http://groups.yahoo.com/group/eramuslim/message/40040
Menggendong Mayat Anaknya karena Tak Mampu Sewa Mobil Jenazah Hanya ingin 
menyampaikan pesan yang mungkin belum tersampaikan”

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat 
anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.

Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger

Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 
thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan 
jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas 
dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi 
di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. 
Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM 
untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang 
muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan 
Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya 
uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya 
hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 
10.000,- per hari”. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong 
perlintasan rel KA di Cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit 
Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), 
untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring 
digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas 
terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang 
kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang 
bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 
6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil 
dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring 
di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan 
mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan 
anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan 
bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si 
kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak 
tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung 
yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL 
jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan 
menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal 
dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan 
Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi 
Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang 
ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan 
pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga 
saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal 
masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, 
akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karen atidak punya 
uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat 
Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga 
yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono 
dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar 
terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan 
aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa 
itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk 
mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP 
atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan 
untuk bangsa Indonesia”, ujarnya.

“Terkadang kita terus berpikir, apa yang ditinggalkan dari kita setelah kita 
mati…..”

sumber : http://regional. kompasiana.com/2010/07/ 28/menggendong-mayat-anaknya- 
karena-tak-mampu-sewa- mobil-jenazah/


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke