gegerkalong. Saat itu 
udara terasa sangat dingin di Bandung, Yusuf terus bersemangat guna 
membiayai istrinya yang sedang hamil. Terus teringat dipikirannya untuk 
terus berjualan demi membahagiakan istrinya. Rupiah demi rupiah dia simpan 
di celengan kalengnya. Hingga pada 25 Agustus 1975 lahirlah seorang bayi 
laki-laki buah cinta Yusuf dengan Istrinya, perjuangan 20 hari berjualan 
sekoteng akhirnya dapat membiayai persalinan istrinya. 
Saat anaknya berusia 8 bulan, Yusuf pun membawa keluarganya ke Bandung. 
Tinggal di Haur Pancuh bekas jongko pasar yang tidak layak huni sebagai 
tempat bermukim keluarganya. Dan membeli gerobak sekoteng seharga 4500 milik 
temannya. Yusuf pun kembali berjualan sekoteng. Dua tahun berlalu ternyata 
jerih payahnya belum mampu mensejahterakan keluarganya. Ia memiliki 
cita-cita untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang perkuliahan. Tentu 
ini cita-cita yang luar biasa menurut saya, dengan kondisi pada waktu itu 
memiliki cita-cita yang hebat untuk keluarganya. 
Tahun 1977 akhirnya Yusuf beralih menjadi penjual Gorengan, dengan modal RP. 
67500 untuk membeli gerobak dengan peralatannya. Ia pun berjualan di sekitar 
Ciliwung kota Bandung. Tapi cuman bertahan sebentar ia pun pindah ke jalan 
Cendana, karena melihat ada seorang ibu yang juga menjual gorengan disana. 
Ia memulai usahanya sesudah shalat Dzuhur sampai jam 21.00. Bersama sang 
istri dan anak pertamanya yang baru berusia 2 tahun ia memulai berdagang. 
Hari pertama, Yusuf mengeluarkan modal Rp.4000 untuk belanja dan hasil 
penjualannya hanya 400. Tapi itu bukan hal yang membuat Yusuf mengeluh dan 
menyerah. Berkat ketekunan dan doa Yusuf berserta keluarganya. Penjualan 
gorengan dari hari ke hari semakin bertambah hingga akhirnya bisa mencapai 
balik modal. Yusuf dan keluarga yang selalu sholat tepat waktu dan terbiasa 
berpuasa senin kamis plus shalat sunat taklupa ia kerjakan juga. 
Mulai dari berjualan dengan sepi pembeli sampai dengan huhujanan sambil 
dorong gerobak bersama istri, anaknya di masukan ke dalam gerobak dengan 
beralaskan kardus. Ketekunan Yusuf dan keluarga akhirnya berbuah hasil pada 
1983 yusuf dapat membeli rumah sederhana dan pada tahun 1988 ia pun dapat 
berhaji berdua bersama isterinya. Sepulang dari Haji usahapun semakin laris. 
Mulai dari orang biasa sampai konglemerat pernah merasakan gorengannya, kini 
ia telah bisa menyekolahkan ke empat anaknya hingga perguruan tinggi. Dua 
orang diantaranya menjadi dokter umum. Tak lupa ia pun membantu anak 
saudaranya untuk bersekolah sampai perguruan tinggi. Rumah yusuf pun satu 
diantaranya didedikasikan untuk kepentingan umat dan sisanya untuk 
anak-anaknya serta karyawannya yang kini berjumlah 10 karyawan. Tak lupa 
kepada orang tuanya pun dibangunkan rumah dan naik haji. Sampai memberikan 
beberapa bidang tanah untuk digarap oleh saudara-saudaranya di Cirebon dan 
memperkerjakan tetangganya yang menganggur. Semua yang ia lakukan bukan 
hanya untuk dirinya pribadi tetapi untuk sesamanya dan mengharapkan ridho 
dari Allah SWT. 
Semua yang dilakukan saat Yusuf masih sangat sederhana, prinsipnya memberi 
sesuatu tidak mesti menunggu kaya. "Tekad saya, Allah ngasih rejeki. Supaya 
rejeki itu langgeng, maka harus berbagi dan memang terasa manfaatnya" ungkap 
Yusup. Sampai saat ini ia mengaku meraup keuntungan 3-4 juta perhari atau 
90-120 juta perbulan, Omset bisa naik berlipat-lipat saat bulan pernuh 
berkah tiba (Ramadhan). Itulah perjalanan Haji Yusuf Amin, pedagang gorengan 
di Cendana Bandung yang berbodal tekad yang kuat untuk membahagiakan 
keluarganya, mencari rejeki yang berkah tentunya dengan cara yang halal. 
--



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke