Sobat Entrepreneur,

Berikut ini saya forwardkan tulisan yang bagus untuk direnungkan bagi kita 
semua.
Smg bisa menjadi inspirasi buat kita terutama kpd keluarga kita, staff kita dan 
lain-lain.

Thanks
Pangeran Chandra Sasmita (Panca)

----- Original Message ----- 
From: Ninies Wahyudiono 
To: alumni arsitek86 ; alumni smada87 ; [EMAIL PROTECTED] 
Cc: yosodiningrat 
Sent: Tuesday, December 04, 2007 11:22 PM
Subject: [smada87] Pohon yang Kehilangan Rohnya






 
__,._,___ 



Pohon yang Kehilangan Rohnya 


cerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di 
sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan. Nah, penduduk 
primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni 
meneriaki pohon. Untuk apa? Kebiasaan ini ternyata mereka lakukan apabila 
terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong 
dengan kapak. 

Inilah yang mereka lalukan, dengan tujuan supaya pohon itu mati.
Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat 
hingga ke atas pohon itu.

Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah 
pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan 
teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan apa yang terjadi 
sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai 
mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai akan rontok dan perlahan-lahan 
pohon itu akan mati dan dengan demikian, mudahlah ditumbangkan. 

Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah 
aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan 
bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti 
pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. 

Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati. Nah, sekarang 
apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk primitif di kepulauan 
Solomon ini? O, sangat berharga sekali! Yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa 
setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda 
sedang mematikan rohnya. 

Pernahkah kita berteriak pada anak kita? Ayo cepat! Dasar leletan! Bego banget 
sih.. Hitungan mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan...  Ayo, jangan main-main 
disini. Berisik! Bising! 

Atau, pernahkah kita berteriak kepada orang tua kita karena merasa mereka 
membuat kita jengkel? Kenapa sih makan aja berceceran? Kenapa sih sakit sedikit 
aja mengeluh begitu? Kenapa sih jarak dekat aja minta diantar? 
Mama, tolong nggak usah cerewet, boleh nggak? Atau, mungkin kitapun berteriak 
balik kepada pasangan hidup kita karena kita merasa sakit hati? Cuih! Saya 
nyesal kawin dengan orang seperti kamu, tahu nggak?! Bodoh banget jadi laki 
nggak bisa apa-apa! Aduh.. Perempuan kampungan banget sih?! 

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya. Eh tolol, soal mudah 
begitu aja nggak bisa. Kapan kamu mulai akan jadi pinter? 

Ingatlah, setiap kali kita berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, 
marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk 
kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai 
berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga 
mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan, yang kita 
keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan-lahan, pada akhirnya akan membunuh 
roh yang telah melekatkan hubungan kita. 

Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk 
mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan. Coba kita perhatikan dalam 
kehidupan kita sehari-hari. Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara 
dengan orang yang jauh jaraknya, bukan?! Nah, tahukah Anda mengapa orang yang 
marah dan emosional, mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya 
beberapa belas centimeter. Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, 
meskipun secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati mereka begituuuu 
jauhnya. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak.

Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai 
serta mematikan roh pada orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan dendam, 
benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita ingin melukai, 
kita ingin membalas. 

Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada orang yang 
kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan 
teriakan-teriakan. Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin segera membunuh roh pada 
orang lain ataupun roh pada hubungan Anda, selalulah berteriak. 
Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan semakin 
dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik sebagai balasannya.

Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai tanpa harus 
berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita. 






--



--------------------------------------------------------------------------------





--------------------------------------------------------------------------------
Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage. 

 
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar 
 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Visit Your Group 
Yahoo! Kickstart
Sign up today!

Your school could

win a $25K donation.

Yahoo! Finance
It's Now Personal

Guides, news,

advice & more.

Y! Messenger
Want a quick chat?

Chat over IM with

group members.
.

<<ma_grp_160.gif>>

Kirim email ke